Latest News
Thursday, August 15, 2013

Di Bibir Pintu Sore ini

Oleh : Prasetyani EA

Saat ini aku 19 tahun, dan dia 25 tahun. Selisih enam tahun. Kita sudah saling hibur satu sama lain selama ini, oh mungkin lebih tepatnya dia yang telah hibur aku selama ini. Walaupun beberapa tahun terakhir, semenjak aku masuk SMA dan dia sibuk kuliah sambil kerja, jarak itu makin terasa. Ah, menuliskan tentang kita sedikit merepotkanku, aku selalu jadi cengeng! Sial!

“Sing penting lulus” , itu SMS lugasnya yang ia kirim tepat semalam sebelum UAN. Aku sedikit geli, tapi juga haru. Setidaknya dia peduli, dan tak membebaniku dengan menuntut hasil ini itu. Padahal ketika aku akan UAN SMP nasihatnya sampai tiga kali pesan singkat, aku kewalahan membacanya. Mungkin, makin dewasa manusia jadi makin lugas dan tegas, dan sedikit acuh barangkali. Entahlah, tapi dia tetap ‘pengguncang’ semangat paling keren.

Belum lama ini, aku paham dia marah besar berkat ulahku. Dia bilang aku tidak tanggung jawab, kata-katanya tajam menghujam sampai menusuk ulu hatiku. Perih, tapi positif. Aku belum pernah lihat yang begini sebelumnya, dia benar-benar kecewa. Bodohnya, aku justru yang tak terima sebab merasa diatur. Aku lupa betapa tak ada upaya yang ia lewatkan sedikitpun demi masa depanku, aku lupa! Walaupun barangkali dia sering lalai bahwa aku mungkin ‘salah tempat’. Dia teramat yakin aku sangat kuat, mungkin.

Sering aku dengar cerita dari beberapa orang, hidupnya berat di sana. Tapi tak ada urat letih yang ia bawa pulang, tak pernah. Dia tetap jadi dewasa yang kuat, tanpa ada yang tahu apa sebenarnya yang ada di balik dadanya. Dia teramat dingin, teramat sangat. Yang jelas aku lihat, badannya makin kurus dan legam. Dia hitam sekarang, tapi gagah!

 Dan di bibir pintu sore ini, ketika dahiku menyentuh urat-urat nadi di punggung  tangannya, ada janji sepihah yang aku buat. Aku akan jadi hebat dan kuat sepertinya, dengan caraku. Entah hidup akan membawaku kemana, aku akan ikuti. Tapi aku tak akan lagi segan-segan untuk menampar diriku sendiri kalau sampai bertindak bodoh. Dan jika aku tetap tak kuasa, aku mohon dengan segala kerendahan hati, izinkan aku pergi, dan menuju yang memang menjadi tempatku. Aku harap dia mengerti.



Beberapa hari ini menjadikan aku paham tentang berbagai hal. Bahwa tak ada aturan tanda cinta dan kasih sayang harus dimulai dengan ucapan maupun ungkapan. Aku juga makin mengerti, bahwa ada orang-orang yang memang sengaja menimbulkan luka pada diri kita, supaya ada cambukan semangat. Jadi salah kalau kita justru makin loyo dan merasa tak berguna, salah besar!



Ada banyak yang ingin aku ceritakan, tapi semua sirna tegugu dalam tangis. Menyaksikan punggungnya yang ditunggangi rangsel besar semakin jauh dari bibir pintu rumah, sesalku datang berdesakan.



Kau, yang membaca ini. Jangan jadi perasa yang mudah menyimpulkan dengan marah, supaya kau tak punyai sesal seperti aku.



Wonogiri, 14 Agustus 2013
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Di Bibir Pintu Sore ini Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan