Latest News
Sabtu, 27 April 2013

Budaya konfirmasi, Tepat Waktu, dan Solutif

Sebuah inspirasi dari seorang pejuang, benar benar pejuang.. dimana dia memegang kredibilitas seorang pemimpin.. tubuh yang tinggi namun agak kurus, dengan sepatu khasnya berjalan menyusuri jalan di solo raya, jalan di sekitar kampus, dari gedung ke gedung, dari masjid ke masjid. Tanpa kuda besi sesosok pribadi ini menjalani rutinitasnya, beliau adalah seorang kabid BP di salah satu UKM FKIP.. sebagai seorang mahasiswa yg padat jadwalnya, karena selalu ada praktikum setiap sore, sering pula menyita waktu liburnya, di sabtu dan minggu, belum pula puluhan lembar yang menunggunya untuk digores pena..

Walau padat beliau selalu menyempatkan waktu untuk membina pengurus UKM nya agar tetap terjaga, dan mengingat posisinya di BP yg merupakan sumber utama tegaknya regenerasi pejuang baru. Dengan banyak agenda yg di luncurkan sehingga membutuhkan beliau untuk membersamai.. mengontrol kinerja pengurus serta mengevaluasinya.

Dan tak cukup sampai disitu, langkah kakinya tak terbatas di sekitar kampus saja. namun berkelana ke kampus kampus di solo raya. ya, mengembangkan sayap jaringan PPLDK di solo. ya istimewa dari beliau adalah dalam pindah dari koordinat satu ke koordinat lain itu naik bus ke bus. kalau seringnya sekarang pakai motor. beliau kalau mendapatkan undangan sebelum acara dimulai itu konfirmasinya seperti ini, " nanti insya Allah 10 menit lagi sampai".

kenyataan yang terjadi dibeberapa periode dalam berlembaga diwarnai tanpa konfirmasi, datang telat. sehingga banyak membuat jiwa- jiwa yang tenang itu menunggu.
kenapa sih harus membudayakan konfirmasi?

konfirmasi merupakan subtansi dasar dalam berlembaga, karena pada dasarnya dalam koordinasi, penawaran dalam menyelesaikan tugas otomatis menggunakan konfirmasi, minimal jawab "ya atau tidak", lebih baik mengatakan "insya Allah", jika keberatan bisa memberikan alasan keberatan ataupun usulan yang solutif. di era seperti ini sebaiknya lebih baik dalam point ini. mengingat segala komunikasi bisa dilakukan dalam banyak hal, baik sms, telpon, maupun sosmed yang menjamur di dunia maya.

namun dalam kenyataannya sms hanya tinggal sms, chat pun kadang- kadang tidak direspon. padahal yang disampaikan itu merupakan hal yang urgent. berfikir pun boleh lama misalnya dalam 1 hari, namun memberikan konfirmasi yang jelas, misal "maaf belum bisa konfirmasi sekarang, insya Allah nanti malam" itu akan lebih baik daripada diam tanpa kata. pihak yang mengirimkan sms pun akan merasa lebih lega dan dihargai.

misal tidak bisa datang suatu undangan sebaiknya juga memberikan konfirmasi, semisal pada agenda tersebut memerlukan kepastian dalam penyediaan logistik. hal ini akan memberikan dampak yang positif terhadap finansial agenda. selain itu pula akan meenjadi bahan pertimbangan kepada tim publikasi apakah semakin gencar dalam iklan maupun sebagai sarana monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan suatu agenda.

dengan adanya konfirmasi juga insya Allah akan mengurangi suudzan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang (tajassus) dan janganlah pula saling menggunjingkan (ghibah) satu sama lain..” (QS. Al-Hujuraat [49]: 12). Dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Jauhkanlah diri kalian dari prasangka (pd org lain), karena prasangka (buruk) adalah kata-kata terdusta” (HR. Muslim).
trus kenapa harus tepat waktu?

karena waktu itu begitu berharga.

Al-Quran dan Sunnah sangat perhatian terhadap waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang bermacam-macam. Allah shubhana wa ta’ala telah bersumpah dengan waktu-waktu tertentu dalam beberapa surah Al Qur’an, seperti al-lail (waktu malam), an-nahâr (waktu siang), al fajr (waktu fajar), adh-dhuhâ (waktu matahari sepenggalahan naik), al ‘ashr (masa). Sebagaimana firman Allah shubhaana wa ta’ala,
“Demi malam apabila menutupi (cahaya) siang, dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 1-2).
“Demi fajar dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1-2).
“Demi waktu matahari sepenggalan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. Adh-Dhuhâ: 1-2).
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al ‘Ashr: 1-2).

Ketika Allah shubhaana wa ta’ala bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.

hmm... menunggu itu memang melelahkan.. ya.. kalau kata teman- teman saya marmos begitu.. saya juga berharap kejadian ini tidak berujung pada tragedi PHP dan dusta diantara kita..

dalam berlembaga memang terkenal dengan jam karet, menunggu, ketidakpastian.. apalagi kalau ini sampai terjadi di level Top leader, nanti akan dipertanyakan, bagaimana kondisi di middle leader dan staff? mungkin akan diperparah dengan minimnya budaya konfirmasi. padahal kepastian dan komitmen ini akan teruji pada hal itu, itu sebagai indikator bahwa terjadi sistem komunikasi yang tersendat, bahwa kesolidan dalam lembaga masih perlu diperbaiki. waktu itu layaknya pedang, ya. teman- teman juga sudah tahu sendiri.
kenapa harus solutif?

menurut Presiden BEM FKIP UNS 2012, Solutif sendiri berarti sebuah langkah cerdas dan tuntas dalam menyelesaikan permasalahan. tambahan dari saya itu solutif itu nyata, realisitis dan mampu dilaksanakan tanpa banyak repot. tidak perlu ribet. namun langsung pada pokok permasalahan. memberikan usulan yang tidak menimbulkan perdebatan sengit serta tidak memberikan banyak persepsi. nah untuk itu perlu pemikiran jangka panjang, spekulasi bertahap dan sistematis.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Budaya konfirmasi, Tepat Waktu, dan Solutif Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan