Latest News
Minggu, 15 November 2015

Review Buku Api Sejarah – Ahmad Mansur Suryanegara


Buku Api Sejarah yang ditulis oleh sejarawan Indonesia Prof. Ahmad Mansur Suryanegara mengajak kita untuk menengok kembali sejarah Indonesia dari kacamata umat Islam. Api Sejarah merupakan jilid pertama yang membahas kronologi sejarah di Nusantara Indonesia dari Islam masuk ke Indonesia hingga masa pra kemerdekaan sekitar tahun 1942. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa sejarah Indonesia yang sudah kita pelajari sejak SD mengupas bagaimana Indonesia dari kacamata umum dan kacamata pejuang yang (katanya) cenderung nasionalis. Nah, dari buku ini kita diajak menggali lebih mendalam peran umat Islam dalam memperjuangkan Indonesia ini serta bagaimana Islam mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama kalangan ulama dan santri demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Buku yang pertama kali dicetak pada pertengahan tahun 2009 baru bisa saya dapatkan saat sudah cetakan keenam yaitu 2013. Sudah lama juga saya mengkhatamkannya namun baru saat ini saya mau dan tergerak untuk menulis reviewnya sembari lebih melekatkan ingatan yang sempat mengelupas. Buku ini cukup besar dan tebal, 586 halaman. Namun jangan membayangkan isinya adalah tulisan semua, karena di dalamnya disematkan pula dokumentasi berupa foto maupun peta untuk memperkaya khazanah. Buku Api Sejarah sangat direkomendasikan untuk kita semua yang ingin mengenal akar sejarah Nusantara, karena untuk menulis buku Api Sejarah beliau telah mempelajari ratusan buku sejarah dan laporan penelitian yang dibuktikan dengan daftar pustaka yang menjadi rujukan pada akhir buku ini. Kalau boleh menilai buku ini bukanlah buku yang netral karena buku ini lebih menonjolkan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, walau terkadang di beberapa pembahasan peran ulama maupun santri itu tidak begitu kentara, kecuali ulama dan tokoh Islam yang turut serta dalam perpolitikan dan pemerintahan.

Api Sejarah membahas kronologi sejarah di Nusantara Indonesia dari Islam masuk ke Indonesia hingga masa pra kemerdekaan. Namun diawal pembahasan kita akan disuguh oleh segmen pembuka. Kita akan mempelajari asal usul Islam serta mengapa Islam bisa masuk ke Indonesia. Pada awalnya Islam bisa masuk ke Nusantara dikarenakan aktivitas perdagangan dan dakwah oleh pedagang dari Timur Tengah dan Asia Selatan, perebutan kekuasaan pasar, mata uang Islam yang berlaku saat itu dan perdagangan rempah rempah, penguasaan maritim, pasar pesantren, dan masjid, luas wilayah Nusantara Indonesia, nabi rasul pembawa ajaran Islam, pembebaran dan pemeliharaan kembali empat kitab suci.

Pembuka

Bagian pembuka mengenalkan kita kepada bangsa Arab dahulunya adalah pengembara, terutama untuk wirausahawan Arab yang berdagang hingga cina dan jalur perdagangan yang dilaluinya. Karena perdagangan bangsa arab yang begitu luas sehingga menyebabkan tersebarnya uang Islam di Inggris, Irlandia, dan Baltik, Skandinavia dimana sebagai bukti betapa luasnya pengaruh ekonomi perdagangan dan budaya Islam yang terjadi pada abad ke-7 hingga abad ke-11 M di dunia Barat yang artefaknya masih ada sampai saat ini. Penyebaran Islam terletak pada penguasaan pasar, kemasjidan dan pendidikan, kekuasaan politik atau kesultanan, penguasaan maritim dengan niaga lautnya, kesadaran Hukum Islam yang bisa kita lihat melalui tata letak wilayah kerajaan Islam dimana pasar, masjid, alun-alun yang saling berdekatan. Dalam bagian pembuka ini beliau juga meluruskan aqidah seperti walisongo yang berbau dengan klenik, sesungguhnya walisongo memiliki pemahaman yang lurus dan tidak tepengaruh dengan ajaran hindu seperti kisah sunan kalijogo yang selama bertahun-tahun bertapa di tepi sungai, ajaran Nabi Adam as hingga terakhir Muhammad SAW adalah pembawa satu-satunya agama, yaitu Islam, kewajiban Umat Islam untuk mengimani empat kitab yaitu Al Quran, Taurat, Zabur, dan Injil, kemudian diakhir bagian ini beliau memaparkan fakta bahwa abad ke 6 M hingga abad ke 13 M merupakan masa pengembangan agama Islam di Nusantara Indonesia.

Bab Pertama Pengaruh Kebangkitan Islam Di Indonesia

Pasar dijadikan sebagai media perniagaan dan dakwah. Dari pasar dibangun masjid. Dari masjid dibina generasi muda melalui lembaga pendidikan, di Indonesia disebut pesantren. Kelanjutannya dari tuntutan komunitas Islam, melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Beberapa sejarah nama nama daerah di Indonesia ternyata merupakan serapan dari bahasa arab seperti kepulauan maluku (berasal dari kata al-muluk yang berarti para raja, karena pada saat itu kepulauan itu dipimpin oleh beberapa raja ; danau toba (berasal dari kata thoyyibah yang berarti indah, kalau kita lihat danau toba itu memang indah). Dalam bab pertama ini juga disajikan peta peradaban Islam pada abad ke 6 M. Allah telah menyerahkan penguasaan lautan kepada umat Islam. Realitas dunia 71% terdiri dari lautan dan samudera.

Pada pembahasan berikutnya kita diajak kembali merunut sejarah Nabi Muhammad SAW semenjak kecil ; aktivitas berdagang ; menerima wahyu dari Allah yang disampaikan melalui Malaikat Jibril berupa petunjuk yang bermuatan ajaran memanusiakan kembali manusia, untuk menjadikan manusia bertauhid ; dakwah beliau selama di jazirah Arab ; wafatnya beliau ; perkembangan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Turki Usmani yang menyebabkan daerah pengaruh Islam telah membentang jauh keluar dari wilayah Jazirah Arabia seperti wilayah Eropa, India, Cina, Nusantara Indonesia Asia Tengah dan Afrika ; perkembangan mazhab fikih Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’I, dan Imam Hanbali ; hingga runtuhnya Turki Usmani serta bangkitnya bani Saud yang membangun Kerajaan Saudi Arabia.

Bab Kedua Masuk Dan Berkembangnya Agama Islam Di Nusantara Indonesia

Indonesia sangat luas dan berposisi geografis terletak di persimpangan jalan laut niaga antara Arabia, India, dan Cina sehingga cukup sulit ditentukan secara pasti melalui apa dan siapa yang berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia sehingga muncul beberapa teori :
  1. Teori Gujarat oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje menjelaskan Islam tidak mungkin masuk ke Nusantara Indonesia langsung dari Arabia tanpa melalui ajaran tasawuf yang berkembang di India. Daerah pertama yang dimasuki adalah Kesultanan Samodra Pasai abad 13 M.
  2. Teori Makkah oleh Prof. Dr. Buya Hamka menjelaskan masuknya agama Islam ke Nusantara Indoensia terjadi pada abad ke-7 M. berdasarkan Berita Cina Dinasti Tang ditemukan daerah hunian wirausahawan Arab Islam di pantai barat Sumatera maka disimpulkan Islam masuk dari daerah asalnya Arab. Kesultanan Samudra Pasai merupakan bukti berkembangnya agama Islam dari komunitas menjadi berbentuk kerajaan.
  3. Teori Persia oleh Prof. Dr. Abubakar Atjeh mengkuti pandangan Dr. Hoesein Djajadiningrat, Islam masuk dari Pesia dan bermazhab Syi’ah. Pendapatnya didasarkan pada sistem baca atau sistem mengeja membaca huruf Al Quran, terutama di Jawa Barat. Teori ini dinilai lemah karena tidak semua penggunaan system baca huruf Al Quran tersebut di Pesia penganut Mazhab Syi’ah. Pada umunya, di Jawa Barat bermahzab Syafi’i seperti Abbasiyah di Baghdad Persia bermazhab Syafi’i.
  4. Teori Cina oleh Prof. Dr. Slamet Mulyana menjelaskan agama Islam baru dikenal oleh bangsa Indonesia dikenalkan oleh para niagawan Muslim pada saat melakukan transaksi niaga di pasar. Demikian pula yang dimaksud dengan masa perkembangan agama Islam adalah pada saat umat Islam telah membangun kekuasaan politik Islam atau kesultanan.
Masalah bagaimana masuknya Islam di Nusantara selalu membawa perdebatan yang sengit. Banyak sekali asumsi berdasarkan fakta sejarah yang mblunder sehingga sulit ditemukan titik temu, seperti pengaruh dinasti khilafah yang sedang berkuasa, kekaisaran cina, laporan perjalanan Ibnu Batuta, serta berbagai nuansa politik dan budaya yang berkembang.

Bab Ketiga Peran Kekuasaan Politik Islam Melawan Imperalisme Barat

Bab ketiga diawali dengan kisah perjalanan Rasulullah SAW pertama Rasulullah ditampilkan sebagai anak yatim piatu dengan bimbingan kakeknya. Kedua, pengalaman hidup Rasulullah SAW bersama pamannya, menjadi wirausahawan sejak usia 8 tahun hingga 40 tahun, berarti selama 32 tahun. Ketiga, masa kerasulan selama 32 tahun yang digunakan untuk membangkitkan kesadaran umat Islam bahwa setiap diri manusia memiliki energi spiritual yang membudayakan gerak kehidupan jasmaninya. Keempat, dalam menciptakan kemakmuran, perdamaian, dan keadilan, Islam pasti tertantang dengan datangnya lawan yang mencoba menghancurkan Islam dengan perang. Dari beliau kita bisa belajar betapa perlunya untuk mempertahankan eksistensi kehidupan dan nilai-nilai Islam. Demi terjaganya eksistensi Islam maka oleh ulama Nusantara dibentuklah Pesantren yang tidak hanya sebagai arena melahirkan ulama namun pesantren juga sebagai kancah pembinaan pemimpin bangsa. Pesantren penjajahan Barat yang mencoba mengembangkan ajaran agama Katolik dan Protestan melaui pengembangan imperalisme.

Perlawanan kekuasaan politik Islam terhadap Barat adalah karena imperialisme mereka yang hendak menjadikan rakyat Indonesia sebagai budak di tanah sendiri. Muncul berbagai perlawanan kekuasaan politik Islam seperti Kesultanan Demak dan Kesultanan Aceh untuk merebut kembali Malaka, 1512 Masehi yang telah direbut oleh Imperialis Katolik Portoegis, Albuquerque 1511 Masehi. Kesultanan Cirebon oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati 1527 Masehi, Kesultanan Banten/Mataram oleh Sultan Agung 1613-1645 Masehi, Sultan Hasanuddin Makasar 1653-1669 Masehi, Pangeran Diponegoro 1825-1830 Masehi, Imam Bonjol Sumatera Barat 1821-1837 Masehi, Si Singamangaradja XII 1872-1907 Masehi.

Memasuki abad ke-20, 1900-1939 Masehi muncullah beberapa -Isme yang timbul pada masa kebangkitan kesadaran nasional Indonesia yang dipelopori oleh Nasionalisme Islam diikuti oleh –Isme kontranya:
  1. 1. Islamisme (memelopori bangkitnya kesadaran nasionalisme Islam Seperti Djamiatoel Choir, Al-Irsjad, Sjarikat Dagang Islam, Sjarikat Islam, Persjarikatan Moehammadijah, Persjarikatan Oelama, Matla’oel Anwar, Nahdlatoel Oelama, Nahdlatul Wathan, Persatoean Moeslimin Indonesia Dan Persatuan Islam;
  2. Djawanisme, Tradisionalisme, Kesoendenisme (Boedi Oetomo, Serikat Prijaji, Igama Djawa Pasoendan, Seloso Kliwon-Taman Siswa;
  3. Komunisme (Ide Komunis Internasional Yaitu Perserikatan Kommunist Di India (PKI) Diikuti Ide Komunis Nasional;
  4. Marhaenisme (Perserikatan Nasional Indonesia/PNI); dan
  5. Kebangsaan Sekuler (Partai Indonesia Radja/Parindra, Gerakan Rakjat Indonesia/Gerindo)
Selain itu juga politik Islam juga berkembang di berbagai wilayah seperti arab, Turki, Mongol, Cina, Nusantara untuk mengembangkan dakwah dan wilayah kekuasaan Islam. membendung imperialisme barat. Pada abad ke-17 M, datanglah gelombang kedua imperalis Barat, yaitu Protestan Belanda dan Inggris. Amerika Serikat terlahir dari Revolusi Protestan pada 19 April 1775. Dampak dari kedatangan imperialisme yaitu merusak perekonomian umat Islam Indonesia sehingga terjadilah perlawanan di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa. Di seluruh kepulauan Nusantara Indonesia, para ulama dan umat Islam baik dari mayoritas Ahli Sunnah Wal Jamaah maupun Wahabi, sama-sama kehilangan kedaulatan ekonomi dan kekuasaan politik atau kesultanannya. Kesamaan sejarah inilah, yang membuat para ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah dan Wahabisme dapat besatu.

Bab Keempat Peran Ulama Dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional

Sejarah Indonesia mencatat bahwa pelopor gerakan kebangkitan adalah Budi Utomo yang didirikan pada 20 Mei 1908. Padahal, dalam realitas sejarahnya, justru keputusan Kongres Budi Utomo di Surakarta, menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia, 1928 M. Sesungguhnya perlawanan terhadap imperialisme sudah dimulai dengan berdirinya Serikat Dagang Islam pada tahun 1905 untuk menanggulangi pengaruh Asing dalam perdagangan kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam.

Berdirinya Perserikatan Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan menjadi cikal bakal perjuangan kaum muslim dalam memajukan pendidik dan di Indonesia. Namun sebelum itu sudah ada R.A. Kartini yang sudah memperjuangkan pendidikan bagi pelajar Non Jawa (Beliau pernah memberikan beasiswa untuk dirinya kepada KH Agus Salim, namun ternyata Agus Salim menolaknya) dan kaum perempuan (membuka madrasah untuk remaja putri) dengan menuliskan surat kepada Abedanon, Direktur Departemen Pendidikan, kerajinan, dan Agama yang diterbitkan dan dikenal sebagai habis gelap teritlah terang. Semakin berkembang pendidikan Islam, berdirilah Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor yang didirikan oleh K.H Ahmad Sahal Pandu Bintang Islam. Namun sejarah Indonesia menuliskan bahwa kebangkitan Pendidikan Nasional baru dimulai dengan didirikannya Taman Siswa Oleh Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922. Kemudian hari peringatannya dinisbatkan pada tanggal lahirnya Ki Hadjar Dewantara.

Antara 1905 sampai 1928 di Pulau Jawa dan Sumatera telah berdiri beberapa organisasi yang benar-benar berakar di tengah masyarakat antara lain:
  1. Sjarikat Dagang Islam pimpinan Hadji Samanhoedi 1905 dan Sjarikat Islam 1906 kemudian pimpinannya diserahkan kepada Oemar Said Tjokroaminoto di Surabaya pada tahun 1912.
  2. Persjarikatan Moehammadijah pimpinan Kiai Hadji Achmad Dahlan di Yogyakarta pada 1912
  3. Hajatoel Qoeloeb pada 1915 yang kemudian berubah nama menjadi Persjarikatan Oelama pimpinan Kiai Hadji Abdoelhalim di Majalengka 1917
  4. Djamiah Nahdlatul Wathon pimpinan Wahab Chasboellah dan Mas Mansoer di Surabaya 1916, kemudian menjadi Djami’ah Nahdlatul Oelama pimpinan Rois Akbar K.H. Hasjim Asj’ari pada 1926
  5. Matlaoel Anwar pimpinan Hadji Mohammad Jasin di Menes, setelah Nahdlatul Oelama berdiri 1926, namanya berubah menjadi Matlaoel Anwar Lil Nahdlatul Oelama
  6. Persatoean Islam pimpinan Hadji Mohammad Joenoes dan Hajdi Zamzam pada 1923 di Bandung. Kelanjutannya A. Hassan dikenal sebagai Guru Utama Persatuan Islam
  7. Jong Islamieten Bond 1925 pimpinan R. Samsoeridjal dan pemimpin pemogokan buruh dari Centraal Sjarikat Islam
Perlu diperhatikan bahwa kesemua organisasi tersebut telah ada jauh sebelum adanya Soempah Pemoeda 1928. Sehingga seorang E.F.E. Douewes Dekker Setiaboedhi menyatakan: Jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Review Buku Api Sejarah – Ahmad Mansur Suryanegara Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan