Latest News
Senin, 16 November 2015

Review Buku Api Sejarah 2 – Ahmad Mansur Suryanegara


Buku api Sejarah 2 yang ditulis oleh sejarawan Indonesia Prof. Ahmad Mansur Suryanegara mengajak kita untuk menengok kembali sejarah Indonesia dari kacamata umat Islam. buku ini merupakan jilid kedua dan melanjutkan pembahasan dari jilid yang pertama. buku kedua ini memaparkan fakta-fakta sejarah dari tahun 1942 hingga masa reformasi sehingga dengan membaca buku kedua ini kita akan mendapatkan sajian utuh sejarah Indonesia karena dua buku api sejarah ini akan menuntaskan keilmuan kita akan sejarah Indonesia yang sudah kita peroleh sebelumnya. Buku Api Sejarah 2 sangat direkomendasikan untuk kita semua yang ingin mengenal akar sejarah Nusantara, karena untuk menulis buku Api Sejarah 2 beliau telah mempelajari ratusan buku sejarah dan laporan penelitian yang dibuktikan dengan daftar pustaka yang menjadi rujukan pada akhir buku ini.

Buku api sejarah 2 ini pertama kali dicetak oleh Salamandani pada pertengahan tahun 2010 baru bisa saya dapatkan saat sudah cetakan keenam yaitu pada pertengahan 2014. Sudah beberapa tahun membacanya namun baru saat ini tergerak untuk menulis reviewnya kembali sembari lebih melekatkan ingatan yang sempat mengelupas. buku ini lebih tebal (sedikit) dari buku pertama besar dan tebal, 595 halaman. Di dalamnya juga disematkan pula dokumentasi berupa foto maupun peta untuk memperkaya khazanah tentang sosok yang ikut menuliskan sejarah di Indonesia. Kalau boleh menilai buku ini bukanlah buku yang netral karena buku ini lebih menonjolkan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, walau terkadang di beberapa pembahasan peran ulama maupun santri itu tidak begitu kentara, kecuali ulama dan tokoh Islam yang turut serta dalam perpolitikan dan pemerintahan.

Bab Kelima Peran Ulama Dalam Pembangunan Organisasi Militer Modern

Setelah memasuki abad ke 20 ulama dan santri dihadapkan pada akhirnya penjajahan dengan ditandainya perang dunia II (1939-1945) dan perang asia timur raya (1941-1945), perang antar negara imperialisme barat dan timur. Kesempatan ini diambil oleh para ulama untuk membangkitkan jiwa keprajuritan para pemuda oleh H.O.S Cokroaminoto dalam kongres Nasional Central Sarekat Islam kemudian menjadikan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) menjadi tentara nasional Indonesia Pasca Proklamasi. Para ulama dari berbagai ormas Islam seperti Wahid Hasyim (NU), Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimejo (Muhammadiyah) dll ikut serta dalam menyusun ideologi negara dan konstitusi. Ulama ikut serta dalam membangun perpolitikan negara dengan membentuk partai Masyumi. Namun pemerintahan Soekarno-Hatta yang didukung ulama ternyata juga mengalami kendala dan terdapat beberapa perlawanan dari organisasi kiri seperti Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sekitar 40 Kesultanan Islam menyerahkan kepemimpinan nasional kepada Soekarno-Hatta, padahal kalau mereka mau mereka bisa membentuk negara sendiri yang berdaulat. Para ulama juga selalu mendukung perjuangan para negarawan dalam berdiplomasi maupun saat bergerilya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kader Islam yang terbaik juga sempat menduduki jabatan sebagai kepala pemerintahan NKRI, Mohammad Natsir. Beliau mengajak elemen-elemen yang sempat melakukan kudeta untuk membubarkan diri kemudian mengajak mereka untuk ikut serta aktif membangun perdamaian negara.

Bab Keenam Peran Ulama Dalam Gerakan Protes Sosial Dan Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air

Ulama adalah tonggak utama dalam kebangkitan masyarakat. Dalam masa perjuangan mereka turut serta dalam menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama meraih kemerdekaan. Ada gerakan protes sosial kala itu yang disebabkan oleh kurangnya bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat. KH Zainal Mustofa dari Indramayu juga memimpin aksi ini yang diikuti oleh masyarakat petani walaupun cenderung bermotif politik, menuntut Indonesia merdeka. Aksi tersebut memicu aksi-aksi lain sehingga pihak jepang semakin tertekan dan memberikan janji bahwa dikemudian hari Indonesia akan merdeka.

PETA merupakan tentara cadangan yang dibentuk oleh jepang bertujuan untuk mempertahankan wilayah Indonesia dari serangan sekutu. Namun karena keadaan rakyat yang semakin memburuk maka tentara PETA mengadakan pemberontakan di berbagai kota seperti cilacap, tulungagung, pengalengan. Cerita pemberontakan paling heroik yaitu pemberontakan di Blitar yang dipimpin oleh Supriyadi. Untuk meredakan pemberontakan maka jepang mengizinkan aktivitas BPUPKI untuk menjalankan tugasnya seperti menyusun ideologi dan konstitusi negara. Di dalam BPUPKI terdapat 15 ulama dari berbagai ormas Islam seperti Muhammadiyah, PSII, PUI, Parindra, Masyumi, PII, PAI dan NU. Perjuangan ulama juga tidak berhenti sampai disitu saja, mereka melanjutkan perjuangan berdiplomasi di PPKI.

Bab Ketujuh Peran Ulama Dalam Menegakkan Dan Mempertahankan Proklamasi

Ulama juga sangat berperan saat proses proklamasi. Ketika kita melihat susunan PPKI maka disana akan ada nama KH. Mas Mansur, beliau adalah tokoh Muhammadiyah. Pasca proklamasi tanggal 18 agustus 1945 terdapat pertemuan awal untuk merumuskan dasar ideologi bangsa dan negara oleh ulama Wahid Hasyim (NU), Ki Bagus Hadikusumo & Kasman Singodimejo (Muhammadiyah), Mohammad Hatta (sumatra utara), teuku mohammad Hasan (aceh). kemudian terdapat resolusi jihad fisabilillah pada tanggal 7 November 1945 oleh muktamar umat Islam sekaligus menghasilkan partai Masyumi. partai Masyumi ini sungguh besar, dia didukung mayoritas ormas Islam, laskar hizbullah dan barisan sabilillah kemudian berperan dalam pembentukan badan keamanan rakyat (BKR).

Untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia umat Islam bertempur melawan kekuatan sekutu dalam pertempuran bandung lautan api, pertempuran 10 november di surabaya, pertempuran karawang bekasi, pertempuran ambarawa yang diliput oleh berbagai media cetak pada masa itu. Selain mendapatkan tekanan dari eksternal, RI yang masih muda ini juga mendapatkan tekanan dari pemberontakan PKI yang sempat menguasai madiun pada tahun 1948, namun akhirnya dapat dipadamkan dan ditangkapnya pimpinan PKI yaitu Amir syarifudin dan muso. Agresi Militer belanda, berdirinya NII, pembentukan negara boneka oleh van mook (Belanda), tertangkapnya Soekarno-Hatta, pembentukan PDRI, perundingan meja bundar, pembentukan RIS turut mewarnai perjuangan Indonesia tetap merdeka dan akhirnya berujung terbentuknya NKRI.

Bab Kedelapan Peran Ulama Dalam Menegakkan Dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pasca konferensi meja bundar terjadi beberapa kudeta di Indonesia yang dilakukan oleh APRA, Andi Azis, dan RMS yang tidak sepakat dengan bentuk negara Indonesia. Pemberontakan tersebut berhasil ditumpas oleh TNI sekaligus sebagai pelajaran berharga dalam menumpas gerakan pengacau keamanan. Mohammad Natsir menyampaikan mosi integral untuk membubarkan negara bagian RIS kemudian membangun NKRI. Mosi integral tersebut disepakati oleh negara bagian kecuali oleh NII (A.Hassan dari Persis sudah berusaha menemui Kartosuwiryo namun ternyata gagal), atas usulan mosi integral tersebut diangkatlah Natsir menjadi perdana menteri. Kartosuwiryo tidak sepenuhnya salah, beliau berusaha mempertahankan wilayah Jawa barat yang ditinggalkan oleh divisi siliwangi karena akibat perjanjian renville dan Roem-royen. Karena berdasarkan perjanjian roem royen wilayah jawa barat menjadi wilayah negara pasundan, negara boneka bentukan Belanda.

Pemerintahan pada kabinet parlementer berumur sangat pendek karena parlemen (DPR) dikuasai oleh pimpinan partai politik yang kurang memahami masalah pemerintahan, menjadikan DPR mudah memberikan evaluasi tidak percaya sehingga sering terjadi pergantian kabinet. Pada tahun 1952 lahirlah partai NU yang mengubah organisasinya menjadi partai dan melepaskan diri dari Masyumi. pada masa menteri agama Wahid Hasyim terdapat pertentangan untuk membubarkan kementerian agama karena dianggap departemen agama tersebut lebih memberikan perhatian yang banyak terhadap umat Islam. Perjuangan ulama untuk mensukseskan pemilu yaitu berperan aktif di Masyumi, partai NU dan masuk ke dalam kabinet serta parlemen. Saat itu partai yang ikut bertarung di pemilu sangat banyak, mencapai ratusan.

Saat di Bandung Presiden Soekarno ingin membubarkan seluruh partai, menghidupkan kembali keputusan PPKI, one system party sama dengan di RRC. Keputusan tersebut diikuti dengan keluarnya dekrit presiden, dibubarkannya Masyumi dan partai sosialis Indonesia, jadi yang masih ada tinggal Partai Nasionalis Indonesia. Kemudian jabatan menteri tidak di dasarkan pada parpolnya, tapi diangkat berdasarkan keahliannya. Demokrasi terpimpin tanpa oposisi. Kebijakan politik tersebut dimanfaatkan oleh PKI untuk melancarkan kudeta (G 30 S/PKI). Menurut Hatta, demokrasi Indonesia sebenarnya demokrasi sosial kolektif. Demokrasi dalam sistem pancasila bukan demokrasi demokrasi-demokrasian, memegang prinsip the right man in the right place. Dengan pengertian tumbuh rasa percaya mempercayai dan rasa toleransi sebesar-besarnya.

Bab Kesembilan Langkah Penyesuaian Ulama Dan Santri Di Era Orde Baru Dan Reformasi

Orde baru yang dipimpin oleh Soeharto bertujuan mengentaskan kemiskinan dan perbaikan ekonomi. Beliau mencanangkan program pembangunan lima tahun yang dilaksanakan selama beberapa puluh tahun. Karena pada masa orde lama terjadi beberapa pertentangan antar ideologi yang berkembang dimasyarakat maka memasuki orde baru beliau menetapkan ideologi tunggal untuk Indonesia, Ideologi Pancasila serta melaksanakan program penataran P-4. Memasuki era orde baru ulama mengalami fase deparpolisasi dengan menetapkan tiga wahana berpolitik yaitu PPP, PDI dan Golkar. Padahal di masa lalu banyak sekali partai Islam yang ikut berkiprah di senayan, namun mereka digabungkan menjadi satu berwujud PPP.

Ulama yang tidak bergabung di parpol diberikan wadah untuk aktif di MUI, DDII, DMI, DKM, Rumah Zakat dll. Dalam periode ini perkembangan Islam semakin baik dengan berdirinya lembaga dakwah, program pembinaan di masjid-masjid, pembangunan masjid yang semakin berkembang, berkembangnya jilbab walaupun ada aksi penangkapan aktivis Islam. Pertumbuhan pendidikan juga meningkat, semakin merebaknya perguruan tinggi, pondok pesantren, sekolah negeri maupun swasta.

Pembangunan ekonomi juga berkembang yang ditandai pembangunan berbagai infrastruktur gedung, bandara, perhatian presiden terhadap KUD dan kelompencapir. Masa masa ini juga terdapat serangan yang berat dari USA karena melalui gerakan politiknya menjauhkan presiden soeharto dari Islam, ketika soeharto mulai mendekat ke Islam USA malah ingin melengserkannya. Serangan ekonomi juga dilancarkan ke Indonesia dengan inflasi drastis Rp 20.000,00 sama dengan $ 1,00.

Presiden Habibie memimpin Indonesia setelah soeharto lengser. Di bawah kepemimpinan beliau Indonesia bisa keluar dari kisis moneter, berjasa dalam pendirian ICMI, perkembangan industri pesawat terbang (IPTN) dan senjata (PINDAD). Beliau dikenal sangat dekat dengan para ulama. KH. Abdurahman Wahid melanjutkan amanah dari habibie dengan menjadi presiden. Terkenal sebagai presiden yang pluralis dengan toleransi yang tinggi antar umat beragama maupun suku bangsa, namun tidak menganggap semua agama itu benar.

Setelah Gus Dur mengakhiri masa jabatannya maka DPR mengangkat Megawati sebagai presiden. Pada masa Megawati ini diadakan Pemilu langsung oleh Rakyat untuk memilih anggota DPR, presiden dan wakil presiden. Pemilu tersebut menghasilkan keputusan berupa terpilihnya SBY dan Yusuf Kalla sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang baru. Umat Islam semakin tahun semakin berhadapan dengan globalisasi sehingga gaya kehidupan masyarakat semakin berat dan modal semakin dikuasai asing. Aliran agama juga semakin merebak dan liberalisme juga menjamur. Maka di sini peran ulama sangat besar untuk membendung hal tersebut sehingga banyak ulama yang mengadakan agenda dzikir bersama dan kajian.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Review Buku Api Sejarah 2 – Ahmad Mansur Suryanegara Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan