Latest News
Wednesday, November 11, 2015

Review Buku Garis Batas - Agustinus Wibowo


Buku Garis Batas merupakan buku kedua dari seorang penikmat perjalanan antar negara yaitu Agustinus Wibowo. sudah ada 3 buku yang dia tulis dan ketiganya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. buku yang pertama beliau tulis adalah selimut debu, garis batas, dan titik nol. nah kebetulan saya memiliki dua buku dari beliau ini yaitu garis batas dan titik nol. buku garis batas ini saya temukan di stand buku diskon gramedia beberapa tahun yang lalu, saya kemudian tertarik membelinya karena ada senior yang sempat cerita-cerita mengenai buku ini walaupun saya tidak begitu fokus mendengarkannya. sempat juga search di internet mengenai buku ini dan ternyata cukup banyak yang merekomendasikannya, akhirnya akupun tergerak untuk membelinya. menurutku buku ini bukan buku yang sembarangan. ketika kita membaca buku perjalanan lainnya rata-rata hanya mengisahkan tentang kemana-saja dia melangkah. selesai baca kita tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesenangan akan jalan cerita kemudian tertarik untuk pergi ke sana juga. namun dari buku ini saya mendapatkan hal tentang perjalanan kehidupan.

Di buku ini kita akan mempelajari sosiologi, antropologi, bahasa, agama, budaya, seni, dan aspek aspek kehidupan yang lainnya dari setiap daerah yang dilaluinya. agustinus mengajak kita untuk menengok kembali negara negara asia tengah yang sudah jarang disebut atau dibicarakan oleh kebanyakan orang. mungkin saat SD kita sudah diperkenalkan oleh guru kita tentang nama dan ibukota negara tersebut, namun kali ini Agustinus Wibowo mengajak kita bertualang melewati garis batas Afghanistan menuju negara-negara berakhiran –Stan. Melalui buku Garis Batas ini kita diperkenalkan lebih dekat dengan negara Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

Garis batas diidentikan dengan bentuk yang nyata, seperti batas dalam bentuk garis hitam, pagar, batas geografis alamiah, namun dari buku ini kita mengenal garis batas dalam bentuk budaya dan budaya. biasanya garis batas hanya membedakan ini milik wilayah mana, itu wilayahnya siapa, namun ketika mulai meresapi bahwa garis batas juga membedakan status ekonomi, kondisi politik dan berbagai segi kehidupan yang ada di bumi, bahkan takdir manusia itu sendiri. ketika kita menatap cermin dan mulai sedikit berefleksi kita akan menyadari bahwa ”Kulit membungkus manusia Warnanya adalah garis batas, identitas, label, penentu takdir. (hal 265)”

Diawal cerita kita diajak melihat fakta antara dua negeri yang jarak peradabannya ratusan tahun yang terpisah sungai lebarnya 20 meter. Amu Darya menjadi garis batas yang memisahkan dua negara. Afghanistan dan Tajikistan. Meski sungai itu hanya selebar 20 meter, tapi menyeberang bukanlah hal mudah. Dan dari jarak 20 meter itulah orang Afghanistan melihat mimpi di seberang sana. Dua negara yang seolah hidup di zaman yang berbeda. Yang satu masih menggunakan keledai atau kuda sebagai alat transportasi utama dengan menapaki jalan setapak jika tak hati- hati akan masuk jurang, sementara di seberang sana terlihat mobil-mobil melewati jalan beraspal. Sementara perempuan di seberang sana menggunakan baju seksi bepergian, sedang perempuan disini sangat menjaga diri serta menggunakan pakaian islami.

Beliau menceritakan tentang perjuangannya untuk menembus perbatasan Negara Tajikistan, mengurus visa bahkan untuk mengunjungi sebuah provinsi di Tajikistan pun harus ada paspor khusus yang tentu saja harus dibayar lebih mahal lagi dan terkadang harus membayar sejumlah uang supaya dapat melintas. Tajikistan merupakan yang terkecil dan termiskin jika dibandingkan dengan Negara stan-stan lainnya. Penghasilan penduduk Tajik rata-rata hanya 20 dollar per bulan, dengan perbandingan harga seliter bensin adalah 10.000 rupiah. Pilot, yang di Indonesia adalah profesi mentereng yang mudah dekat dengan gadis cantik, digaji tak lebih 15 dollar sebulan.

Kirgizstan adalah Negara kedua yang beliau kunjungi. Saat masuk ke negara ini kita harus siap siaga dan waspada akan ancaman korupsi dan polisi seperti di Tajikistan. Sama halnya dengan negara tajik, kirgistan juga merupakan negara yang miskin. semangat yang perlu diteladani dari bangsa kirgiz adalah “Kami Bangsa Kirgiz, Sudah mengalami ribuan kematian, tetapi kami menjalani ribuan kehidupan.”

Kazakhstan, negara ketiga yang dikunjungi oleh agustinus. Ketika masuk ke negara ini beliau juga harus menyiapkan “sesuatu” karena petugas perbatasan juga menerapkan “upeti”. Namun sistem imigrasinya sudah lebih layak daripada Kirgizstan. Negara ini bisa dikategorikan sebagai negara kapitalis. Segala sesuatu di Kazakhstan harganya sangat mahal, contohnya harga dua pisang dan 1 apel senilai 3 dolar. Negara ini kaya akan minyak namun alirannya mengalir kepada orang kaya juga, masyarakat miskin bisa semakin miskin.

Uzbekistan bukanlah negara yang biasa-biasa saja. mata uang Sum yang berlaku di sana selalu megalami inflasi. cerita uniknya kalau ingin membeli tiket pesawat pun harus membawa dua kantung plastik berisi uang sum. Uang nominal tertinggi di uzbek ketika dikurskan nilainya tidak sampai senilai 1 dolar amerika. Di Uzbekistan sering terjadi perampokan di malam hari, pemalakan polisi di bandara, bahkan kalaupun itu tamu selevel mantan Dubes RI untuk Uzbekistan, adalah hal lumrah.

Negara tetangganya, Turkmenistan adalah Negara yang nasibnya berkebalikan dengan uzbekistan. Negaranya kaya sehingga segala sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok warganya serba tercukupi dan serba murah. Ongkos bis hanya 20 rupiah, air, listrik, gas, pelayanan kesehatan semuanya gratis. Tiket kereta dari Asghabat ke Turkmenabat yang berjarak 600 kilometer (hampir sama seperti Yogyakarta-Jakarta) hanya perlu bayar 5.400 rupiah, sementara pesawat 14.000 rupiah.

Setelah membaca buku ini dan merenunginya kita sudah selayaknya mampu memaknai apa itu negara, apa itu bangsa, apa itu suku, apa itu agama, apa itu masyarakat, apa itu manusia, apa itu perbedaan, apa itu persaudaraan. Seharusnya setelah membaca buku ini seharusnya kita mampu meresolusikan langkah yang tepat untuk Indonesia yang seharusnya raya, Indonesia yang seharusnya memiliki “tanah dan air”, dan sekarang sepertinya kita sudah mulai menjauh dari harapan pendahulu kita.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Review Buku Garis Batas - Agustinus Wibowo Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan