Latest News
Rabu, 05 Maret 2014

Berdiri di atas Kaki Sendiri

Berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) merupakan salah satu tujuan dari berproses pembelajaran ini. semua proses ini akan dihadapkan dengan masa depan. bagaimana kita akan bertahan sampai dititik akhir kehidupan. Berdikari bukanlah proses yang instan seperti menyeduh goodday. namun berdikari lebih pas jika dianalogikan dengan menyeduh kopi kapal api. perlu keahlian meramu komposisi gula dan kopinya, selain itu perlu memperhatikan air panasnya, seberapa tingkat panasnya untuk menciptakan aroma kopi yang pas.
Berdikari tak akan jauh dari menunggu dan keistiqomahan, berdikari merupakan proses natural yang sewajarnya di mulai dari titik nol, mulai merancang apa yang akan dilakukan, melakukan proses sesuai rencana, mengembangkan sayap sembari menikmati proses perjalanan yang mungkin ini itu saja. nah itu adalah titik dimana kita akan diuji untuk bisa bertahan dan survive di jalan yang sudah kita tentukan sendiri. karakter konsisten akan terrbentuk mulai dari proses ini.

Menunggu merupakan kodrat dari suatu proses. sejatinya proses itu tak ada yang instan, namun tidak berarti proses itu lama namun proses itu bisa dipercepat dengan katalisator yang tepat. katalisator yang baik akan mengantarkan kita ke hasil yang terbaik, namun berdasar pada koridor yang tepat. menunggu tak akan jauh dari kata sabar, dan sabar itu tak sekedar kata yang mudah diucapkan. sabar adalah perwujudan kekuatan jiwa dan hati. Layaknya menikmati secangkir kopi yang baru saja diseduh, kita tak akan langsung menikmatinya dengan meminumnya. namun kita harus menunggu sampai suspensi kopi itu mengendap, namun kita bisa menikmati aromanya terlebih dahulu. untuk menikmati hasil dari proses berdikari kita bisa menikmati proses dengan menunggu.
Berdikari harus berani mengambil jalur dan arus yang berbeda dari biasanya, bahkan kita akan belajar membuat arus sendiri. 
seorang adik tingkat yang mengambil jalur berdikari ini, entah apa motif dia untuk mengambil jalan yang berbeda dengan rekan rekannya. Ketika rekan rekannya tersibukkan dengan tugas dan aktivitas yang lain layaknya mahasiswa, namun dia masih menyempatkan untuk berwirausaha. ketika yang lain (mungkin) masih belum bersiap untuk berangkat, hampir setiap pagi dia sudah berpakaian rapi di stand itu menata produk yang dia pasarkan. di sela jeda perkuliahan dia menyempatkan diri untuk memantau apa yang dia tata paginya. ketika sore hari dia kembali ke  stand untuk mengambil uang dan mengambil berbagai peralatan untuk memasarkan kembali esok hari.


Walau berjalan kaki namun semangatnya tak pernah pupus, walau tak ku hitung tapi lebih dari satu tahun dia sudah menggeluti jalan ini. seringkali dia harus berjalan sendiri untuk membawa semua perlengkapan yang dibawa dengan tubuh kecilnya. sebuah semangat yang besar diantara kemanjaan di era ini ketika mayoritas mengeluh ketika harus berjalan kaki, ketika harus melakukan berbagai hal sendiri. sudah menjadi kaidah seorang muslim untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri, kemandirian finansial akan melengkapi karakter kita sebagai seorang muslim yang sesungguhnya.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Berdiri di atas Kaki Sendiri Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan