Latest News
Sabtu, 17 Oktober 2015

Review Buku Membuka Pintu Langit - Gus Mus


Buku membuka pintu langit, momentum mengevaluasi diri merupakan kumpulan tulisan (kolom) KH Ahmad Mustofa Bisri yang berserakan di berbagai media massa. Gus Mus menekankan perlunya kita mengevaluasi perilaku masing masing. Ia mengajak kita mendidik diri sendiri untuk bersikap jujur dan ikhlas, termasuk dalam mengevaluasi perilaku kita dalam hubungan dengan sesama maupun dengan Tuhan. Penerbit Kompas berkenan menerbitkan kompilasi tulisan beliau karena memang tulisan beliau memang relevan, tak berbatas waktu untuk senantiasa digunakan berefleksi setiap warga Indonesia baik berupa rakyat biasa sampai rakyat yang dianggap luar biasa biasa padahal dia hanya wakil saja pangkatnya.

Bab I memaparkan tentang perlunya menyegarkan akhlak. Beliau menyoroti bagaimana penggunaan bahasa di dalam kehidupan kita, termasuk dalam berbangsa dan bernegara. Untuk itu beliau memaparkan bagaimana Rasulullah SAW berbahasa dan bersikap untuk kita teladani. kerendahan hati juga perlu kita pupuk seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan sahabatnya. Kita juga harus bercermin ketika sedang bersosialisasi dengan masyarakat, kehati-hatian dalam bersikap supaya tidak saling menyakiti, memahami perbedaan yang ada, bersabar ketika terdapat masalah yang pelik, dan mau tabayun (Klarifikasi) ketika ada isu yang tidak sesuai dengan realita, mau meminta maaf dan memaafkan.

Bab II menelisik tentang kepentingan menjadi panglima. Beliau memberikan contoh berbagai tokoh masyarakat yang berperilaku tidak sesuai dengan posisinya, misalnya wakil rakyat yang tidak jelas apa yang diperjuangkannya, malah memperjuangkan diri sendiri. Dalam dunia pemerintahan sesungguhnya kepentingan itu masih jadi panglima. Tokoh agama malah mengurusi kursi di parlemen, padahal moral masyarakat sedang mengalami degradasi. Masyarakat begitu mendewakan dunia, contohnya kedudukan dan harta. Padahal mereka di dunia hanyalah sekedar mampir saja. Sehingga kita kita perlu mengganti "kepala lama" dengan "kepala baru". Bisa kita sebut dengan revolusi mental dimana tantangan pertamanya adalah berani mengubah pandangan kita terhadap dunia.

Bab III menyoroti tentang bagaimana memaknai azab dan musibah. Di dalam bab ini Gus Mus menyelipkan cerita tentang amanah yang bisa menjadi musibah ketika tidak dipegang oleh pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan dan jamannya, yaitu berupa cerita Abu Bakar yang menunjuk Umar sebagai penggantinya. Namun anehnya sekarang malah jabatan dan amanah jadi rebutan, padahal gara gara jabatan pun kita bisa mendapat laknat dari Allah SWT. Beliau juga membahas tentang pemaknaan Surat Ar-Ra'du : 11 yang seringkali disalahpersepsikan. Kebanyakan orang juga tidak bisa membedakan musibah, apakah karena kesengajaan atau kekhilafan. Sehingga rakyat Indonesia saling mengkambinghitamkan seseorang sebagai penyebab suatu bencana, misalnya kabut asap yang terjadi di musim kemarau yang begitu ironis sekali. Tak lupa juga peran pers dan punakawan pendamping pemimpin juga begitu berpengaruh terhadap suatu negara dan kehidupan seseorang. Mereka yang memiliki dua sisi, terkadang bisa menikam, menjilat dan menyanjung sehingga kalau tidak hati-hati bisa merusak kehidupan perpolitikan.

Bab IV membahas tentang syahwat politik dari berbagai tokoh di indonesia yang hanya bermodal ingin tanpa disertai kompetensi yang cukup sehingga cenderung berpolitik praktis saja, peran NU dalam perkembangan indonesia khususnya politik, mengenal struktur ormas NU, pertikaian antara partai dengan partai dan tokoh dengan tokoh untuk mendapatkan tampuk kepemimpinan. Kalau kita mau merenung siklus perpolitikan dari tahun 1945 sampai 2015 sama saja, saling menusuk dan menikung. Mereka mempersepsikan bahwa jabatan itu paling menjamin kehidupan dan masa depan bagi suatu kelompok dan perorangan.

Di dalam bab V beliau mengulas tentang bagaimana membuka pintu langit. Beliau mengajak kita untuk berefleksi bahwa untuk membuka pintu langit tidak cukup dengan cara vertikal, bahwa sesungguhnya cara horizontal yang berupa interaksi dengan dengan sesama manusia merupakan kunci juga untuk membuka pintu langit yang seringkali kita lupakan. Seperti adab kepada sesama jamaah haji, kepekaan kita tentang gaya hidup, cara hidup, keegoisan diri, dan cinta berlebihan akan diulas beliau dengan sederhana namun berasa. Bagaimana kita memandang bulan ramadhan dan idul fitri, menilai orang lain dan diri sendiri untuk mengetahui pantas dan ketidakpantasan mendapatkan amanah. Nukilan beliau yang paling bagus menurut saya adalah Nasehat Abu Bakar Ash Shidiq kepada Umar Bin Khatab : menghadapi amanat besar seperti itu adala dua orang yang bisa masuk neraka. Pertama, orang yang mengambilnya padahal dia tahu ada orang lain yang lebih pantas. Kedua, orang yang pantas menerima tapi menolak, karena lari dari tanggung jawab.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Review Buku Membuka Pintu Langit - Gus Mus Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan