Latest News
Selasa, 19 Mei 2015

Guru, Dakwah dan Bank


Oleh: Hasan Al-Jaizy

Ada ga bank yang hidup di desa kecil dengan perekonomian mampet? Ada ga bank yang hidup di bahari dengan perekonomuan mepet? Yang ada, selama tanah menghijau, bank akan datang menawarkan sistem mereka.

Ada ga bank yang secara totalitas merakyat dengan mayoritas sistemnya? Ada ga bank yang sistemnya sangat tasamuh seperti sistem muamalah bertetangga sehingga ketika peminjam memang kere, mereka mau menangguhkan jauh tempo apalagi memaafkan atau bahkan malah membantu investasi cuma-cuma tanpa pamrih? Ada ga bank berlabel syariah bersikap totalitas dalam menghidupkan ekonomi syariah tanpa memandang aspalnya jalan atau masih tanahnya?

Kalau pak guru hanya mau menanam investasi akhirat di ladang hijau kekayaan, maka apa beda pak guru dengan bank?

Malah dulu, Rasulullah selain berdakwah, rajin sedekah. Sampai suatu kala, banyak sahabat minta sedekah sama beliau. Lagi dan lagi. Sampai saldo Rasulullah habis blas. Ada seorang sahabat datang lalu minta juga transfer sedekah. Beliau terdiam. Terdiam sedih. Bukan karena sedih kok umatnya minta-minta pada beliau dan ga mikirin beliau beaok mau makan apa. Tapi sedih tidak bisa lagi memberi materi.

Pernah setelah terbit matahari, Rasulullah pulang ke rumah. Lalu bertanya pada sayyidatina Aisyah, "Ada makanan ga?" Jawabannya ga ada sama sekali. Ga punya. Apa Rasulullah langsung marah merasa istrinya ga punya ilmu management keuangan dan ga produktif dalam urusan makanan? Nggak.
Rasulullah malah bilang, "Ya kalau begitu, aku puasa aja deh."

Pak Guru, selalu ada jalan keluar dari keterhimpitan ekonomi. Tapi kebanyakan Pak Guru kini, ekonomi tidak terhimpit, tetap saja ga punya jalan keluar dari perasaan 'jadi guru kok ga enak ya, ngasih banyak dapet minim'.

Ini bukan berarti kita ga boleh jadi orang kaya. Malah bagusnya jadi orang kaya, selagi rajin sedekah. Suka ngasih. Suka beri sumbangsih. Ga bisa kasih harta, ya kasih ilmu. Ga bisa kasih keduanya, ya kasih senyuman.

Menabung pangkal kaya, kata mereka. Benar. Tapi yang lebih benar adalah: 'bersedekah adalah pangkal kaya, pangkal bahagia'. Kok bisa? Karena sedekah itu tabungan dan investasi dunia akhirat. Kebahagiaan raut orang miskin atau berhajat karena disedekahi itu, lebih mahal dari segala materi. Karena hubungan sosial itu tak bisa dipecahkan menjadi nominal rupiah. Lebih-lebih doa mereka, tak terbayarkan dengan segala kartal.

Maka Pak Guru, ladang kering harusnya diairi, bukan malah dihindari. Dan ladang basah jangan lagi diairi, karena ketika banjir, sawah-sawah pun akan menjadi tak lagi berfaedah. Maka Pak Guru lihat, di tanah basah yang kebanjiran, ceramah Pak Guru tak lagi membekas di hati mereka. Dan sepulang ceramah, pikiran Pak Guru malah berpatuk pada nominal sumbangsih. Tentu Pak Guru bukanlah pengemis, melainkan pengemis ilmu. Bermulialah, maka mulialah namamu. Pak Guru.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Penyejuk hati yang dikutip dari salah satu pesan muhasabah di Grup Whatsapp
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Guru, Dakwah dan Bank Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan