Latest News
Rabu, 04 November 2015

Tranformasi Motif Pendidikan

 
Mengajar adalah transformasi ilmu, sedangkan mendidik adalah transformasi nilai.. 
Sebuah nasehat beberapa tahun yang lalu oleh salah seorang kiai di Pondok Pesantren al Amien, Madura yang (seharusnya) melecut dan sebagai sarana refleksi pendidikan saat ini.. ketika di era sekarang sudah banyak sekali pergeseran pemaknaan motif tentang mengapa institusi pendidikan didirikan.. Bisa jadi pendidikan yang "sebenarnya" hanyalah saat SD jaman dahulu, semakin beranjak tahun maka esensi pendidikan akan semakin samar.. proses transfer dan tranformasi semakin tidak efektif sehingga banyak hal yang seharusnya diberikan dan dibangun antar generasi jatuh berceceran di setiap fasenya..

Mengajar merupakan sebuah proses untuk mentransformasi ilmu, namun sepertinya yang terjadi (mayoritas) adalah proses transfer saja, dimana peserta didik duduk manis di bangkunya sedangkan guru berdiri di depan kelas, menulis di papan tulis dan berceramah.. di sanalah terjadi proses transfer dari tulisan dan kata kata di papan tulis dan ucapan guru ke mata dan ke telinga peserta didik, bukan tranformasi..

Sesungguhnya mentranformasi ilmu di sana adalah di mana guru dan peserta didik bersama-sama "mengembangkan dan membentuk" pemahaman bersama tentang keilmuan yang dipelajari.. jadi bukanlah guru yang mati matian berbicara kepada peserta didik namun siswalah yang seharusnya membentuk dan mengembangkan ilmu di dalam pemikirannya dengan panduan guru serta disesuaikan dengan kaidah keilmuan yang ada..

Mendidik adalah transformasi nilai.. nilai disini dimaknai nilai yang berlaku di dalam kehidupan yaitu budi pekerti, bukanlah nilai yang mengantarkan kita ke dalam peringkat dan predikat anak pandai.. Sesungguhnya nilai 1-100 bukanlah sesuatu yang sangat penting dan utama, walaupun dia bisa mengantarkan kita ke dalam strata pendidikan yang lebih tinggi ataupun masuk dalam pintu sebuah pekerjaan.. Nilai-nilai kehidupan yang berupa budi pekerti akan mengantarkan kita ke dalam strata dunia dan akherat yang lebih tinggi serta membantu kita untuk menjadi insan yang sesungguhnya..

Hal yang miris ketika dunia pendidikan sekarang lebih mengutamakan nilai ekstrinsik daripada nilai intrinsik.. peserta didik akan terlihat baik ketika prestasinya itu berbentuk nominal dari interval 80-100, mereka akan lebih dihargai daripada peserta didik yang memiliki prestasi dengan nominal di bawahnya.. sudah jarang sekali melihat siswa melalui kacamata intrinsik, melihat siswa berdasarkan nilai nilai kehidupan yang terbentuk di dalam kepribadiannya.. sudah jarang pembicaraan tentang anak yang jujur, rajin, berbakti, sabar, sholeh, cinta kebersihan, dll namun yang sering diperbincangkan adalah anak yang memiliki nilai yang tinggi..

Hal ini diperparah juga ketika orang tua memiliki persepsi bahwa anak yang hebat itu adalah anak yang memiliki nilai yang tinggi.. Sehingga mereka rela mengeluarkan uang untuk mem"privat"kan anaknya untuk medapatkan nilai yang baik di sekolah, namun mengesampingkan nilai nilai yang seharusnya dimiliki oleh anak untuk menjadi insan sejati, yaitu nilai-nilai budi pekerti.. namun ironis juga ketika pelajaran budi pekerti hanya sekedar teori yang disampaikan sebagai mata pelajaran (lalu disisipkan di materi pendidikan agama) di depan kelas, bukan sebuah nilai yang ditransformasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari.. sebagai refleksinya adalah silahkan membaca berbagai artikel yang memuat tentang dunia pendidikan dan anak yang ada di Indonesia, di sana akan banyak artikel tentang berita negatif daripada berita positif..

***
Ditemani Eva Celia, 4 November 2015 - 06:06 WIB
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Tranformasi Motif Pendidikan Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan