Latest News
Thursday, October 22, 2015

Review Buku Namaku Wage


Buku Namaku Wage ( Wage Rudolf Supratman ) karya Umar Nur Zain merupakan cerita sejarah yang disusun menjadi sebuah novel. Novel tersebut menceritakan kehidupan sang komposer lagu wajib negeri kita "Indonesia Raya" yaitu Wage Rudolf Supratman. Namun buku ini bukanlah biografi, karena dalam novel ini sebagian besar merupakan imajinasi dari penulis sendiri berdasarkan semangat, perilaku sifat tokoh yang ditulisnya. Kisah yang ditulis bukan sekedar khayalan, tetapi berdasarkan fakta sejarah berbasis pada perjuangan bangsa indonesia khususnya para pemuda di tahun 1920-1930 an. Buku terbitan Sinar Harapan yang dicetak pada tahun 1985 ini menceritakan berbagai memori tentang Wage Rudolf Supratman Supratman dari ia kecil sampai wafat. Sebelum menulis umar melakukan riset dari berbagai sumber seperti orang orang disekitar wage, meneliti kliping, koran, buku. Apalagi diperkuat dengan pengalaman Umar sebagai wartawan sehingga cukup menjiwai dalam menulis novel ini karena Wage juga seorang wartawan juga.

Awal cerita Wage adalah seorang yang diasuh oleh kakak Rukiyem dan iparnya yang seorang belanda totok yang bernama Van Eldik, mereka tinggal di Makassar. Dari iparnya inilah dia mengembangkan bakatnya dalam seni musik, belajar bermain biola, menggubah lagu, hingga pada akhirnya iparnya tersebut memberikan biola kepada wage sebagai hadiah atas kemajuannya. Bersama kakak iparnya inilah dia melanjutkan sekolah dari sekolah melayu pada tahun 1917 hingga sekolah guru, Noormal School. Menjelang masa dewasanya dia sudah mengenal pergerakan di Makasar dan Pulau Selebes Atau Sulawesi. Di Makasar inilah dia juga mengenal perempuan yang sepertinya disukainya, seorang noni belanda. Di Makasar pula dia juga bekerja pada band, sebagai penggesek biola pada setiap acara yang digelar. Hingga terjadi pergolakan pada jiwanya dia lalu hijrah ke Pulau Jawa.

Dia transit di Surabaya tempat kakaknya yang lain, namun setelah beberapa langkah dia harus mendekam di penjara karena dicurigai sebagai pemuda pergerakan. Dia bisa keluar dari penjara karena dia meyakinkan tentara belanda bahwa dia bukan pemuda pergerakan bermodalkan gesekan biolanya, dimana hampir tidak ada pemuda pribumi yang bisa memainkannya kecuali berasal dari keluarga yang loyal kepada belanda. Mulai kebagian tengah kita akan dibawa ke masa kecil wage ketika hidup di tangsi KNIL, keluarganya, bekerja di kantor pengacara, serta pengalaman ketika dia menjadi wartawan untuk pertama kalinya di jakarta setelah dia ke jawa. Pergerakan Tan Malaka, Cokroaminoto, Abdul Muis, Sarekat Rakyat juga dibahas di sini dengan sudut pandang berbeda. Selama di Jakarta dia terpaksa hidup kekurangan walau sebenarnya dia mampu hidup senang serta berkecukupan. Karena panggilan hati nuraninyalah dia memilih melawan Belanda demi negeri ini.

Menjelang akhir dia mengalami pergolakan tentang penjajahan Belanda, dia mulai menggubah lagu Indonesia Raya, perform di Sumpah Pemuda hingga membimbing pemuda pemudi untuk menyanyikannya dan mengenal Mohammad Yamin dala forum tersebut. Akhir hayatnya dia bisa bertemu Dr. Sutomo di Surabaya, bertemu pula dengan kakak iparnya Van Eldik yang bangga atas karyanya. Beliaupun akhirnya wafat setelah tidak begitu lama tinggal di surabaya karena diperkirakan terkena penyakit jantung. Kisah penderitaan yang pernah disaksikannya telah disusun menjadi buku tetapi dilarang terbit oleh Belanda, bahkan lagu ciptaan yang fenomenal dilarang diperdengarkan lagi. Beliau mungkin tidak berjuang secara fisik namun dari pemikiran dan karyanya lah kita bisa melihat apa yang diperjuangkannya, kemerdekaan Indonesia.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Review Buku Namaku Wage Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan