Latest News
Thursday, August 7, 2014

Laporan Ekologi Tumbuhan LCC Karangsambung

Populasi tumbuhan adalah sekelompok individu tumbuhan sejenis yang hidup di suatu habitat atau lingkungan tertentu dan dapat melakukan persilangan di anatara sesama jenisnya yang menghasilkan keturunan yang fertil.(Suswanto, 2004)
Populasi tumbuhan dengan dinamikanya dapat diamati dengan melihat penyebarannyapermukaan bumi, jarak yang tidak sama antara tumbuhan satu dan tumbuhan lainnya disebabkan karena perbedaan lingkungan, sumber daya, tetangga dan ggangguan.
Perbedaan lingkungan tidak hanya mempengaruhi dan memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu, tetapi sekaligus merubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu.

Judul
“Analisis Vegetasi Tanaman Lower Crops Community (LCC) di 11 Batuan di Karangsambung”
Tujuan
Mengetahui distribusi masing-masing spesies yang berupa Lower Crop Community (LCC) pada vegetasi di batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung.
Menghitung nilai penting masing-masing spesies yang berupa Lower Crop Community (LCC) pada vegetasi di batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung.
Mengetahui kontribusi spesies tertinggi dan terendah yang berupa Lower Crop Community (LCC) pada vegetasi di batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung.
Dasar Teori
Populasi tumbuhan adalah sekelompok individu tumbuhan sejenis yang hidup di suatu habitat atau lingkungan tertentu dan dapat melakukan persilangan di anatara sesama jenisnya yang menghasilkan keturunan yang fertil.(Suswanto, 2004)
Populasi tumbuhan dengan dinamikanya dapat diamati dengan melihat penyebarannyapermukaan bumi, jarak yang tidak sama antara tumbuhan satu dan tumbuhan lainnya disebabkan karena perbedaan lingkungan, sumber daya, tetangga dan ggangguan.
Perbedaan lingkungan tidak hanya mempengaruhi dan memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu, tetapi sekaligus merubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu.
Persoalan khusus ekologi populasi
Distribusi dan kelimpahan tumbuhan dalam ruang dan waktu merupakan problema bagi ekologi populasi tumbuhan, karena tumbuhan mampu menghasilkan individu baru dengan melalui :
Aseksual
Kaitan reproduksi tumbuhan yang dapat dilakukan dengan aseksual (Ramet) maka batasan populasi tidak hanya sekedar pada indvidu baru namun juga percabangan, ataupun perangkat organ baru yang mampu merespon lingkungan tempat hidupnya, sehingga populasi tumbuhan tidak hanya dilihat dari distribusi dan dinamika individu tumbuhan, tatapi juga termasuk pertumbuhan dinamik individu tumbuhan sendiri, seperti cabang, ranting, ataupun propagul.
Seksual
Keterkaitanreproduksi tumbuhan yang dilihat dari cara reproduksi seksual (genet) maka dinamika dan distribusi tumbuhan diamati dari pertambahan individu. Berdasarkan batasan di atas dapat diketahui reproduksi seksual dan aseksual dibedakan jelas dalam suatu vegetasi.
Penyebaran tumbuhan, kehidupan, pola pertumbuhan serta kecepatan reproduksi semuanya mencerminkan adaptasi tumbuhan tersebut dengan lingkungannya. Parameter populasi yang dapat digunakan untuk mengukur aspek dalam populasi serta model pertumbuhan diantaranya dapat ditinjau dari:
a.Keluasan penyebaran distribusi
b.Kecepatan pertumbuhan
c.Frekuen gen
d. Densitas
e.Perbandingan antara sex ratio
f.Pola penyebaran
g.Struktur umur
Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978), analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi tumbuh-tumbuhan. Cain dan Castro (1959) dalam Soerianegara dan Indrawan (1978) menyatakan dalam penelitian yang mengarah pada analisis vegetasi, titik berat penganalisisan terletak pada komposisi jenis atau jenis. Struktur hutan dapat dipelajari dengan mengetahui sejumlah karakteristik tertentu diantaranya, densitas, frekuensi, dominansi dan nilai penting.
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya (Syafei, 1990).
Kershaw (1973) mengemukakan bahwa bentuk vegetasi dibatasi oleh tiga komponen pokok yaitu: (1) stratifikasi yang adalah lapisan penyusun vegetasi (strata) yang dapat terdiri dari pohon, tiang, perdu, sapihan, semai dan herba. (2) sebaran horisontal dari jenis penyusun vegetasi tersebut yang menggambarkan kedudukan antar individu, (3) banyaknya individu dari jenis penyusun vegetasi tertentu. Selanjutnya dikatakan bahwa penguasaan suatu jenis terhadap spesies lainnya ditentukan berdasarkan Indeks Nilai Penting (Kainde, R.P.,dkk, 2011:2).
Cara untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode Berpetak (Teknik sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur, Metode Garis Berpetak) dan Metode Tanpa Petak (Metode berpasangan acak, Titik pusat kuadran, Metode titik sentuh, Metode garis sentuh, Metode Bitterlich) (Kusuma, 1997).
Densitas, dominansi, frekuensi dan pola distribusi tumbuhan pada spesies penyusun vegetasi
Densitas, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area tersebut. Densitas jarang bersifat tetap, jumlahnya akan selalu berubah sepanjang waktu dan tempat. Besar populasi dapat diukur berdasarkan:
a.Kelimpahan yaitu jumlah mutlak individu dalam populasi
b.Kepadatan jumlah adalah jumlah insidu per-satuan luas digunakan untuk menyatakan ukuran individu dalam populasi yang relatif sama.
c.Kepadatan biomassa yaitu kepadatan yang dinyatakan dalam istilah berat basah, berat kering, volume, atau kadar karbon dan nitrogen per satuan luas atau volume.
Dominan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Sedangkan frekuensi ditentukan berdasarkan densitas dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%) (Surasana, 1990).
Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran pola penyebaran suatu jenis, dan menyebar keseluruh kawasan atau kelompok. Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan. Raunkiser dalam shukla dan Chandel (1977) membagi frekuensi dalm liama kelas berdasarkan besarnya persentase.Frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu spesies di dalam suatu habitat.
Nilai penting digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Dominansi Relatif, Frekuensi Relatif dan Dominansi Relatif (Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).
Jika disusun dalam bentuk rumus maka akan diperoleh:
Nilai Penting=DsR + DmR + FR
Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam tabel. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. (Surasana, 1990).
Penyebaran populasi adalah pergerakan individu ke dalam atau ke luar populasi. Pada tumbuhan individu dapat berupa biji, spora, semai atau pohon yang ditanam manusia, misalnya biji yang ada dalam buah dimakan burung lalu jatuh ke suatu tempat lain penyebaran populasi ini berparan penting dalam penyebaran individu secara geografi atau daerah yang penyebarannya dapat disebabkan oleh iklim, angin, terbawa air, atau mahluk hidup lain.
Penyebaran populasi di alam berlangsung ada 3 cara yaitu
1.Emigrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke luar dari habitat populasi ke habitat lain lalu individu tersebut tumbuh menetap di habitat bru.
2.Imigrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke suatu daerah populasi dan individu tersebut meninggalkan daerah populasi asalnya.
3.Migrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke luar dan dalam secara periodik.
Populasi tumbuhan adalah sekelompok individu tumbuhan sejenis yang hidup di suatu habitat atau lingkungan tertentu dan dapat melakukan persilangan di anatara sesama jenisnya yang menghasilkan keturunan yang fertil (Suswanto, 2004). Menurut Widoretno (2013), populasi tumbuhan dengan dinamikanya dapat diamati dengan melihat penyebarannyapermukaan bumi, jarak yang tidak sama antara tumbuhan satu dan tumbuhan lainnya karena perbedaan lingkungan, sumber daya, tetangga, dan gangguan. 
Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978), analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis) danbentuk (struktur) vegetasi tumbuh-tumbuhan. Cain dan Castro(1959) dalamSoerianegara dan Indrawan (1978) menyatakan dalam penelitian yangmengarah pada analisis vegetasi, titik berat penganalisisan terletak pada komposisijenis atau jenis.Struktur hutan dapat dipelajari dengan mengetahuisejumlah karakteristik tertentu diantaranya, densitas, frekuensi, dominansi dan nilaipenting.
Tjitrosoepomo (2002 :77), menyatakan bahwa analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam ekologi hutan, satuan vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua spesies tetumbuhan yang menempati suatu habitat.Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai dalam analisis komunitas adalah untuk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari.
Cara untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode Berpetak (Teknik sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur, Metode Garis Berpetak) dan Metode Tanpa Petak (Metode berpasangan acak, Titik pusat kuadran, Metode titik sentuh, Metode garis sentuh, Metode Bitterlich) (Kusuma, 1997).
Lower Crop Community (LCC) merupakan kelompok tumbuhan penutuh tanah atau dapat disebut sebagai tumbuhan bawah.Menurut Soerianegara dan Indrawan (2008) Tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan dan vegetasi semak belukar.Tumbuhan ini biasanya memiliki tinggi yang tidak terlalu jauh dari permukaan tanah.

Cara kerja
Menentukan lokasi yang memiliki heterogenitas spesies.
Membuat peta batuan Basal dan Rijang pada lokasi Karangsambung melalui Arcview dengan luas daerah kurang lebih 306,3897 hektare.
Mentransformasi peta yang telah dibuat kedalam google earth untuk menentukan titik sampling
Menentukan jumlah titik sampling per lokasi dengan urutan sebagai berikut :
Luas area total = 66,5971 ha 
Luas area cuplikan=6,0702 ha
Jumlah titik = (Luas area cuplikan)/(1 ha)=6,0702/(1 ha)=6 titik
Jumlah titik yang diamati direduksi menjadi 4 titik 
Menentukan titik–titik sampling dalam peta secara acak dan mengacu pada keberadaan minimal terdapat 4 pohon PCQ.
Mencari koordinat masing–masing titik sampling.
Membagi setiap titik menjadi 4 kuadran.
Mencari lokasi titik di lapangan dengan menggunakan protaktor dan kompas.
Menentukan jarak dan resection antar titik.
Menentukan titik start lokasi tersebut.
Menentukan resection dan intersection dari titik lokasi.
Memasang plot pada titik yang telah ditentukan.
Mengidentifikasi spesies–spesies yang ditemukan dalam plot.
Menghitung densitas dan dominasi setiap spesies dari area plot dengan rumus :
Densitas mutlak (DsM): (Σ total individu spesies X)/(Σ total plot ×luas plot minimal)
Densitas Relatif (DsR): (Σ DsM spesies X ×100%)/(Σ total DsM)
Dominasi Mutlak (DmM): (Σ total cover spesies)/(Σ total plot ×luas plot minimal)
Dominasi Relatif (DmR):(Σ DmM spesies X ×100%)/(Σ total DmM)
Menghitung frekuensi setiap spesies dari plot dengan rumus sebagai berikut :
Frekuensi mutlak (FM): (Σ plot dengan spesies X ×100%)/(Σ total plot )
Frekuensi Relatif (FR): (Σ FM spesies X ×100%)/(Σ total FM)
Menentukan nilai penting (NP) dengan rumus perhitungan : 
Np=DsR+DmR+FR
Menentukan kontribusi spesies dalam komunitas berdasarkan hasil perhitungan nilai penting.
Mentabulasi data dalam table pengamatan.
Menyusun laporan.

PEMBAHASAN
Praktikum Low Crop Community Karangsambung bertujuan untuk Mengetahui distribusi masing-masing spesies yang berupa Lower Crop Community (LCC) pada vegetasi di batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung, menghitung nilai penting masing-masing spesies yang berupa Lower Crop Community (LCC) pada vegetasi di batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung, mengetahui kontribusi spesies tertinggi dan terendah yang berupa Lower Crop Community (LCC) pada vegetasi di batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung, mengetahui pengaruh lingkungan terhadap jumlah spesies yang berupa Lower Crop Community (LCC) di batuan “Basal dan Rijang” Karangsambung.
Prinsip kerja praktikum ini adalah dengan menentukan lokasi yang memiliki heterogenitas spesies, kemudian mencari peta lokasi yaitu peta citra daerah Karangsambung melalui google earth dengan luas daerah kurang lebih 306,3897 hektare, lalu menentukan batas daerah berupa titik – titik yang dapat diamati dengan menggunakan GPS dan memasukannya ke dalam google earth, serta mentransformasi menjadi peta topografi menggunakan CorelDraw, menentukan jumlah titik sampling dengan urutan sebagai berikut :
Luas area total = 66,5971 ha 
Luas area cuplikan=6,0702 ha
Jumlah titik = (Luas area cuplikan)/(1 ha)=6,0702/(1 ha)=6 titik
Kemudian menentukan titik – titik sampling dalam peta secara acak dan mengacu pada keberadaan minimal terdapat 4 pohon PCQ, mencari koordinat masing – masing titik sampling dan membagi setiap titik menjadi 4 kuadran, kemudian mencari lokasi titik di lapangan dengan menggunakan protaktor dan kompas, menentukan jarak dan resection antar titik, menentukan titik start lokasi tersebut dan menentukan resection dan intersection dari titik lokasi, lalu memasang plot pada titik yang telah ditentukan, mengidentifikasi spesies – spesies yang ditemukan dalam plot dan menganalisis data setiap spesies dari area plot dengan rumus :
Densitas mutlak (DsM):(Σ total individu spesies X)/(Σ total plot ×luas plot minimal)
Densitas Relatif (DsR):(Σ DsM spesies X ×100%)/(Σ total DsM)
Dominasi Mutlak (DmM):(Σ total cover spesies)/(Σ total plot ×luas plot minimal)
Dominasi Relatif (DmR):(Σ DmM spesies X ×100%)/(Σ total DmM)
Frekuensi mutlak (FM):(Σ plot dengan spesies X ×100%)/(Σ total plot )
Frekuensi Relatif (FR): (Σ FM spesies X ×100%)/(Σ total FM)
Np=DsR+DmR+FR
Lalu menentukan kontribusi spesies dalam komunitas berdasarkan hasil perhitungan nilai penting dan mentabulasi data dalam table pengamatan.
Luas plot yang digunakan untuk praktikum lcc, didapatkan dari metode releve yaitu sebesar 4 m2. Berikut data dan grafik releve yang digunakan untuk praktikum lcc :

Koordinat dari 6 titik dan tanda medan yang ada dipeta diantaranya adalah sebagai berikut:
Titik 1 : 7º 32’ 50.04” LS 
 109 º 39’ 20.73” BT
Titik 2 : 7º 32’ 51.72” LS
 109 º 39’ 19.21” BT 
Titik 3 : 7º 32’ 53.09” LS
 109 º 39’ 16.98” BT 
Titik 4 : 7º 32’ 53.71” LS
 109 º 39’ 14.73” BT
Titik 5 : 7º 32’ 53.35” LS
 109 º 39’ 11.32” BT 
Titik 6 : 7º 32’ 51.42” LS
 109 º 39’ 14.57” BT
Tanda Medan : 7º 32’ 51.62” LS
 109 º 39’ 24.10” BT
Dari hasil praktikum diperoleh jumlah spesies pada batuan “Basal dan Rijang” sebanyak 38 spesies. Berikut nama spesies berserta nilai penting dan rankingnya.


Adanya perbedaan nilai penting yang dimiliki masing- masing species menunjukkan kemampuan antara spesies satu dengan yang lain dalam memberikan kontribusi dalam suatu vegetasi. Nilai penting yang tinggi menunjukkan bahwa spesies tersebut memiliki kontribusi yang besar dalam menyusun vegetasi di batuan basal dan rijang karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan tersebut Sedangkan Nilai Penting yang rendah menunjukkan bahwa spesies tersebut memiliki kontribusi yang sangat kecil dalam menyusun vegetasi di lokasi batuan basal dan rijangkarena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan tersebut.
Besarnya kontribusi mempengaruhi keseimbangan ekosistem dari suatu vegetasi. Jika nilai kontribusi suatu species besar maka besar pula pengaruhnya dalam keseimbangan ekosistem suatu vegetas. Sebaliknya, jika kontribusi suatu species bernilai kecil, maka kecil pula pengaruhnya terhadap keseimbangan ekosistem dalam suatu vegetasi. Maka, ketika terdapat satu species yang mulanya memiliki nilai kontribusi tinggi dan secara tiba- tiba dihilangkan akan sangat berpengaruh teradap struktur penyusun vegetasi tersebut. Ditribusi menggambarkan penyebaran species dalam suatu vegetasi. Distribusi suatu species memiliki pengaruh terhadap interaksi species terhadap lingkungan di sekitarnya. Semakin besar nilai distribusi, maka semakin tinggi interaksi positif species tersebut terhadap lingkungannya. 
Berdasarkan rekapitulasi perhitungan nilai penting pada batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung maka dapat diketahui tumbuhan LCC yang menempati rangkingnya masing-masing. Besarnya nilai penting menunjukkan kontribusi suatu spesies dalam komunitas di lokasi pengamatan. Adapun 3 spesies tumbuhan yang menempati rangking tertinggi berdasarkan nilai penting adalah sebagai berikut:
Panicum malabaricum 
Panicum malabaricum memiliki rangkingtertinggi dibandingkan spesies lainnya dengan besar nilai penting 60,393 %. Kemudian jumlahnya mencapai 607 individu. Dengan mencover wilayah 206 % Sehingga dapat diketahui bahwa spesies tumbuhan tersebut memiliki kontribusi terbesar, paling dominan menempati batuan “Basal dan Rijang” dan memiliki niche yang tinggi. Karena daya adaptasi yang tinggi serta laju pertumbuhan yang cepat. Spesies tersebut mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan batuan basal dan rijang. 
Oplismenus burmanii 
Oplismenus burmanii memiliki rangkingtertinggi ke dua dibandingkan spesies lainnya dengan besar nilai penting 41, 116 %. Kemudian jumlahnya mencapai 406 individu. Dengan mencover wilayah 139 % Sehingga dapat diketahui bahwa spesies tumbuhan tersebut memiliki kontribusi yang besar, dominan menempati batuan “Basal dan Rijang” dan memiliki niche yang tinggi. Spesies tersebut mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan batuan basal dan rijang.
Ruellia prostata 
Ruellia prostata memiliki rangkingtertinggi ke tiga dibandingkan spesies lainnya dengan besar nilai penting 39,488 %. Kemudian jumlahnya mencapai 342 individu. Dengan mencover wilayah 180 % Sehingga dapat diketahui bahwa spesies tumbuhan tersebut memiliki kontribusi yang besar,dominan menempati batuan “Basal dan Rijang” dan memiliki niche yang tinggi. Spesies tersebut mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan batuan basal dan rijang .
Sedangkan 3 spesies yang menempati rangking terendah adalah :
Leucas lavandulifolia 
Leucas lavandulifolia memiliki rangkingterendah dibandingkan spesies lainnya dengan besar nilai penting 1,062 %. Kemudian jumlahnya mencapai 1 individu. Dengan mencover wilayah 1 %. Sehingga dapat diketahui bahwa spesies tumbuhan tersebut memiliki kontribusi terendah, paling sedikit menempati batuan “Basal dan Rijang” dan memiliki niche yang paling rendah. Spesies tersebut kurang mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan batuan basal dan rijang.
Ischaemum timorense 
Ischaemum timorense memiliki rangkingterendah ke dua dibandingkan spesies lainnya dengan besar nilai penting 1,111 %%. Kemudian jumlahnya mencapai 2individu. Dengan mencover wilayah 1 %. Sehingga dapat diketahui bahwa spesies tumbuhan tersebut memiliki kontribusi rendah, sedikit menempati batuan “Basal dan Rijang” dan memiliki niche yang rendah. Spesies tersebut kurang mampu beradaptasi pada lingkungan batuan basal dan rijang.
Clidemia hirta 
Clidemia hirta memiliki rangkingterendah ke tiga dibandingkan spesies lainnya dengan besar nilai penting 1,111 %. Kemudian jumlahnya mencapai 2 individu. Dengan mencover wilayah 1 %. Sehingga dapat diketahui bahwa spesies tumbuhan tersebut memiliki kontribusi rendah, paling sedikit menempati batuan “Basal dan Rijang” dan memiliki niche yang rendah. Spesies tersebut kurang mampu beradaptasi pada lingkungan batuan basal dan rijang.

 Dari data batuan “Basal dan Rijang” secara keseluruhan, memiliki rentang nilai penting yang tersebar pada semua spesies yang ditemukan sehingga menunjukkan bahwa keanekaragaman cukup tinggi atau tidak didominasi oleh satu spesies saja. Keanekaragaman tumbuhan dipengaruhi oleh karakteristik batuan basal dan rijang. Pada batuan “Basal dan Rijang” sampel tanah yang diambil sebanyak 2 sampel tanah, yaitu tanah bagian bawah dan bagian atas, karena terdapat perbedaan pada struktur tanah pada tanah bagian bawah dan bagian atas. Pada tanah bagian bawah, struktur tanahnya lebih lunak daripada struktur tanah pada bagian atas. pH tanah bagian bawah adalah 5,53 dan PH tanah bagian atas adalah 6,35. 
Menurut Karyanto (2004) Basal terdiri dari batuan basa dimana persentase silika relatif rendah, sedangkan persentase besi, magnesium relatif sangat tinggi. Dalam penelitian yang lain Chiarucci (2004) mengidentifikasi bahwa kadar Mg yang tinggi dan kadar Ca yang rendah pada tanah basal rijang kemungkinan merupakan faktor yang paling mempengaruhi mekanisme toleransi tumbuhan pada tanah. Untuk suhu dari batuan ini adalah sekitar 29oC. Sehingga tumbuhan cukup subur hidup di lokasi ini. Menurut Sagar (2008) kesuburan tumbuhan juga dipengaruhi instensitas cahaya yang mengenai tumbuhan di suatu lokasi atau stand. Suatu tumbuhan memiliki kebutuhan akan intensitas cahaya yang berbeda, sehingga pertumbuhan suatu spesies berbeda pula. Cahaya di wilayah batuan basal dan rijang tercukupi dengan baik, hal ini diketahui dari pepohonan yang tumbuh merata, tidak telalu padat dan jarang, sehingga kelembaban dan penyinaran kepada tumbuhan lower crop community tercukupi.
Sedangkan karakteristik dari batuan rijang adalah berupa batuan endapan silikat kriptokristalin dengan permukaan licin (glassy). Disebut "batu api" karena jika diadu dengan baja atau batu lain akan memercikkan bunga api yang dapat membakar bahan kering. Biasanya ditemukan pada daerah laut dalam dan berasosiasi dengan radiolaria dan lava bantal. Rijang biasanya berwarna kelabu tua, biru, hitam, atau coklat tua. Rijang (Chert), adalah batuan sedimen silikaan berbutir halus yang keras dan kompak. Kebanyakan perlapisan rijang tersusun oleh sisa organisme penghasil silika seperti diatom dan radiolaria. Batuan Rijang terbentuk oleh kristal kuarsa berukuran lanau (mikrokuarsa) dan kalsedon, sebuah bentuk silika yang terbuat dari serat memancar dengan panjang beberapa puluh hingga ratusan mikrometer. Lapisan rijang terbentuk sebagai sedimen primer atau oleh proses diagenesis. Secara umum dianggap bahwa batuan ini terbentuk sebagai hasil perubahan kimiawi pada pembentukan batuan endapan terkompresi, pada proses diagenesis. 

KESIMPULAN
spesies yang berupa Lower Crop Community (LCC) yang ditemukan pada vegetasi di batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung yaitu :Ageratum conyzoides, Ageratum haustorium, Anastropus compressus, Bergia oryzetorum
Borreria latifolia, Capsicum frustacens, Cardiospernum halicacabum, Centella asiatica, Clidemia hirta, Cyclea barbata,Cyperus rotundus,Discorea alata, Elephantrophus scaber, Euphatorium odoratum, Hyptis brevipers, Ichaemum timorense, Kaemfferia galanga, Kyllinga brevifolia, Kyllinga monochepala, Leucas lavandulifolia, Merremia emarginata, Mimosa invisa, Oplismenus burmanii, Oxalis barrelieri, Panicum distaechyum, Panicum flavidum, Panicum geminatum, Panicum malabaricum, Panicum scoparium, Paspalum cetaceum, Peperomia pellucid, Phyllantus niruri, Phyllantus virgatus, Ruellia prostate, Ruellia repens, Salvia occidentalis, Triumfetta indica dan Waltheria Americana.
Nilai penting masing-masing spesies yang berupa Lower Crop Community (LCC) pada vegetasi di batuan “Basal dan Rijang” di Karangsambung adalah Ageratum conyzoides = 26,598, Ageratum haustorium = 6,866, Anastropus compressus = 9,530, Bergia oryzetorum= 1,596, Borreria latifolia=1,884, Capsicum frustacens= 2,221, Cardiospernum halicacabum=2,850,Centella asiatica = 1,402, Clidemia hirta=1,111, Cyclea barbata=2,704, Cyperus rotundus=1,353, Discorea alata=5,408, Elephantrophus scaber= 2,366, Euphatorium odoratum=21,879, Hyptis brevipers==3,478, Ichaemum timorense=1,111, Kaemfferia galanga=5,649, Kyllinga brevifolia=1,352, Kyllinga monochepala=1,207, Leucas lavandulifolia=1,062, Merremia emarginata=1,353, Mimosa invisa=1,353, Oplismenus burmanii=41,116, Oxalis barrelieri=13,773, Panicum distaechyum=3,579, Panicum flavidum=1,886, Panicum geminatum=1,642, Panicum malabaricum=60,393, Panicum scoparium=10,453 Paspalum cetaceum=3,093, Peperomia pellucida=3,672, Phyllantus niruri=2,755, Phyllantus virgatus=1,352, Ruellia prostata=39,488, Ruellia repens=2,415, Salvia occidentalis=1,498, Triumfetta indica=4,540, Waltheria americana= 4,011.
Nilai Penting yang tinggi pada suatu spesies menunjukkan bahwa spesies tersebut mampu melakukan adaptasi pada daerah batuan Basal dan Rijang, bisa dikatakan bahwa spesies tersebut mampu berkompetisi dengan spesies lainnya serta memiliki kontribusi yang tinggi dalam vegetasi. Sedangkan NP yang rendah mengindikasikan bahwa spesies tersebut kurang mampu melakukan adaptasi pada daerah tersebut dan kalah dalam melakukan kompetisi dengan spesies lainnya serta memiliki kontribusi yang rendah dalam vegetasi. Daftar Spesies dengan kontribusi tertinggi Panicum malabaricum dengan NP 60,393 %, Oplismenus burmanii dengan NP 41,116 %, dan Ruellia repens dengan NP 39,488 %, sedangkan spesies kontribusi terendah yaitu Leucas lavandulifolia dengan NP 1,062 %, Ischaemum timorense dengan NP 1,111 % Clidemia hirta dengan NP 1,111 %.

DAFTAR PUSTAKA
Chiarucci, A. 2004. Vegetation ecology and conservation on Tuscan ultramafic soils. Botany Review 69: 252-268.
Dumitru, I.1999. Soil Remineralisation With Basaltic Rock Dust In Australia. Boral Construction Materials, Sydney, Australia. 
Karyanto. 2004. Cross Diagonal Survey Geolistrik Tahanan Jenis 3D untuk Menentukan Pola Penyebaran Batuan Basal di Daerah Pakuan Aji Lampung Timur. J. Sains Tek. vol 10 No 3 : 195-200
Kusmana, C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Penerbit Institut Pertanian: Bogor
R.P. Kainde, S. P. Ratag, J. S. Tasirin, D. Faryanti. 2011. Analisis Vegetasi Hutan
Soerianegara, Idan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Sudarmono. 2007. Tumbuhan Endemik Tanah Serpentin. Biodiversitas Vol.8 (4) : 330-335
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung
Vlamis, J. 1949. Growth of lettuceand barley as influenced by degree of calcium saturation of soil. Soil Science 67: 453-466
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.Ekologi Umum.UGM Press: Jogjakarta.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Laporan Ekologi Tumbuhan LCC Karangsambung Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan