Latest News
Minggu, 10 April 2016

Review novel Teman Imaji – Mutia Prawitasari





Novel Teman Imaji karya Mutia Prawitasari merupakan novel yang menarik menurut saya. Satu kata yang menggambarkan cerita dalam novel ini adalah romantis! Seperti yang sudah dituliskan di sub judulnya, tentang anak kota hujan; novel yang diterbitkan oleh CV IDS ini menceritakan perjalanan tokoh dari kota hujan, kirana yang akrab sekali dipanggil kica. sosok yang unik dan aneh ini merupakan daya tarik utama dalam novel ini. Dilengkapi dengan sosok laki-laki yang lebih senior darinya abimanyu yang sering disapa banyu, dimana banyu adalah tetangga masa kecil kica yang sudah kica lupakan. Banyu merupakan sosok yang bisa memahami apa yang tidak dikatakan dengan baik oleh Kica. Kemudian mereka bertemu kembali setelah berkuliah di UI depok. Selain banyu juga ada adit, senior kica dibangku perkuliahan FE UI yang selalu mencoba memahami tingkah laku dan perasaan kica. Nah pada kedua laki-laki ini perasaan kica mengalami kebimbangan. Cerita novel yang covernya berlatar belakang lukisan gunung dan sungai ini selalu dibumbui dengan berbagai hal romantis (menurut saya) entah pertemuan mereka pertama kali, candaan mereka yang tak jauh dari kiasan dan majas, dan berbagai ungkapan yang mampu membuat baper #eeaa.

Teknik menulis mutia ini menurut saya unik, dimana disetiap halaman tidak oleh sesak oleh kalimat panjang. Namun beberapa kalimat pendek yang disambung oleh kalimat pendek dan dialog singkat, layaknya naskah suatu drama atau film. Walaupun begitu sangat mampu memacu saya untuk berimajinasi dalam setiap bagian cerita, membayangkan bagaimana jika kisah itu direalisasikan dalam tokoh nyata. Selain itu diawal bab yang menggunakan nama bulan (januari-desember) disajikan pula puisi singkat yang dalam maknanya (bagi yang peka) banyak ikon-ikon dan ilustrasi yang menghiasi setiap bagian tema cerita.

Novel yang bercover anak perempuan dan anak laki-laki yang bergandengan tangan di taman ini banyak mengajarkan kepada saya tentang makna tujuan dalam suatu tindakan, kejujuran dalam menyikapi keadaan, keberanian dalam mengambil keputusan, dan berbagai makna kehidupan lainnya, yang tak lupa sisi romantisme yang mungkin bisa kita diterapkan dalam suatu perjalanan kisah cinta (yang halal tentunya). Beberapa kutipan ayat al-qur’an dan hadist juga ditemukan dalam novel ini, walaupun novel ini bukan tergolong novel islami. Buku ini mengajarkan saya bahwa kita boleh tenggelam, tapi tidak boleh terhanyut. namun setelah membaca buku ini saya benar-benar terhanyut dalam imajinasi romantisme kica dan banyu, membayang sosok mereka, seperti apa kica, seperti apa banyu. kisah yang manis, namun sepertinya dalam dunia nyata tidak semanis itu. wajar kan? Karena buku ini memang hasil imajinasi.

Beberapa kalimat yang menarik yang saya temukan disetiap bagian cerita, seperti:
  1. Orang hebat karena karyanya, lebih hebat kalau dilihat apa adanya
  2. Lupa itu wajar, melupakan itu wajar
  3. Mencintai selalu gratis. Tapi cinta itu mahal. Supaya bisa dapat cinta, bayarnya dengan mencintai
  4. Kadang seseorang meminta bantuan bukan karena butuh atau tidak bisa melakukan sesuatu sendiri, melainkan menghargai kehadiran orang lain-yang ingin membantu
  5. Kita adalah sepotong jalan, sedang cinta itu seperti traktor. Bisa membangun, bisa juga menghancurkan, bisa juga juga Cuma lewat.
  6. Setiap hati manusia adalah hujan. Tak pernah tahu jatuh kapan. Apalagi dimana. Kita bisa saja memilih menjadi hujan sekaligus air terjun, namun ada seseorang di sana yang memilih menjadi lautan. Air terjun selalu tahu yang mana lautannya, dan bahwa ada lautan yang menunggu hujan.







  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Review novel Teman Imaji – Mutia Prawitasari Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan