Latest News
Tuesday, July 16, 2013

Kembali ke puncak, itu hanyalah kabut

 

Pagi itu sebelum ke kota budaya kembali meyempatkan untuk mampir kemari, puncak joglo.. mencari suasana yang segar sebelum menuai aktivitas yang siap menanti..

Pagi itu sungguh berbeda.. mengingat masih pagi, mendung hitam dan kabut meyelimuti.. semakin lama semakin menebal.. dan jarak pandang pun berkurang..

Matahari mulai tampak di ufuk timur, di samping gunung lawu.. cahaya pun mulai menembus kabut dan mulai menghangatkan kulit..

Kehidupan itu terkadang seperti siklus puncak gunung ini.. hidup itu kadang di puncak.. memiliki keadaan yang baik dan menyenangkan, apa yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan, bisa melihat apapun.. namun keadaan itu tidak bisa kita rasakan.. seringkali kabut hitam itu mulai menyelimuti, mulai membiaskan apa yang sudah kita dapatkan, sehingga rasa syukur ini bisa terhalang dengan kelamnya rasa yang kita rasakan..

Hidup juga terasa dingin karena cahaya yang terhalang oleh kabut itu.. hangatnya kehidupan itu tidak bisa kita rasakan kalau kebahagiaan, kebebasan, dan kenyamanan kehidupan ini tertutupi dengan pikiran kita sendiri.. sibakklah.. dengan kehangatan rasa syukur.. dunia itu masih luas.. selagi kita mampu meruntuhkan dinding penghalang dan kepenatan.. semua itu pasti dapat kita dapatkan... percayalah.. membatasi diri dan pikiran bukanlah sesuatu yang baik.. karena akan memupuk rasa pesimisme, so bangunlah rasa optimismu...

Hari ini juga berkabut.. tabir itu terkadang tebal, ya harus di tembus.. karena titik cerah ada di sana yang siap menanti..
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Kembali ke puncak, itu hanyalah kabut Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan