Latest News
Rabu, 08 Januari 2014

EkoMorfologi Hewan

A. Ekologi Hewan


Fokus utama ekologi hewan adalah aspek-aspek mendasar yang menjadi landasan kinerja hewan tersebut sebagai sebuah individu, populasi hingga komunitas di dalam ekosistem yang ia diami. Hal tersebut meliputi bagaimana Ia mengenal lingkungannya dan kemudian melakukan proses adaptasi dan melibatkan adanya pertukaran energi di dalamnya. Pada dasarnya ada dua sudut pandang dalam ilmu ekologi hewan, antara lain:
  1. Synekologi
    Merupakan meteri pembahasan yang di dalam proses kajiannya lebih fokus pada hewan sebagai sebuah komunitas di mana di dalamnya melibatkan interaksi antara populasi yang satu dengan populasi lainnya. Misalnya saja kita mempelajari kelompok ikan di wilayah perairan. Kita membaca pola mereka dalam berkelompok bukan sebagai individu yang satu.

  2. Autekologi
    Adalah pengkajian atau penelitian dimana seseorang fokus pada hewan sebagai individu atau spesies. Yaitu mengenal aspek-aspek ekologi dari individu-individu atau populasi suatu spesies hewan. Misalnya mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan lalat buah atau Drosophila sp, dimulai dari lingkup habitat, faktor makanan hingga fekunditas dan pola reproduksi dan lain-lain.
Ekologi hewan pada dasarnya mencakup beberapa hal antara lain;
  • Masalah persebaran atau distribusi dan juga kelimpahan populasi hewan dalam skala lokal maupun regional. Hal ini dimulai dari tingkakatan relung ekologi, faktor microhabitat dan juga habitat, lingkup komunitas hingga sampai pada sistem biogeografi juga pola penyebaran hewan di seluruh pernjuru dunia.

  • Persoalan pengaturan secara fisiologis, juga respon yang melibatkan adaptasi secara structural maupun kecenderungan perilaku hewan jika terjadi perubahan lingkungan.

  • Perilaku dan juga aktivitas berbagai hewan dalam lingkup habitatnya.

  • Fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi secara periodik ( baik itu harian, periodik musiman dan juga tahunan) dari kehadiran, aktivitas dan kelimpahan populasi hewan.

  • Pola dinamika populasi juga komunitas yang melibatkan pola interaksi-interaksi atau hubungan timbal balik antara hewan dalam sebuah populasi dan juga komunitas.

  • Pemisahan yang ada di dalam relung ekologi, skala spesies dan juga ekologi evolusioner.

  • Persoalan produktivitas sekunder dan juga ekoenergetika.

  • Ekologi membahas sistem dan juga permodelan.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa ruang lingkup dari Ilmu Ekologi Hewan mencakup objek yang mengkaji persoalan individu atau organisme, populasi, komunitas hingga ekosistem dimana di dalamnya terdapat distribusi juga kelimpahan, pola-pola adaptasi yang mempengaruhi perilaku, persoalan habitat dan juga relung, tingkatan produktivitas sekunder hewan, serta pola sistem juga struktur permodelan ekologi.

B. Pengertian Lingkungan Bagi Hewan Sebagai Kondisi Dan Sumber Daya

Ling kungan bagi hewan adalah semua faktor biotic dan abiotik yang ada di sekitarnya dandapat mempengaruhinya. Hewan hanya dapat hidup, tumbuh dan berkembang biak dalamsuatu lingkungan yang menyediakan kondisi dan sumberdaya serta terhindar dari faktor-faktor yang membahayakan.Begon (1996), membedakan faktor lingkungan bagi hewan ada 2 kategori,yaitu;Kondisi dan Sumberdaya.

Kondisi adalah faktor-faktor lingkungan abiotik yangkeadaannya berbeda dan berubah sesuai dengan perbedaan tempat dan waktu. Hewan bereaksi terhadap kondisi lingkungan, yang berupa perubahan-perubahanmorfologi, fisiologi dan tingkah laku. Kondisi lingkungan antara lain berupa.; temperature,kelembaban, Ph, salinitas, arus air, angina, tekanan, zat-zat organic dan anorganik.

Sumberdaya adalah segala sesuatu yang dikonsumsi oleh organisme,yang dapatdibedakan atas materi, energi dan ruang. Sumberdaya digunakan untuk menunjukkan suatufaktor abiotik maupun biotik yang diperlukan oleh hewan, karena tersedianya di lingkungan berkurang apabila telah dimanfaatkan oleh hewan. Setiap hewan akan bervariasi menurut ruang (tempat) dan waktu. Oleh karena itu setiap hewan senantiasa berusaha untuk selalu dapat beradaptasi terhadap setiap perubahan lingkungan tersebut. Dalam penyesuaian diritersebut hanya hewan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang dapat bertahanhidup, sementtara yang tidak mampu beradaptasi akan mati atau beremigrasi bahkan akan punah.


C. Hewan Sebagai Organisme Heterotrof


Dalam konsep rantai makanan, hewan ditempatkan sebagai konsumen, sedangkan tumbuhan sebagai produsen. Hal ini karena hewan tidak dapat mensintesis makanannya sendiri dari bahan anorganik di lingkungannya. Untuk memenuhi kebutuhannyaakan bahan – bahan organik berenergi tinggi guna menyediakan energi untuk aktivitas hidup dan menyediakan bahan – bahan untuk membangun tubuhnya, hewan mengambil bahan organik dari makhluk hidup lain, baik tumbuhan atau hewan lain. Karena itulah hewan disebut sebagai makhluk hidup yang heterotrof, sebagai lawan dari tumbuhan yang bersifat autotrof atau dapat mensintesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dengan cara melakukan fotosintesis.

Dalam dunia hewan dapat dibedakan 3 macam nutrisi heterotrof yaitu :



  1. Tipe nutrisi holozoik. Dalam tipe makanan ini baik yang berupa tumbuhan atau jenis hewan lain, pertama – tama harus dicari dan didapatkan dahulu, baru kemudian dimakan sertaselanjutnya dicerna sebelum dapat diabsorpsi dan dimanfaatkan oleh sel – sel tubuh hewan itu. Untuk mencari dan mendapatkan makanan diperlukan peranan berbagai struktur indera, saraf serta mekanisme otot. Selanjutnya, untuk mengubah substansi makanan itu kedalam bentuk yang dapat diabsorpsi, diperlukan juga mekanisme dari sistem pencernaan.

  2. Tipe nutrisi saprozoik. Dijumpai pada berbagai hewan protozoa, yang memperoleh nutrien – nutrien organik yang diperlukan dari organisme – organisme yang telah mati, membusuk, dan telah terurai. Nutrien – nutrien tersebut diabsorpsi melalui membran sel dalam bentuk molekul – molekul terlarut.

  3. Tipe nutrisi parasitik. Dijumpai pada hewan – hewan parasit. Hewan – hewan ini mencerna partikel – partikel padat dari tubuh organisme inangnya atau secara langsung mengabsorpsi molekul – molekul organik dari cairan atau jaringan tubuh inangnya. Sebagai contoh dari fenomena ini adalah berbagai jenis cacing parasit pada tubuh hewan atau manusia, misalnya cacing hati di dalam hati, cacing pita dan cacing perut di dalam usus. Sehingga cacing ini memiliki sucker untuk menghisap sari makanan dari inangnya. 


  1. Adaptasi morfologi pada Hewan

Untuk mempermudah medapatkan makanan yang berada dalam habitatnya, hewan melakukan adaptasi untuk dapat melangsungkan hidupnya. Bentuk paruh dan kaki pada burung beraneka- ragam disesuaikan dengan jenis makanan dan cara memperoleh makanan tersebut.



  1. Paruh burung elang, bentuknya runcing, agak panjang dengan ujung agak membengkok sesuai dengan jenis makanannya yang berupa daging. Kaki pada burung elang, ukurannya pendek, cakar sangat kuat untuk mencengkeram mangsa atau daging.

  2. Paruh bebek, pada pangkalnya terdapat bentuk seperti sisir, berguna untuk menyaring makanan dari air dan lumpur dan kaki pada bebek berselaput di antara ruas jarinya untuk berenang dan berjalan di tanah berlumpur.

  3. Paruh burung pipit, bentuknya pendek tebal dan runcing sesuai dengan jenis makanannya yaitu untuk memecah biji-bijian dan tiga kaki ke depan satu ke belakang untuk berjalan dan hinggap.

  4. Paruh burung pelatuk, runcing agak panjang untuk memahat kayu pohon untuk menangkap dan memakan serangga di dalamnya. Kaki burung pelatuk mempunyai dua jari ke depan dan dua jari ke belakang untuk memanjat.

  5. Burung pemakan biji mempunyai bentuk paruh berbeda dengan burung pemakan daging atau burung pemakan serangga demikian pula kaki burung elang berbeda dengan kaki bebek karena cara memperoleh makanannya juga berbeda.


Adaptasi morfologi pada mulut serangga



  1. Bentuk mulut serangga bermacam-macam disesuaikan dengan cara mengambil makanannya.

  2.  Tipe mulut penggigit, mempunyai rahang atas dan rahang bawah yang kuat untuk menggigit, misalnya: lipas, jengkerik, dan belalang.

  3. Tipe mulut penghisap dan penjilat,memiliki bibir untuk menjilat, misalnya: lebah madu dan lalat.

  4. Tipe mulut penusuk dan penghisap, mempunyai rahang yang runcing dan panjang untuk menusuk dan menghisap, misalnya: nyamuk.

Tipe mulut penghisap, mempunyai alat penghisap seperti belalai yang panjang dan dapat digulung sehingga dapat menghisap madu yang terdapat jauh di dasar bunga, misalnya kupu-kupu.

Contoh bahwa ekologi mempengaruhi kondisi morfologinya adalah kadal. Kadal diketahui merupakan hewan yang memakan beberapa jenis makanan. Tidak diketahui dengan jelas makanan utama kadal. Namun Kadal memangsa serangga, dalam hal ini Kadal dinamakan musuh alami serangga. Kadal dapat dikategorikan sebagai predator serangga. Kadal merupakan komponen yang sangat penting pada dinamika populasi serangga. Sehingga Kadal memiliki pengaruh menurunkan secara nyata total jumlah serangga (Hadi. 2009. )

     Telah diketahui bahwa habitat dan morfologi mempengaruhi cara makan organisme, terutama kadal. Kadal hidup diberbagai tempat, Sehingga dapat diasumsikan bahwa setiap kadal memiliki jenis makanan yang disesuaikan dengan ketersediaannya di lingkungannya. Sehingga untuk memahami hubungan habitat dan morfologi terhadap jenis makanan kadal perlu diketahui untuk menjelaskan bagaimana hubungan tersebut terjadi dengan menggunakan hewan coba Kadal.Berikut ini merupakan data Morfologi Kadal dan Jenis Makanan pada Beberapa Habitat.





































NoHabitatUkuranMorfologiJenis MakananProsentase
1.Pinggir jalan (sawah)Kepala : 2,5

Kaki dpn: 2

Kaki blkg: 5

Ekor : 9,5
Warna

Dorsal : coklat kehijauan

Ventral anterior : putih

Ventral posterior: kuning
Rumput

Serangga
50%

50%
2.JalanKepala : 1,4

Kaki : 2,5

Badan : 5

Ekor : 8,5

Keseluruhan : 14,5
Warna

Dorsal : coklat kehijauan

Ventral : putih kuning
Serangga100%
3.Splindit (kandang budidaya)Kepala : 1,2

Kaki : 1,7

Badan : 5

Ekor : 9
Warna

Dorsal : coklat kehijauan

Ventral : putih
--

Keterangan ukuran dalam satuan cm.


Kadal (mabouya multifasciata) di beberapa habitat yang berbeda, adapun kadal yang di dapatkan berasal dari habitat : tepi jalan (samping area persawahan) selanjutnya di sebut kadal habitat I, di jalan (kadal habitat II) dan kadal yang di beli di kandang budidaya kadal di Splindid (kadal habitat III).

    Jika dilihat dari grafik perbandingan morfologi kadal di atas. Maka Kadal habitat I merupakan kadal dengan ukuran yang paling besar. Dalam pembedahan sistem pencernaan kadal habitat I di temukan jenis makanan yang dimakan kadal. Yakni antara lain : tumbuhan dan serangga. Rumput tersebut memang tidak dapat diamati dengan baik, karena sudah hancur di dalam usus. Namun masih terlihat beberapa serat-serat khas rumput dan hasil pencernaan yang masih berada di usus berwarna hijau. Ciri khas dari proses pencernaan rumput. Selain rumput, juga menemukan serangga di dalam usus Kadal. Walaupun tidak utuh serangga tersebut, namun tampak sisa-sisa skelekton serangga yang tak tercerna oleh enzim pencernaan kadal.

    Kadal yang ditemukan di pinggir jalan di dekat area persawahan ini memiliki beberapa kombinasi jenis makanan. Sehingga dapat diketahui keadaan habitatnya. Setidaknya area persawahan didominasi oleh tumbuhan berupa rumput-rumputan dan tumbuhan herba lain. Keanekaragaman serangga juga masih kita jumpai di area sawah. Sehingga kadal yang  temukan pada habitat ini tentu saja mendapatkan jenis makanan yang representatif dari kondisi habitat sawah.

    Menurut Ibrahim (2003) Mabouya multifasciata dikenal sebagai Many-lined Sun Skink merupakan jenis kadal yang paling sering ditemukan dan jumlahnya masih banyak. ditemukan pada lantai hutan dan sering ditemukan di beberapa tempat. jenis ini sering ditemukan di daerah terbuka dari sinar matahari dan habitatnya juga meluas sampai pemukiman manusia (Ibrahim et al. 2003)

Kadal (Mabouya multifasciata) mencari makan di atas tanah dan memanjat dahan-dahan tanaman untuk memangsa ulat. Hewan ini menggali lubang di tanah untuk membuat sarang di mana ia menemukan sarang rayap, hama yang membusukkan akar dan batang tanaman. Ia juga memangsa larva penyerang akar tanaman (Porat. 2008).

Pada Kadal Habitat II yang  temukan di jalan, disekitar area pemukiman warga, setelah pengamatan isi perut didapatkan hasil sebagai berikut : Kadal terdiri hanya 1 jenis makanan yakni serangga, belum diketahui jenis serangga apa yang dimakan oleh Kadal Habitat II ini. Seperti halnya pada Kadal Habitat I, bekas skelekton dari serangga masih terlihat dengan jelas pada pengamatan organ lambung Kadal.

Dalam pengamatan Kadal habitat II ini, tidak ditemukan jenis makanan tumbuhan di dalam isi perut kadal. Berbeda dengan pada Pengamatan kadal habitat I. Belum diketahui dengan jelas terkait penjelasan hal ini. Kadal yang ditemukan di Jalan daerah pemukiman warga tersebut hanya mendapatkan makanan berupa serangga saja, hal ini karena di daerah pemukiman jarang ditumbuhi oleh tumbuhan-tumbuhan kecil misanya rumput.

      Pada pengamatan isi perut Kadal yang ketiga, sumber Kadal di dapatkan dari kandang pemeliharaan Kadal di pasar hewan Splindit. Adapun tujuan  untuk mengambil sampel disana adalah untuk mengetahui jenis makanan kadal yang dibudidayakan. Dari hasil analisis isi perut kadal, tidak ditemukan makanan apapun, hanya terdapat cairan putih bening di organ pencernaannya. Diduga cairan tersebut adalah air dan cairan lambung yang dikeluarkan kadal. Isi perut kadal habitat III ini tidak menunjukkan bahwa, kadal yang dipelihara tidak dapat mengakses makanannya sendiri, walaupun dari pihak pemeliharan memberikan makanan, namun rupanya kadal tidak sesuai dengan makanan kadal sesungguhnya. Akibatnya kadal malah berukuran kecil karena kurang makan.


referensi :

Begon, M., T.L. Harper & C.R. Townsend. 1986.Ecology: Individuals PopulationsandCommunities

Blacwell. Oxfor.Kendeigh, S.C.1980. Ecology With Special Reference to Animal & ManPrenticeHall, New Jersey.

Darmawan,Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang : Universitas Negeri Malang

Djamal. Zoer’aini. 1992. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi. Jakarta. Penerbit P.T Bumi Aksara

Hadi, Mochamad. 2009. Biologi Insekta Entomologi. Yogjakarta. Penerbit Graha Ilmu

http://ekosistem-ekologi.blogspot.com/2013/02/belajar-ekologi-hewan.html

http://www.inforedia.com/2010/03/faktor-pembatas-ekosistem.html

Ibrahim et al. 2003. An Annotated Checklist of Herpetofauna Of Langkawi Island, Kedah, Malasyia. Malayan Nature journal

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta. Penerbit P.T Bumi Aksara

Kramadibrata, H. (1996). Ekologi Hewan. Bandung : Institut Teknologi Bandung Press.

Kurniati, Helen. 2001. Perbedaan Relung Intraspesifik Kadal (Sphenomorphus variegatus : Ditinjau dari Variasi Morfometrik (Lacertilia : Scincidae).Biota Vol. VI (3) : 105-108 Oktober 2001 ISSN 0853-8670

Miralles, Aurelien et al. 2009. Three rare and enigmatic South American Skinks.Zootaxa 2012:48-68. ISSN 1175-5334 (online edition)      http:// www.mapress.com/zootaxa tanggal 14 April 2011 pukul 20.12 WIB

Odum, E.P. Dasar-dasar Ekologi edisi ketiga. Penerjemah: Tjahyono Samingan. Jogjakarta. Penerbit Universitas Gadjah Mada.

Porat. Emanuel. 2008. Menakar Manfaat Predator di Kawasan Wanatani Kopi.Departemen Kehutanan. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Balai Konservasi Sumber Daya Alam

Rachman, A. and Hadi, S., 2008. Stuktur makro dan mikroanatomi otot ekor pada ekor asli dan regenerat ekor kadal (Mabouya multifasciata Kuhl). Berkala Ilmiah Biologi 6(2): 81 – 86

Ridwan, Roni. 2001. Pemberian Berbagai Jenis Pakan untuk Mengevaluasi Palatabilitas, Konsumsi Protein dan Energi pada Kadal (Mabouya multifasciata) Dewasa. Biodiversitas ISSN: 1412-033X Volume 2, Nomor 1 Januari 2001 Halaman: 98-103

Sidik, J. 2006. Analisis Isi perut dan Ukuran Tubuh Ular Jali (Ptyas mocacus). Zoo Indonesia. Vol. 15(2): 121-127

Storer, Tracy. Tanpa tahun. Dasar-dasar Zoologi. Tangerang Selatan. Penerbit Binarupa Aksara

Suheriyanto, Dwi. 2008. Ekologi Serangga. Malang. Penerbit UIN Maliki Malang

Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang. Penerbit Universitas Negeri Malang.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: EkoMorfologi Hewan Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan