Latest News
Rabu, 17 Februari 2016

Review Novel Ayat Ayat Cinta 2 – Habiburrahman El Shirazy


Ayat- Ayat Cinta 2 merupakan novel karya dari novelis islami yang terkenal di Indonesia, Habiburrahman el Shirazy yang sering disapa dengan nama Kang Abik. Novel yang diterbitkan oleh Republika Penerbit pada November 2015 ini merupakan sekuel yang melanjutkan cerita tentang tokoh pemuda bernama Fahri, yang digambarkan “sempurna”, inspiratif dan manusiawi yang sudah kita simak perjalanan hidupnya di novel sebelumnya yaitu ayat- ayat cinta. Novel sebelumnya (ayat-ayat cinta) mengambil kisah Fahri yang sedang belajar master di Universitas Al Azhar Kairo, mengambil sanad qiraah sab’ah dan lika-liku pernikahannya dengan Aisha serta Maria. Nah, di novel setebal 690 halaman ini kita akan menyelami kehidupan Fahri di Britania raya (Inggris) yang pernuh dengan perjuangan menegakkan nilai-nilai dan harga diri Islam.

Dikisahkan dalam novel ini Fahri tinggal di Edinburgh, dia menjadi dosen di University of Edinburgh yang menjalani kehidupannya tanpa istrinya. Namun dia di sana tidak sendirian, ada Paman Hulusi yang setia mendampingi dan menyopiri Fahri kemanapun dia pergi, mengajar, penelitian, mengantar sholat berjamaah, mengurusi urusan makan dan minum, serta mendampinginya mengurusi berbagai bisnis yang sudah dirikan dan dikelola bersama istrinya seperti bisnis restoran, butik dan minimarket. Aisha dikabarkan hilang saat dia pergi ke Palestina bersama Alicia. Alicia malah ditemukan sudah tidak bernyawa dan tubuhnya yang sudah tidak utuh lagi dan sangat mungkin Aisha mengalami kondisi yang sama. Mengapa Aisha pergi ke palestina bersama Alicia? Karena mereka tergerak hatinya ingin membuat cerita dan reportase tentang kehidupan yang ada di sana. 

Dua tahun lebih Fahri berusaha menemukan istrinya melalui berbagai relasi yang dimilikinya bahkan langsung mencari ke tanah para nabi. Untuk meredam rasa rindu dan kehilangan Aisha, Fahri pindah ke Edinburgh karena kota tersebut sangat disukai Aisha. Selain menjalani berbagai kesibukan dia juga kerap membantu orang-orang yang ada di sekitarnya seperti Keira yang sangat ingin menjadi juara dunia dalam menggesek biola dan menjadi juara dunia namun memiliki keterbatasan biaya. Fahri menjadi sponsor penuh atas dirinya namun sayangnya Keira membenci karena dia adalah seorang muslim, dimana Keira mengalami islamphobia karena ayah Keira meninggal karena bom. Diberitakan bahwa pelaku bom adalah seorang muslim dan dia mempercayai bahwa muslim itu jahat dan teroris. Dia juga menolong Jason yang juga tidak menyukai Fahri, malah sering mencuri di minimarket yang Gahri miliki. Namun fahri memaafkannya dan memberikan beasiswa kepada Jason supaya bisa masuk ke sekolah sepak bola.

Nenek Fatarina, seorang Jewish yang taat juga mencicipi kebaikan fahri. Dari mengantar dia ke Sinagog, menolongnya ketika mendapatkan masalah bahkan membelikan rumah yang notabene adalah rumah nenek itu sendiri yang sudah dijual oleh anaknya yang tidak manusiawi. Sabina yang dikenal sebagai pengemis di berbagai sudut kota Edinburgh juga ditolongnya dan diminta tinggal bersama fahri di Stoneyhill Groove. Dari status Fahri yang boleh dibilang “jomblo” karena ditinggal Aisha yang tidak diketahui nasibnya banyak sekali orang yang menyarankan untuk menikah lagi. Syeikh Usman malah menawarkan cucunya yang hafidzah sejak 11 tahun, namun ternyata sudah pernah pernah menikah. Kerabatnya juga menawarkan Hulya, yang juga keponakan aisha yang karakteristiknya ada kemiripan dengan Aisha. Namun Fahri pernah melamar Sabina namun ditolak dan disarankan menikahi Hulya. 

Akhirnya Fahri menikah dengan Hulya dan memiliki anak yang diberi nama Umar Al Faruq. Namun malang hulya mengalami luka tusuk yang menyebabkan dia meninggal saat dia berusaha menyelamatkan Keira dari pelecehan laki-laki tak bermoral. Sebelum meninggal dia berwasiat supaya wajahnya didonorkan kepada Sabina, karena Sabina memiliki wajah yang rusak, sekaligus supaya Al Faruq masih melihat wajah ibunya walau sudah meninggal. Proses transplantasi berhasil sehingga wajah Sabina menjadi berwajah Hulya. Fahri secara tidak sengaja melihat kamar Sabina dan menemukan cincin Aisha dan foto Aisha saat di Borobudur Indonesia, akhirnya dia mencari fakta apakah Sabina itu adalah Aisha. Dia sebelumnya mendapatkan firasat bahwa Sabina itu Aisha dari minuman dan hidangan yang disajikannya, bagaimana cara dia berjalan serta postur tubuhnya. Namun suara yang tidak normal dan wajah yang rusak menyamarkan identitas aisha. Akhirnya Fahri mendapatkan fakta bahwa Sabina itu adalah Aisha melalui tanda lahir yang ada pada dirinya yang dilihat saat operasi pita suara.

Mengapa Aisha kondisinya seperti itu dan memilih menyamar sebagai Sabina? Wajah yang rusak dikarenakan aisha berusaha merusak wajahnya supaya tidak mendapatkan perlakukan tidak senonoh dari penjahat (tentara militer) dari Israel yang menangkapnya. Malah penjahat itu menambah lukanya dengan air keras dan merusak beberapa organ tubuhnya, menghancurkan punggungnya dengan cambuk. Aisha bisa pulih kembali namun tetap ada beberapa bagian tubuh yang rusak. Selanjutnya dia bisa bertemu dengan Fahri di Edinburgh setelah melalui perjuangan yang berat, dari palestina naik truk tumpangan ke Istanbul, Yunani, naik kapal ke Italia, perjalanan darat ke Munchen, kemudian ke Edinburgh dengan berstatus pengemis yang bernama Sabina.

Dari novel ini kita bisa belajar tentang nilai- nilai perjuangan untuk mempertahankan harga diri Islam melalui kepribadian, intelektual yang dimiliki, kesabaran dan keikhlasan dalam setiap amalan yang kita lakukan. Selain itu kita juga mendapatkan asupan literasi-literasi yang menarik terkait nuansa keilmuan, kitab, pemikiran, sejarah, sosial, budaya di dunia barat dan yahudi. Ada dua sesi debat ilmiah yang diikuti Fahri, yang pertama adalah terkait konsep bangsa yang terpilih dan amalek yang mendasari mengapa ada gerakan zionisme lalu yang kedua adalah pemikiran filsafat cendikiawan muslim yang kontroversial yaitu Ibnu Arabi yang nantinya pembahasannya bersinggungan dengan perbandingan agama. Kang Abik membedah konsep bangsa yang terpilih, amalek yang diyakini oleh kaum yahudi, pemikiran ibnu Arabi secara rinci dan ilmiah. Untuk lebih lengkapnya silahkan membeli dan membaca buku ini karena akan menambah keilmuan serta memperkuat aqidah kita.

***
Di bawah lampu Philips yang temaram, 16 Februari 2016 – 23:20 WIB

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Review Novel Ayat Ayat Cinta 2 – Habiburrahman El Shirazy Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan