Latest News
Rabu, 09 Desember 2015

Review Buku Sejarah Filsafat Islam - Prof. Abu Bakar Aceh


Buku Sejarah Filsafat Islam yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Abu Bakar Aceh merupakan buku yang mengajak kita untuk lebih “radikal” dan “fundamentalis” terhadap Islam terutama dalam hal aqidah dan sejarah pemaknaannya. Buku ini merupakan buku tua yang diterbitkan oleh CV. Ramadhani, Surakarta (yang sekarang entah di mana ataukah masih ada) pada tahun 1970. Sepertinya buku ini merupakan buku yang wajib dibaca oleh mahasiswa Fakultas Ushuluddin di Mahad ataupun Universitas Islam. Walaupun begitu setidaknya buku ini juga wajib dibaca oleh berbagai kalangan yang sudah mengaku bahwa KTP-nya Islam. Di dalam buku ini kita akan diberikan penjabaran tentang pergertian filsafat, hubungan Al Qur’an dan filsafat, aliran filsafat yunani mencakup pertumbuhan dan filsafat moralnnya. Kemudian penjelasan aliran filsafat Islam seperti Mu’tazilah, Syiah, Salaf, Sunni yang memiliki pemahaman berbeda tentang hakekat tuhan, alam, dan manusia. Kita juga diajak membandingkan berbagai aliran filsafat yunani, romawi, aliran tasawuf farabi, ibnu Sina, Ibnu Rusyd dengan perkembangan dalam pemikiran di kalangan umat Islam serta aliran moral dan akhlaq seperti filsafat Inayat Khan, Imam Ghazali Dan Ibnu Maskawih.

Pendahuluan

Menurut Al Kindi ilmu filsafat itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan merupakan penggunaan logika kita yang bermanfaat untuk mendalami Al-Qur’an yang sudah diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Sebenarnya Al Kindi merupakan ahli filsafat pertama dalam Islam, namun arsip beliau sempat tersembunyi di dalam arsip kerajaan Abbasiyah, namun pada akhirnya terungkap juga. Farabi lebih dikenal oleh khalayak karena arsip beliau sudah lebih dulu terpublikasikan daripada Al Kindi.

Filsafat akan membantu kita untuk membuktikan bahwa Tuhan itu Esa, tidak beranak-ibu-bapak, tidak ada pesaing-pembantu dll. Filsafat diperlukan untuk menyadarkan orang yang ragu tentang kebenaran Islam sehingga memerlukan pendekatan logika, ada juga dari agama lain yang berusaha menjatuhkan Islam dengan pendekatan logika melalui persoalan ini dan itu. Filsafat berasal dari kata “philo” yang berarti cinta dan “sophia” yang berarti hikmah. Ketika diartikan utuh menjadi cinta kebenaran. Filsafat itu bisa dimaknai mencari kebenaran, tetapi juga berpikir dengan cara yang benar.

Terdapat pertentangan tentang adanya ilmu filsafat ini. Golongan salaf ada yang tidak menyukai filsafat, kadang menentang dan menghukumi filsafat itu bid’ah yang dapat menyesatkan. Bagi mereka Al Qur’an ini berfungsi untuk mengatasi pemikiran manusia, tidak perlu ditafsirkan, cukup diimani, ditaati, diamalkan. Bagi yang mencoba mengorek Al Qur’an lebih dalam dianggap ragu-ragu tentangnya. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa filsafat itu bid’ah dan Haram. Namun ada juga golongan mu’tazilah yang cenderung menafsirkan Qur’an dengan logika, dan ada golongan sunni yang menafsirkan Qur’an sesuai panduan Sunnah. Al Ghozali pada awalnya menentang filsafat, namun pada akhirnya mempelajari dan sering menggunakan filsafat. Ulama sunni berpendapat bahwa Qur’an banyak menyuruh kita berpikir tentang dirinya dan mengenai tuhan, manusia, dan alam semesta untuk memperkuat dalil naqli melalui dalil aqli.

Seseorang yang memikirkan tentang filsafat bisa disebut sebagai filosof. Sesungguhnya filsafat merupakan jembatan antara agama dan ilmu. ilmu bisa dicapai namun bisa dicapai dengan kemampuan yang terbatas, namun ilmu juga mengantarkan kita kepada agama maka filsafat mampu berperan sebagai medium antara keduanya. Filsafat memiliki dua tujuan yaitu memandang kehidupan dengan sebuah harapan berupa kesempurnaan dan menjadi solusi untuk menyatukan ilmu dan agama. Sebenarnya filsafat Islam itu tidak ada, namun yang ada adalah filsafat Qur’an yang berguna untuk mengenal Pencipta dan apa yang diciptakan-Nya melalui firman-Nya.

Pembagian Aliran Islam

Dalam garis besar aliran Islam dapat dibagi menjadi tiga klasifikasi besar yaitu aliran I’tiqad, aliran ilmu fiqih, aliran ilmu siyasah. Aliran I’tiqad merupakan aliran dalam keyakinan aqidah (tauhid) yang terbagi menjadi beberapa mazhab/sekte seperti salaf, jabariyah, qadariyah, mur’jiah, mu’tazilah, asy’ariyah, maturidiyah, dll .Aliran fiqih merupakan aliran dalam hukum agama Islam yang terbagi menjadi beberapa mazhab seperti al jafari, al hanafi, al maliki, asy syafiii, hambali, as salafi, isna asyar imamiyah, zaidiyah, ismailiyah dll. Aliran siyasah merupakan aliran dalam perpolitikan seperti siyasah umayyah, siyasah abbasiyah, sabaiyah, ghurabiyah, kisaniyah, ismailiyah, zaidiyah dll. Perbedaan cara pandang tersebut disebabkan oleh banyak hal seperti bagaimana cara kita berpikir dan mencoba menemukan hakekat kebenaran, contohnya ketika orang buta mempelajari gajah, dia akan mengatakan gajah itu seperti ular ketika memegang belalainya, gajah itu seperti cambuh ketika melihat ekornya dll. Beberapa hal lain mempengaruhi cara berpikir kita seperti Hobi, tujuan hidup, ajaran leluhur, kesalahpahaman, kemudian rasa kebanggaan atas suatu golongan.

Pandangan ahli salaf terhadap tuhan

Kaum ahli sunnah mengklaim dirinya mengikuti mazhab syafii, hanafi, maliki, dan hambali maupun ahli sunah lainnya yang berpegang teguh kepada Qur’an dan hadist seperti ibnu taimiyah, ibnu qoyyim dll. Hampir tidak ada perbedaan tentang tauhid kepada Allah. Penjabaran tentang tafsir ayat Al Qur’an dan hadist tidak diperkenankan memberikan tafsiran tersendiri. Bagi ahli sunah tauhid dibagi menjadi tiga macam. Tauhid rububiyah, ialah keyakinan bahwa ada yang menciptakan dan mengurus semua alam berikut isinya. Tauhid uluhiyah adalah tauhid yang lebih tinggi tingkatannya karena tauhid ini tidak sekedar mengakui bahwa Allah itu pencipta dan pengatur namun menyadari bahwa seluruh perbuatan manusia harus dipertanggunjawabakan kepadaNya dan hanya kepadaNya lah kita harus menyembah. Tauhid asma wa sifat adalah mempercayai bahwa pencipta itu bernama Allah, tunggal, lengkap, tidak beranak dan diperanakkan, dan memiliki nama-nama yang baik. 

Ahli filsafat Islam dan ketuhanan

Pada awalnya ahli filsafat Islam banyak dipengaruhi oleh ahli filsafat yunani karena memang ahli yunani lebih dahulu mengunakan akal pikirannya untuk mengenal tuhan. Mereka mempercayai adanya tuhan yang menciptakan kehidupan namun belum sampai pada keesaan tuhan. Ahli filsafat Islam mengupas alam pikiran yunani dan pada akhirnya menyesuaikan dengan dasar tauhid berupa keesaan pada ajaran Islam. Ibnu sina dan farabi memiliki pendapat bahwa adanya tuhan itu tidak perlu menggunakan penglihatan manusia, cukup dengan akalnya sebagai anugerah yang tertinggi dari tuhan. Otak sendiri mampu membawa manusia kepada pengakuan adanya tuhan.

Ahli filsafat mengakui bahwa mempelajari keesaan tuhan itu tidak mudah, namun Islam tidak memaksa penganutnya untuk memecahkan orang mengartikan bagaimana ketunggalan tuhan itu dalam sebuah pemaknaan. Islam hanya mengajak kita kepada tauhid, beriman kepada penciptanya yaitu Allah. Ahli filsafat mengemukakan bahwa tuhan itu bukanlah benda, bukanlah jism yang dikhayalkan oleh pikiran, tidak bersekutu. Ibnu sina mengatakan bahwa pencipta tidak bekerjasama dengan apapun, dzat Allah tidak tersusun atas dzat yang lain. Orang sufi menerima bahwa tuhan itu sempurna dan merupakan sumber kesempurnaan.

Ada yang bercerita bahwa pandangan sufi terhadap tuhan itu sangat mendalam berikut dengan perasaan cintanya. Bagi ibnu arabi, seorang ahli filsafat dan ahli sufi bahwa dzat pencipta itu hanyalah satu dan kekal. Paham ibnu arabi menyatakan bahwa alam semesta adalah bayang-bayang manifestasi dari Allah yang satu tunggal. Namun pandangan ibnu arabi tersebut ditentang oleh ibnu taimiyah dan ibnu khaldun, oleh ibnu hajar asqalani dan ibrahim al biqa’i. ibnu taimiyah menentang adanya tawasul serta mempertahankan adanya hubungan langsung antara khaliq dengan makhluk.

Liqa’ dan ru’yah

Salah satu keyakinan yang terpenting bagi orang sufi adalah banyak diakhir perjuangan kita kan mampu melihat tuhan (ru’yah). Ru’yah diperoleh setelah kasyaf, merupakan kenikmatan sebagai hamba Allah dan merupakan balasan atas amal shalih dan kesuciannya berupa dapat melihat-Nya. Imam ghazali mengartikan memandang tersebut itu dengan memandang secara sempurna dan nyata. Ketika hijab ini sudah terlepas dengan kematian dan jiwa yang bersih dari maksiat maka jiwa manusia mampu memandang nyata. Untuk bisa mencapainya kita perlu melakukan latihan kepada jiwa kita melalui cara- cara sufi yang disebut dengan tarekat. Jiwa menurut para sufi merupakan zat yang halus dan rumit sebelum dimasukkan ke dalam badan yang disebut dengan roh. Roh itu hakekatnya bersih dan dekat dengan penciptanya namun ketika bertemu dengan tubuh maka berubah bentuknya dan mulai berubah dari awalnya.

Orang yang mampu mengenal dirinya mampu mencapai pengakuan bahwa Allah adalah pelindung dirinya. Jiwa di dalam manusia terdapat tujuh tingkatan. Pertama namanya adalah nafsul amarah, jiwa ini memiliki kecondongan kepada kebutuhan badan seperti syahwat. Kedua bernama nafsul laumah, jiwa yang menerangi lubuk hati manusia, terkadang berbuat baik, terkadang berbuat maksiat, namun ada rasa penyesalan yang mengiringinya. Ketiga bernama nafsul mutmainah, jiwa yang menerangi hati dengan cahayanya yang murni yang menjauhkan dari sifat tercela. Keempat bernama nafsul mulhamah, jiwa yang dikaruniai Allah dengan ilmu, sifat baik seperti tawadhu, rendah hati, sabar, syukur dll. Kelima bernama nafsul radhiyah, jiwa yang merelakan dirinya kepada Allah, merasakan nikmat atas segala takdir-Nya.

Keenam bernama nafsul mardhiyah, jiwa yang diridhoi oleh Allah dengan kemuliaan, ikhlas, dan meletakkan dirinya di jalan Allah dan makrifat kepada-Nya. Ketujuh bernama nafsul kamilah, yaitu jiwa yang sudah sempurna jiwanya untuk bertemu dengan Allah, jiwa dan raganya hanya kepada rabbnya. Untuk naik tingkatan jiwa tidak mudah, harus melalui riyadhah nafs berupa tarekat.

Wihdatul wujud

Wihdatul wujud merupakan sumber penciptaan yang esa tentang penciptaan alam semesta. Beberapa ahli filsafat Islam merumuskan beberapa paham tentang wihdatul wujud seperti suhrawardi dan ibnu sab’in. ada juga pemikir yang lain seperti ibnu arabi, jalaludin rumi dll. Ketika kita membahas filsafat Islam maka tidak akan jauh dari tasawuf. Ibnu arabi menusun kitab futuhatul makkyah yang membahas secara lengkap tentang mengenai tasawuf. Kitab fusuhatul hikam juga menggemparkan dunia tasawuf yang meruwayatkan kesufian nabi dari nabi adam hingga rasulullah SAW yang menghubungkan dengan keesaan Allah. Sebenarnya tasawuf sudah ada semenjak abad pertama hijriyah berbentuk cara hidup nabi dan sahabat, bukan berbentuk keilmuan. Namun istilah sufi dan paham ini baru tubuh subur pada abad ke dua sehingga menimbulkan perdebatan.

Adapula paham I’tihad yang dicetuskan oleh abu yazid bisthami yang menyatakan masalah terpenting dalam dunia tasawuf yaitu tentang satunya makhluk dan khalik. I’tihad ini dibesarkan oleh hajjaj yang kemudian dipenjara dan dibakar di bagdad. Karena masalah itu menghasilkan dua sikap mengenai tasawuf yaitu menerimanya dan menolaknya. Penganut mazhab asy’ari berpendapat bahwa tuhan tidak dapat diturunkan kepada manusia, dan manusia tidak bisa mencapai derajat tuhan. Tasawuf bagi mereka hanya terbatas dalam masalah jiwa dan akhlaq amaliyah yang mengarahkan manusia mencapai derajat kesempurnaan. Karena hal tersebut terjadi perpecahan dalam paham tasawuf yaitu ahlus sunnah dan ahlul bid’ah. Imam ghazali membantu abu hasan al asy’ari dalam mempertahankan ahlus sunnah dan mendapatkan predikat pencipta tasawuf sunni.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Review Buku Sejarah Filsafat Islam - Prof. Abu Bakar Aceh Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan