Latest News
Rabu, 17 Februari 2016

Jati Diri Perempuan Saudi Kini


Topik perbincangan tentang menutup aurat memang sedang marak diberbincangkan dengan berbagai macam terminologinya seperti, jilbab syar'i, hijab, khimar, burqa dll. nah kebetulan kali ini saya sedang memegang majalah national geographic edisi februari yang membahas tentang kaum hawa saudi dimana konon asal muasal istilah yang saya sebutkan berasal dari sana (peradaban timur tengah). dari reportase natgeo memaparkan bahwa masyarakat saudi masih sangat konservatif dalam mendefinisikan batas penampilan saat di depan umum. namun sejumlah perempuan juga mengungkapkan dirinya di media sosial seperti kebanyakan orang di dunia.

Profesi yang banyak digeluti perempuan saudi adalah dokter dan guru dengan pengguna jasanya adalah perempuan juga, kini kuantitas mahasiswa malah lebih mahasiswi lebih banyak daripada mahasiswa. hampir tidak ada perempuan normal saudi yang menggeluti profesi sebagai peragawati karena masih dipandang kurang sopan, dan ketika ada peragaan busana event tersebut hanya diperuntukan bagi perempuan saja. perempuan di sana sangat dijaga dan menjaga dirinya. antrian untuk membeli makanan saja dipisah dan disekat supaya laki-laki dan perempuan di sana tidak bercampur baur, untuk menghormati Allah dan tradisi. bahkan untuk berkerja dimana laki- laki dan perempuan bercampur baur sangat dihindari. namun perempuan yang sudah tersentuh peradaban di luar negeri sudah mulai moderat terkait percampuran gender dalam pekerjaan namun masih menjaga syariat.

Tidak ada hukum yang benar- benar mewajibakan pemakaian abaya. tradisi menutup aurat dan berperilaku di sana ternyata bermacam- macam. ketika di jeddah abaya warna warni mulai populer, namun ketika di riyadh abaya yang bukan hitam mengundang pandangan sinis dari orang lain bahkan ditegur oleh polisi agama. berbeda dengan indonesia dimana ketika jilbab yang dikenakan tidak warna warni dan berpola maka tidak terlihat kece. otomatis bagi pandangan kami (laki-laki) perempuan indonesia walau sudah full menutup auratnya namun masih menawarkan daya tariknya yang membuat klepek-klepek, apalagi ditambah wajah manis, anggun, dan teduh. duh, menjadi perempuan idaman serta bahan pembicaraan.

Di Arab Saudi perempuan tidak diperkenankan mengendarai mobil. setiap perempuan yang dewasa wajib mendapatkan pendampingan wali pria. semua restoran memiliki pembagian zona makan, satu untuk para jomblo, dan satu untuk keluarga. hampir semua sekolah di saudi memiliki satu gender saja, dari guru, murid dan video digunakan ketika gendernya berlainan. jubah wanita saudi adalah abaya, bukan cadar yang berasal dari iran dan burqa yang berasal dari afganistan. abaya merupakan pakaian dari leher ke bawah seperti jubah hakim. berbeda dengan indonesia dimana wanitanya dengan santai menyetir, naik motor ngebut dijalan, makan bareng dengan cowok, bisa bercanda dengan lawan jenis saat dikelas, pakaian yang dikenakan pun semakin terbuka dan aduhai dll. penggunaan niqab disana ternyata juga ada perdebatan. mereka menggunakan niqab untuk menghindari tatapan pria, bukan hanya sekedar memandang. ketika masih cukup muda (kisaran dibawah 12 tahun) perempuan saudi boleh tidak berabaya dan berniqab saat di depan umum.

Ada yang unik dari seorang laki- laki mengenal perempuan berniqab yaitu melalui sepatu dan tas. dari sepatu dan tas ternyata bisa diidentifikasi pekerjaannya seperti pensiunan dokter anak, desainer grafis, kasir, wiraswasta, dosen sosiologi dll. ketika dipertokoan pun laki-laki tidak diperkenankan masuk ke toko perempuan kecuali menemani muhrimnya. 

disarikan dari : National Geographic Indonesia edisi Februari 2016
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Jati Diri Perempuan Saudi Kini Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan