Latest News
Jumat, 08 Agustus 2014

Laporan Ekologi Tumbuhan LCC

Populasi tumbuhan adalah sekelompok individu tumbuhan sejenis yang hidup di suatu habitat atau lingkungan tertentu dan dapat melakukan persilangan di anatara sesama jenisnya yang menghasilkan keturunan yang fertil.(Suswanto, 2004)
Populasi tumbuhan dengan dinamikanya dapat diamati dengan melihat penyebarannyapermukaan bumi, jarak yang tidak sama antara tumbuhan satu dan tumbuhan lainnya disebabkan karena perbedaan lingkungan, sumber daya, tetangga dan ggangguan. Perbedaan lingkungan tidak hanya mempengaruhi dan memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu, tetapi sekaligus merubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu.

Judul
Analisis vegetasi pada Lower Crop Community (LCC) di lokasi Mojosongo
Tujuan
Menentukan besarnya kontribusi masing – masing spesies terhadap vegetasi
Mengetahui distribusi masing – masing spesies
Menghitung nilai penting masing – masing spesies
Dasar Teori
Populasi tumbuhan adalah sekelompok individu tumbuhan sejenis yang hidup di suatu habitat atau lingkungan tertentu dan dapat melakukan persilangan di anatara sesama jenisnya yang menghasilkan keturunan yang fertil.(Suswanto, 2004)
Populasi tumbuhan dengan dinamikanya dapat diamati dengan melihat penyebarannyapermukaan bumi, jarak yang tidak sama antara tumbuhan satu dan tumbuhan lainnya disebabkan karena perbedaan lingkungan, sumber daya, tetangga dan ggangguan.
Perbedaan lingkungan tidak hanya mempengaruhi dan memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu, tetapi sekaligus merubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu.
Persoalan khusus ekologi populasi
Distribusi dan kelimpahan tumbuhan dalam ruang dan waktu merupakan problema bagi ekologi populasi tumbuhan, karena tumbuhan mampu menghasilkan individu baru dengan melalui :
Aseksual
Kaitan reproduksi tumbuhan yang dapat dilakukan dengan aseksual (Ramet) maka batasan populasi tidak hanya sekedar pada indvidu baru namun juga percabangan, ataupun perangkat organ baru yang mampu merespon lingkungan tempat hidupnya, sehingga populasi tumbuhan tidak hanya dilihat dari distribusi dan dinamika individu tumbuhan, tatapi juga termasuk pertumbuhan dinamik individu tumbuhan sendiri, seperti cabang, ranting, ataupun propagul.
Seksual
Keterkaitanreproduksi tumbuhan yang dilihat dari cara reproduksi seksual (genet) maka dinamika dan distribusi tumbuhan diamati dari pertambahan individu. Berdasarkan batasan di atas dapat diketahui reproduksi seksual dan aseksual dibedakan jelas dalam suatu vegetasi.
Penyebaran tumbuhan, kehidupan, pola pertumbuhan serta kecepatan reproduksi semuanya mencerminkan adaptasi tumbuhan tersebut dengan lingkungannya. Parameter populasi yang dapat digunakan untuk mengukur aspek dalam populasi serta model pertumbuhan diantaranya dapat ditinjau dari:
a.Keluasan penyebaran distribusi
b.Kecepatan pertumbuhan
c.Frekuen gen
d. Densitas
e.Perbandingan antara sex ratio
f. Pola penyebaran
g.Struktur umur
Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978), analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi tumbuh-tumbuhan. Cain dan Castro (1959) dalam Soerianegara dan Indrawan (1978) menyatakan dalam penelitian yang mengarah pada analisis vegetasi, titik berat penganalisisan terletak pada komposisi jenis atau jenis. Struktur hutan dapat dipelajari dengan mengetahui sejumlah karakteristik tertentu diantaranya, densitas, frekuensi, dominansi dan nilai penting.
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya (Syafei, 1990).
Kershaw (1973) mengemukakan bahwa bentuk vegetasi dibatasi oleh tiga komponen pokok yaitu: (1) stratifikasi yang adalah lapisan penyusun vegetasi (strata) yang dapat terdiri dari pohon, tiang, perdu, sapihan, semai dan herba. (2) sebaran horisontal dari jenis penyusun vegetasi tersebut yang menggambarkan kedudukan antar individu, (3) banyaknya individu dari jenis penyusun vegetasi tertentu. Selanjutnya dikatakan bahwa penguasaan suatu jenis terhadap spesies lainnya ditentukan berdasarkan Indeks Nilai Penting (Kainde, R.P.,dkk, 2011:2).
Cara untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode Berpetak (Teknik sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur, Metode Garis Berpetak) dan Metode Tanpa Petak (Metode berpasangan acak, Titik pusat kuadran, Metode titik sentuh, Metode garis sentuh, Metode Bitterlich) (Kusuma, 1997).
Densitas, dominansi, frekuensi dan pola distribusi tumbuhan pada spesies penyusun vegetasi
Densitas, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area tersebut. Densitas jarang bersifat tetap, jumlahnya akan selalu berubah sepanjang waktu dan tempat. Besar populasi dapat diukur berdasarkan:
a. Kelimpahan yaitu jumlah mutlak individu dalam populasi
b.Kepadatan jumlah adalah jumlah insidu per-satuan luas digunakan untuk menyatakan ukuran individu dalam populasi yang relatif sama.
c. Kepadatan biomassa yaitu kepadatan yang dinyatakan dalam istilah berat basah, berat kering, volume, atau kadar karbon dan nitrogen per satuan luas atau volume.
Dominan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Sedangkan frekuensi ditentukan berdasarkan densitas dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%) (Surasana, 1990).
Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran pola penyebaran suatu jenis, dan menyebar keseluruh kawasan atau kelompok. Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan. Raunkiser dalam shukla dan Chandel (1977) membagi frekuensi dalm liama kelas berdasarkan besarnya persentase.Frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu spesies di dalam suatu habitat.
Nilai penting digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Dominansi Relatif, Frekuensi Relatif dan Dominansi Relatif (Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).
Jika disusun dalam bentuk rumus maka akan diperoleh:
Nilai Penting=DsR + DmR + FR
Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam tabel. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. (Surasana, 1990).
Penyebaran populasi adalah pergerakan individu ke dalam atau ke luar populasi. Pada tumbuhan individu dapat berupa biji, spora, semai atau pohon yang ditanam manusia, misalnya biji yang ada dalam buah dimakan burung lalu jatuh ke suatu tempat lain penyebaran populasi ini berparan penting dalam penyebaran individu secara geografi atau daerah yang penyebarannya dapat disebabkan oleh iklim, angin, terbawa air, atau mahluk hidup lain.
Penyebaran populasi di alam berlangsung ada 3 cara yaitu
1.Emigrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke luar dari habitat populasi ke habitat lain lalu individu tersebut tumbuh menetap di habitat bru.
2.Imigrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke suatu daerah populasi dan individu tersebut meninggalkan daerah populasi asalnya.
3.Migrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke luar dan dalamsecara periodik.

Alat dan Bahan
Alat navigasi
Kompas bidik1 buah
Peta wilayah1 buah
Protaktor1 buah
Patok72 buah
Rafiasecukupnya
Papan jalan1 buah
Alat tulissecukupnya
Labelsecukupnya
Kantong plasticsecukupnya
Cara Kerja 
Menentukan lokasi yang memiliki heterogenitas spesies
Mencari peta lokasi yaitu peta citra daerah Mojosongo melalui Google earth dengan luas daerah kurang lebih 3 hektare
Menentukan batas daerah berupa titik – titik yang dapat diamati dengan menggunakan GPS dan memasukannya ke dalam google earth.
Mentransformasi peta citra yang didapat dari google earth menjadi peta topografi menggunakan CorelDraw
Menentukan jumlah titik sampling dengan urutan sebagai berikut :
Luas daerah total=3,2 ha
Luas area cuplikan=1% x luas wilayah total
=1% ×3,2 ha
= 320 m2
Luas plot=1 m x 1 m = 1 m2
Jumlah plot=(Luas area cuplikan)/(Luas plot)
=(320 m^2)/(1 m^2 )
=320 plot
*nb : berdasarkan kesepakatan bersama, jumlah plot per kelompok direduksi sebanyak 17 plot per kelompok, sehingga jumlah plot dalam satu lokasi Mojosongo adalah sebanyak 118 plot.
Menentukan titik – titik sampling dalam peta secara acak dengan menggunakan undian
Mencari koordinat masing – masing titik sampling
Membagi setiap daerah menjadi enam bagian
Mencari lokasi titik di lapangan dengan menggunakan protaktor dan kompas
Menentukan jarak dan resection antar titik
Menentukan titik start lokasi tersebut
Menentukan resection dan intersection dari titik lokasi
Memasang plot pada titik yang telah ditentukan
Mengidentifikasi spesies – spesies yang ditemukan dalam plot.
Menghitung densitas dan dominasi setiap spesies dari area plot dengan rumus :
Densitas mutlak (DsM):(Σ total individu spesies X)/(Σ total plot ×luas plot minimal)
Densitas Relatif (DsR):(Σ DsM spesies X ×100%)/(Σ total DsM)
Dominasi Mutlak (DmM):(Σ total cover spesies)/(Σ total plot ×luas plot minimal)
Dominasi Relatif (DmR):(Σ DmM spesies X ×100%)/(Σ total DmM)
Menghitung frekuensi setiap spesies dari plot dengan rumus sebagai berikut :
Frekuensi mutlak (FM):(Σ plot dengan spesies X ×100%)/(Σ total plot )
Frekuensi Relatif (FR): (Σ FM spesies X ×100%)/(Σ total FM)
Menentukan nilai penting (NP) dengan rumus perhitungan : 
Np=DsR+DmR+FR
Menentukan kontribusi spesies dalam komunitas berdasarkan hasil perhitungan nilai penting.
Mentabulasi data dalam table pengamatan
Menyusun portofolio.

Pembahasan
Pada praktikum ini bertujuan untuk menentukan besarnya kontribusi masing-masing spesies terhadap vegetasi, mengetahui distribusi masing-masing spesies, dan menghitung nilai penting masing-masing spesies.
Di wilayah mojosongo, jumlah plot yang dipasang sebanyak 119 plot. Setelah identifikasi spesies yang ditemukan didapatkan 132 spesies yang termasuk dalam tumbuhan Lower Crop Comunnity. Selanjutnya mentabulasikan cover dan jumlah masing-masing spesies dalam satu wilayang tersebut. Lalu menghitung nilai mutlak(densitas, dominansi, dan frekuensi). Nilai mutlak yang diperoleh digunakan untuk menghitung nilai relatif (densitas, dominansi, dan frekuensi). Setelah diperoleh nilai relatif, jumlah densitas,dominansi, dan frekuensi digunakan untuk memperoleh nilai penting. Nilai penting ini digunakanntuk mengetahui rangking yang menunjukan distribusi dan kontribusi masing-masing spesies tersebut.
Berikut adalah rumus untuk mendapatkan frekuensi mutlak, frekuensi relatif, dominansi mutlak, dominansi relatif, densitas mutlak dan relatif sebagai berikut

a. DensitasMutlak (DsM) = ∑ total individuspesies X
 ∑total plot x luas plot minimal
b.DensitasRelatif (DsR) =∑ DsMspesies X x 100 %
∑ totalDsM
c. DominansiMutlak (DmM)=∑ total cover spesies X
 ∑total plot x luas plot minimal
d.DominansiRelatif (DmR)= ∑ DmMspesies X x 100 %
∑ totalDmM
e. FrekuensiMutlak (FM)= ∑ plot denganspesies X x 100 %
∑ total plot
f. FrekuensiRelatif ( FR)= ∑ FM spesies X x 100 %
∑ total FM
Nilai densitas menunjukkan jumlah individu spesies dengan satuan luas tertentu sedangkan nilai dominansi menunjukkan jumlah cover dengan satuan luas tertentu. Densitas dan dominansi menunjukkan kontribusi spesies tersebut dalam lokasi pengamatan.
Nilai frekuensi suatu jenis dipengaruhi secara langsung oleh densitas dan pola distribusinya. Nilai distribusi dapat memberikan informasi tentang keberadaan tumbuhan tertentu dalam suatu plot dan belum dapat memberikan gambaran tentang jumlah individu pada masing-masing plot.

Dari identifikasi spesies yang ditemukan dalam masing-masing plot, kelompok 9 mendapatkan 39 spesies. Berikut urutan 5 nilai penting, DsR, DmR, FR tertinggi spesies di kelompok 9, yaitu :

Paspalum dilatatum
Paspalum dilatatum sehingga memiliki nilai penting yang tinggi sehingga menempati rangking 1 pada data wilayah 7 lokasi mojosongo. Dari analisa kuantitatif diperoleh nilai penting sebesar 20,906 %, dan menempati rangking pertama. 
Dengan adanya nilai penting yang tertinggi maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang lebih tinggi dibanding yang lain sehingga dapat disimpulkan bahwa spesies ini memiliki kontribusi yang besar dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan tersebut.
Mimosa pudica 
Mimosa pudica memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 21,58 %, setelahmendapatkan nilai penting lalu diperoleh rangkingnya. Pada data wilayah 7 lokasi mojosongo, Mimosa pudica mendapatkan rangking 2. 
Nilai penting yang cukup tinggi menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang lebih tinggi dibanding yang lain sehingga dapat disimpulkan bahwa spesies ini memiliki kontribusi yang cukup besar dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan tersebut.
Oplismenus burmanii
Oplismenus burmanii memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 14,590 % setelahmendapatkan nilai penting lalu diperoleh rangkingnya. Pada data wilayah 7 lokasi mojosongo, spesies ini mendapatkan rangking 3. 
Dengan adanya nilai penting yang tinggi dengan ranking ketiga maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang lebih tinggi dibanding spesies dengan rangking di bawahnya sehingga dapat disimpulkan bahwa spesies ini memiliki kontribusi yang besar dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan tersebut.
Fimbristylis littoralis 
Fimbristylis littoralis memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 12,043 % setelahmendapatkan nilai penting lalu diperoleh rangkingnya. Pada data wilayah 7 lokasi mojosongo, spesies ini mendapatkan rangking 4. 
Dengan adanya nilai penting tertinggi ranking 4 maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang cukup tinggi dibanding spesies dengan rangking di bawahnya sehingga dapat disimpulkan bahwa spesies ini memiliki kontribusi yang cukup besar dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan wilayah 7 lokasi mojosongo.
Axonopus compressus 
Axonopus compressus memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 9,285 % setelah mendapatkan nilai penting lalu diperoleh rangkingnya. Pada data wilayah 7 lokasi mojosongo, spesies ini mendapatkan rangking 5. 
Dengan adanya nilai penting tertinggi ranking 5 maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang cukup tinggi dibanding spesies dengan rangking di bawahnya sehingga dapat disimpulkan bahwa spesies ini memiliki ko ntribusi yang cukup besar dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan Mojosongo.

Physalis angulata
Physalis angulata memiliki nilai penting tinggi yaitu 0,145 %, setelahmendapatkan nilai penting lalu ditentukan rangkingnya. Pada data wilayah 7 lokasi mojosongo, spesies ini mendapatkan rangking 39 dari 39 spesies. 
Hal ini menunjukan nilai penting rendahmaka jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang sangat kecil. Oleh karena itu, Physalis angulata memiliki kontribusi yang sangat kecil dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan Mojosongo. Hal ini ditunjukan dengan adanya penghitungan cover dan jumlah spesies pada tiap plot yang sedikit sehingga densitas, dominansi dan frekuensi sedikit yang menyebabkan nilai pentingnya juga akan sedikit. Frekuensi ini akan menunjukan adanya persebaran spesies dalam suatu wilayah.
Phyllantus myrtifolius 
Phyllantus myrtifolius memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 0,145 %, setelah mendapatkan nilai penting lalu ditentukan rangkingnya. Pada data wilayah 7 lokasi mojosongo, spesies ini mendapatkan rangking 38 dari 39 spesies. Dengan adanya nilai penting rendah maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang cukup kecil. Oleh karena itu, Phyllantus myrtifolius memiliki kontribusi yang cukup kecil dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan Mojosongo. 
Ipomea reptana
Ipomea reptana memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 0,154 %, setelahmendapatkan nilai penting lalu ditentukan rangkingnya. Pada data wilayah 7 lokasi mojosongo, spesies ini mendapatkan rangking 37 dari 39 spesies. 
Nilai penting rendah maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang sangat kecil. Oleh karena itu, Ipomea reptana memiliki kontribusi yang cukup kecil dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan Mojosongo. 
Leucas zeylanica 
Leucas zeylanica memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 0,257 %, setelahmendapatkan nilai penting lalu ditentukan rangkingnya. Pada data wilayah 7 lokasi mojosongo, spesies ini mendapatkan rangking 36 dari 39 spesies. 
Nilai penting terendah maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang sangat kecil. Oleh karena itu, Leucas zeylanica memiliki kontribusi yang cukup kecil dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan Mojosongo. 
Paspalum commersonii 
Paspalum commersonii memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 0,308 % setelahmendapatkan nilai penting lalu ditentukan rangkingnya. Pada data wilayah Mojosongo, spesies ini mendapatkan rangking 36 dari 39 spesies. 
Nilai penting terendah maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang sangat kecil. Oleh kerana itu, Paspalum commersonii memiliki kontribusi yang cukup kecil dalam menyusun vegetasi di wilayah 7 lokasi mojosongo karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan Mojosongo. 

Kesimpulan
Populasi tumbuhan adalah sekelompok individu tumbuhan sejenis yang hidup di suatu habitat atau lingkungan tertentu dan dapat melakukan persilangan di anatara sesama jenisnya yang menghasilkan keturunan yang fertil.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi tumbuh-tumbuhan.
Pada data wilayah 7 lokasi Mojosongo didapatkan rangking sebagai berikut:
Rangking 5 teratas
Paspalum dilatatum (rangking 1), nilai penting = 20,906 %
Mimosa pudica (rangking 2), nilai penting = 16,664 %
Oplismenus burmanii (rangking 3), nilai penting = 14,590 %
Fimbristylis littoralis (rangking 4), nilai penting = 12,043 %
Axonopus compressus (rangking 5), nilai penting = 9,285 %
Rangking 5 terbawah
Physalis angulata (rangking 39), nilai penting = 0,145 %
Phyllantus myrtifolius (rangking 38), nilai penting = 0,145 %
Ipomea reptana (rangking 37), nilai penting = 0,154 %
Leucas zeylanica (rangking 36), nilai penting = 0,257 %
Paspalum commersonii (rangking 35), nilai penting = 0,308 %
Dengan diketahui nilai penting maka dapat diketahui kontribusi spesies pada wilayah tersebut. Semakin besar nilai penting maka kontribusinya semakin besar disebabkan karena kemampuan distribusinya cepat, daya adaptasi spesies itu lebih cepat.

Daftar Pustaka
Kainde, R.P.,dkk. 2011. Analisis Vegetasi Hutan Lindung Gunung Tumpa (Vegetation Analysis of The Mount Tumpa Preotection Forest). Eugenia. Vol.17, No.3
Kusmana, C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Bogor : Penerbit Institut Pertanian Bogor
Mueller-Dombois, D. And H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York: John Wiley & Sons
Setiadi, D.1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek. KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB
Soerianegara, Idan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Surasana, Eden dan Syafei. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: ITB
Widoretno, Sri. 2010. Populasi dan Demografi Tumbuhan dalam http:// widoretnostaff.fkip.uns.ac.id
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.Ekologi Umum.Jogjakarta : UGM Press

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Laporan Ekologi Tumbuhan LCC Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan