Latest News
Selasa, 05 Agustus 2014

Laporan Ekologi Tumbuhan Pola

Pengetahuan tentang populasi sebagai bagian dari pengetahuan ekologi telah berkembang menjadi semakin luas. Dinamika populasi tampaknya telah berkembang menjadi pengetahuan yang dapat berdiri sendiri. Dalam perkembangannya pengetahuan itu banyak mengembangkan kaidah-kaidah matematika terutama dalam pembahasan kepadatan dan pertumbuhan populasi. Pengembangan kaidah-kaidah matematika itu sangat berguna untuk menentukan dan memprediksikan pertumbuhan populasi organisme di masa yang akan datang.
Penggunaan kaidah matematika itu tidak hanya memperhatikan pertumbuhan populasi dari satu sisi yaitu jenis organisme yang di pelajari, tetapi juga memperhatikan adanya pengaruh dari faktor-faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Pengetahuan tentang dinamika populasi menyadarkan orang untuk mengendalikan populasi dari pertumbuhan meledak ataupun punah (Nurhidayah, 2011).

JUDUL                       : POLA

TUJUAN                    :

Untuk mengetahui pola distribusi spesies Digitaria sanguinalis di wilayah SMAN 8 Surakarta

DASAR TEORI         :

Pengetahuan tentang populasi sebagai bagian dari pengetahuan ekologi telah berkembang menjadi semakin luas. Dinamika populasi tampaknya telah berkembang menjadi pengetahuan yang dapat berdiri sendiri. Dalam perkembangannya pengetahuan itu banyak mengembangkan kaidah-kaidah matematika terutama dalam pembahasan kepadatan dan pertumbuhan populasi. Pengembangan kaidah-kaidah matematika itu sangat berguna untuk menentukan dan memprediksikan pertumbuhan populasi organisme di masa yang akan datang.
Penggunaan kaidah matematika itu tidak hanya memperhatikan pertumbuhan populasi dari satu sisi yaitu jenis organisme yang di pelajari, tetapi juga memperhatikan adanya pengaruh dari faktor-faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Pengetahuan tentang dinamika populasi menyadarkan orang untuk mengendalikan populasi dari pertumbuhan meledak ataupun punah (Nurhidayah, 2011).
Tumbuhan berbagai jenis hidup secara alami di suatu tempat membentuk suatu kumpulan yang di dalamnya menemukan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat kerukunan untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini terbentuk sutu derajat keterpaduan.
Suatu komunitas dapat mengkarakteristikkan suatu unit lingkungan yang mempunyai kondisi habitat utama yang seragam. Unit lingkungan ini disebut biotop. Biotop ini juga dapat dicirikan oleh unsur organismenya, misalnya padang alng-alang, hutan tusam, hutan cemara, rawa kumpai, dan sebagainya (Santoso, 1994).
Pola adalah distribusi menurut ruang. Data pola penyebaran tumbuhan dapat memberi nilai tambah pada data densitas dari suatu spesies tumbuhan. Pola penyebaran tumbuhan dalam suatu wilayah dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu:
Penyebaran secara acak
jarang terdapat di alam. Penyebaran ini biasanya terjadi apabila faktor lingkungan sangat seragam untuk seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifat-sifat untuk berkelompok dari organisme tersebut. Dalam tumbuhan ada bentuk-brntuk organ tertentu yang menunjang untuk terjadinya pengelompokan trmbuhan.
 Mengelompok
Pola penyebaran mengelompok (Agregated atau undispersed), menunjukan bahwa hadirnya suatu tumbuhan akan memberikan indikasi untuk menemukan tumbuhan yang sejenis. Anggota tumbuhan yang ditemukan lebih banyak ditemukan secara mengelompok dikarenakan ada beberapa alasan :
1) Reproduksi tumbuhan yang menggunakan
ruuner atau rimpang.
Reproduksi tumbuhan yang menggunakan biji cenderung jatuh di sekitar induk.
2) Lingkungan /habitat mikro pada tiap spesies yang mempunyai kesamanan pada anggota spesies. Habitat dikatakan homogen pada lingkungan makro, namun pada lingkungan mikro sangat berbeda. Mikrositus yang paling cocok untuk suatu spesies cenderung ditempati lebih padat untuk spsies yang sama.
Teratur
Pola penyebaran teratur jika secara reguler dapat ditemui pada perkebunan, agricultur yng lebih diutamakan efektifitas dan efisiensi lahan. Penyebaran secara merata, penyebaran ini umumnya terdapat pada tumbuhan. Penyebaran semacam ini terjadi apabila da persaingan yang kuat antara individu-individu dalam populasi tersebut. Pada tumbuhan misalnya persaingan untuk mendapatkan nutrisi dan ruang.
Dari ketiga kategori ini, rumpun/berkelompok adalah pola yang paling sering diamati di lam dan merupakan gambaran pertama dari kemenangan dalam keadaan yang disukai lingkungan. Pada tumbuhan penggerombolan disebabkan oleh reproduksi vegetatif, susunan benih lokal dan fenomena lain. Dimana benih-benih cenderung tersusun dalam kelompok. Pada tumbuhan, penyebaran acak seperti ini adalah umum dimana penyebaran benih disebabkan angin (Michael, 1994).
Populasi cenderung diatur oleh komponen-komponen fisik seperti cuaca, arus air, faktor kimia yang membatasi pencemaran dan sebagainya dalam ekosistem yang mempunyai keanekaragaman rendah atau dalam ekosistem yang menjadi sasaran gangguan-gangguan luar yang tidak dapat diduga, sedangkan dalam ekosistem yang mempunyai keanekaragaman tinggi, populasi cenderung dikendalikan secara biologi dan seleksi alam.Faktor negatif ataupun positif bagi populasi adalah , Ketidaktergantungan pada kepadatan (density independent), apabila pengaruhnya tidak tergantung dari besarnya populasi. Contohnya iklim sering kali, tetapi tidak berarti selalu. Ketergantungan pada kepadatan (density dependent), apabila pengaruhnya pada populasi merupakan fungsi dari kepadatan. Contohnya faktor biotik (persaingan, parasit, dan sebagainya) tetapi tidak selalu (Odum,1993).

Alat dan Bahan

Alat navigasi
Kompas bidik               1 buah
Peta wilayah               1 buah
Protaktor                     1 buah
Patok                           72 buah
Rafia                            secukupnya
Papan jalan                 1 buah
Alat tulis                                  secukupnya
Label                           secukupnya
Kantong plastic                       secukupnya

CARA KERJA

Menentukan lokasi yang memiliki heterogenitas spesies
Mencari peta lokasi yaitu peta citra daerah SMA N 8 Surakarta melalui Google earth dengan luas daerah kurang lebih 2,5 hektare
Menentukan batas daerah berupa titik – titik yang dapat diamati dengan menggunakan GPS dan memasukannya ke dalam google earth.
Mentransformasi peta citra yang didapat dari google earth menjadi peta topografi menggunakan CorelDraw
Menentukan jumlah titik sampling dengan urutan sebagai berikut :
Luas daerah total        =          2,5 ha
Luas area cuplikan      =          1% x luas wilayah total

*nb : berdasarkan kesepakatan bersama, jumlah plot per kelompok direduksi sebanyak 18 plot per kelompok, sehingga jumlah plot dalam satu lokasi SMA N 8 Surakarta adalah sebanyak 90 plot.

Menentukan titik – titik sampling dalam peta secara acak dengan menggunakan undian
Mencari koordinat masing – masing titik sampling
Membagi setiap daerah menjadi enam bagian
Mencari lokasi titik di lapangan dengan menggunakan protaktor dan kompas
Menentukan jarak dan resection antar titik
Menentukan titik start lokasi tersebut
Menentukan resection dan intersection dari titik lokasi
Memasang plot pada titik yang telah ditentukan
Mengidentifikasi spesies – spesies yang ditemukan dalam plot.
Menentukan single plants dari seluruh spesies yang ditemukan
Membagi satu spesies single plant yang berbeda untuk setiap individu
Menentukan pola distribusi spesies single plant dengan menggunakan metode kuadrat acak (Chi square) rumus Poison.
Menganalisis hasil perhitungan X2 hitung terhadap X2 tabel dengan signifikansi 1%.
Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
Ho= pola distribusi spesies Digitaria sanguinalis tersebar
Ha= pola distribusi spesies Digitaria sanguinalis mengelompok
Jika X2 hitung < X2 tabel maka Ho diterima sehingga pola penyebaran spesies X tersebar. Jika X2 hitung > X2 tabel maka Ha diterima sehingga pola penyebaran spesies Digitaria sanguinalis mengelompok.

DATA PENGAMATAN

Tabel 1
Spesies : Digitaria sanguinalis
Plot ke -
Jumlah individu
1
0
2
0
3
0
4
0
5
0
6
0
7
0
8
0
9
0
10
0
11
0
12
0
13
0
14
36
15
0
16
0
17
0
18
0
19
0
20
0
21
0
22
0
23
0
24
0
25
0
26
14
27
0
28
0
29
0
30
0
31
0
32
0
33
0
34
0
35
0
36
0
37
0
38
0
39
0
40
0
41
0
42
0
43
0
44
0
45
0
46
0
47
0
48
0
49
0
50
0
51
0
52
0
53
0
54
0
55
0
56
0
57
0
58
0
59
0
60
0
61
0
62
0
63
0
64
0
65
0
66
0
67
0
68
0
69
5
70
0
71
0
72
0
73
0
74
0
75
0
76
0
77
0
78
0
79
0
80
0
81
0
82
0
83
0
84
0
85
0
86
0
87
0
88
0
89
0
90
0

PEMBAHASAN

Analisa kuantitatif

Tabel 2
A
B
C
D
E
0
87
0
76,18327036
1,535792
1
0
0
12,69721173
12,69721
2
0
0
1,05810098
3,172394
3
0
0
0,05878339

4
0
0
0,00040822

5
3
15
0,00001361

90
15
89,99778828
17,4054
KETERANGAN :
A = menunjukkan densitas Digitaria sanguinalis ada disetiap plot dengan ketentuan
0 jika densitas Digitaria sanguinalis pada plot tidak ada
1 jika densitas Digitaria sanguinalis pada plot 1
2 jika densitas Digitaria sanguinalis pada plot 2
3 jika densitas Digitaria sanguinalis pada plot 3
4 jika densitas Digitaria sanguinalis pada plot 4
5 jika densitas Digitaria sanguinalis pada plot ≥ 5
B = menunjukkan jumlah plot yang ditempati Digitaria sanguinalis sesuai kategori pada kolom A
C = menunjukkan hasil kali A dan B
D = menunjukkan besarnya frekuensi harapan dengan menggunakan rumus poison
e-m(mx/X!)(jumlah plot)
e = 2,7183
Dengan m = ∑ C/ ∑B
E = menunjukkan nilai chi kuadrat dengan persamaan x2 = (B-D)2/D
Syarat nilai harapan yang memenuhi adalah 1 % dari jumlah plot. Sehingga nilai harapan yang memenuhi adalah 1/90 = 0,9

Karena pada H3, H4 dan H5 kurang dari 0,9 maka nilai H4 dan H5 ditambahkan dengan H2 menjadi = 1,05810098 + 0,05878339 + 0,00040822 + 0,00001361 = 1,11730619
Untuk mencari nilai Σx2 dapat dihitung dengan rumus atau persamaan sebagai berikut :
X2 = (B-D)2/D
sehingga
Xo2 hitung = (87 - 76,18327036) 2/76,18327036       =  1,535792
X12 hitung = (0 - 12,69721173) 2/12,69721173         =  12,69721
X22 hitung = (3 – 1,11730619) 2/1,11730619             =  3,172394
Σx2 hitung = 1,535792 + 12,69721 + 3,172394         = 17, 4054
Dengan signifikansi 1%, maka di peroleh dk = 3 sehingga db = dk-2 = 1
X2 hitung = 17,4054
X2 tabel = 6,635
Nilai X2 hitung  > X2 tabel, sehingga Ha terima.
Kesimpulan  :
Spesies Digitaria sanguinalis merupakan tanaman dengan pola penyebaran  mengelompok.

Analisa kualitatif

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi spesies Digitaria sanguinalis di wilayah SMA N 8 Surakarta. Dalam ekologi dikembangan suatu cara untuk memahami pola penyebaran individu dalam populasinya yaitu dengan memanfaatkan penyebaran Poisson. Pemanfaatan jumlah individu yang berakar dalam tanah dihitung dalam kuadrat dan merupakan data pengamatan. Data harapan dihitung dengan rumus Poison yang hanya memerlukan jumlah rata rata tumbuhan per kuadrat. Perbedaan antara data pengamatan dengan data harapan dinalisis dengan chi square.
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus poison didapatkan bahwa jumlah X2 hitung lebih besar dari X2 tabel, maka Ha diterima. Jadi tumbuhan Digitaria sanguinalis memiliki pola distribusi/pola persebaran mengelompok di wilayah SMA N 8 Surakarta. Dalam pola mengelompok ini hadirnya suatu tumbuhan berarti akan memberikan indikasi untuk menemukan tumbuhan yang sejenis.
Digitaria sanguinalis termasuk jenis rumput- rumputan, mempunyai kapasitas produksi tinggi, reproduksi dan penyebar luasan yaitu tiap tumbuhan dapat menghasilkan ribuan biji, juga berkembang biak melalui stolon dan rhizoma. digitaria pertumbuhannya cepat dan sangat mudah bersaing. digitaria mudah tumbuh pada tempat yang berbeda- beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai kaya nutrisi. untuk memenuhi kebutuhan unsur hara, air, sinar matahari mampu berkompetisi kuat. (Barus, 2003)
Perkembangbiakan menggunakan biji (generatif) maupun stolon dan rhizoma (vegetatif), pada tahun pertama tumbuh secara vegetatif dan menghasilkan biji pada tahun kedua (Tjitrosoedirjo, et al. 1984). stolon adalah akar yang tumbuh pada setiap ruas dari batang yang menjalar diatas tanah (Ilroy, 1977), sedangkan rhizoma adalah batang yang menjalar dibawah tanah dan hidupnya dapat bertahun tahun, batang ini dapat menjadi tumbuhan baru. dispersi adalah bagaimana individu menyebar atau menempati wilayahnya dapat juga diartikan sebagai pola distribusi organisme di muka bumi (Lincoln, et all dikutip oleh Purnomo, 2007).
Karena berkembangbiak dengan stolon dan rhizoma inilah Digitaria sanguinalis persebarannya mengelompok. Selain itu Reproduksi tumbuhan yang menggunakan biji cenderung jatuh di sekitar induk. Sebagian besar populasi sampai batas tertentu memperlihtkan pola persebaran berkelompok. pola ini merupakan pola persebaran yang paling umum, dimana individu bergerombol dalam kelompok- kelompok. tumbuhan ini terumpun pada lokasi ini dimana kondisi tanah dan faktor lingkungan lainnya mendukung (Campbell et al, 2000)
Tiga faktor pokok lingkungan yang menetukan pertumbuhan, reproduksi dan distribusi Digitaria sanguinalis adalah :
klimatik ; terdiri atas cahaya, temperatur, air, dan angin. gulma digitaria sama halnya tumbuhan lain memerlukan lingkungan yang sesuai.
edafik : faktor tanah yang turut menentukan persebaran digitaria seperti kelembaban tanah, aerasi, PH tanah, unsur hara tanah.
biotik : yaitu tumbuhan dan hewan yang ada pada area pertumbuhan.

KESIMPULAN

Dengan signifikansi 1%, maka di peroleh dk = 3 sehingga db = dk-2 = 1, X2 hitung = 17,4054, X2 tabel = 6,635. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus poison didapatkan bahwa jumlah X2 hitung lebih besar dari X2 tabel, maka Ha diterima. Jadi tumbuhan Digitaria sanguinalis memiliki pola distribusi/pola persebaran mengelompok di wilayah SMA N 8 Surakarta. Dalam pola mengelompok ini hadirnya suatu tumbuhan berarti akan memberikan indikasi untuk menemukan tumbuhan yang sejenis.
Digitaria sanguinalis termasuk jenis rumput- rumputan, berkembang biak melalui stolon dan rhizoma. Karena berkembangbiak dengan stolon dan rhizoma inilah digitaria ini persebarannya mengelompok. Selain itu Reproduksi tumbuhan yang menggunakan biji cenderung jatuh di sekitar induk.
Tiga faktor pokok lingkungan yang menetukan pertumbuhan, reproduksi dan distribusi Digitaria sanguinalis adalah :
klimatik ; terdiri atas cahaya, temperatur, air, dan angin. gulma digitaria sama halnya tumbuhan lain memerlukan lingkungan yang sesuai.
edafik : faktor tanah yang turut menentukan persebaran digitaria seperti kelembaban tanah, aerasi, PH tanah, unsur hara tanah.
biotik : yaitu tumbuhan dan hewan yang ada pada area pertumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Barus, E. 2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Yogyakarta : Kanisius
Campbll, N.A., BJ.B. Reece. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga
Ilroy. M. 1977. Pengantar Padang Rumput Tropika. Jakarta : Pradnya Paramita
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta: UI Press
Odum, Eugene., 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta : UGM
Purnomo, H. 1989. Monografi Genus Digitaria Haller. Yogyakarta : UGM

Tjitrosoedirjo, S., I. Hidayat, J. Wiroatmojo. 1984. Pengelolaan Gulma Di Perkebunan. Jakarta : Gramedia
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Laporan Ekologi Tumbuhan Pola Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan