Latest News
Senin, 29 Agustus 2011

Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

1. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran problem based learning adalah model pembelajaran yang menyajikan masalah otentik dan bermakna serta dicari pemecahannya melalui suatu penyelidikan yang menggunakan lima tahap pembelajaran, yaitu:
 (1) orientasi masalah
 (2) mengorganisasi siswa belajar
 (3) membimbing penyelidikan individual maupunkelompok
 (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya
 (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahanmasalah.
Problem based learning terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan (Dhofir, 2009).
Problem based learning merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif  untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi, pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya, pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Holil, 2008).

2. Landasan Teori Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model pembelajaran problem based learning dapat ditelusuri menjadi tiga aliran pemikiran pendidikan yaitu Dewey dan kelas demokratis, konstruktivisme Piaget dan Vygotsky, serta belajar penemuan Bruner (Ibrahim dan Nur, 2004).
a. Dewey dan Pembelajaran Demokratis
Dewey menyampaikan pandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Ilmu mendidik Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah – masalah intelektual dan sosial.
b. Konstruktivisme Piaget dan Vygotsky
Piaget berpendapat bahwa berdasarkan pandangan konstruktivis kognitif, pengetahuan adalah konstruksi dari kegiatan atau tindakan seseorang. Pengetahuan tumbuh dan berkembang pada saat siswa menghadapi pengalaman baru. Pengalaman baru tersebut akan memaksa siswa untuk membangun dan memodifikasi pengetahuan awal yang dimiliki. Setiap pengetahuan mengandalkan suatu interaksi dengan pengalaman. Tanpa interaksi dengan obyek, siswa tidak dapat menkonstruksi pengetahuannya (Dahar, 1988).
Seperti halnya Piaget, Vygotsky percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru yang menantang. Pengalaman tersebut akan membuat siswa berusaha untuk memecahkan masalah, sehingga merangsang keterampilan berpikir (Ibrahim dan Nur, 2004). Untuk memperoleh pemahaman, individu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang dimiliki.
Piaget berpendapat bahwa tahap-tahap perkembangan intelektual individu dilalui tanpa memandang latar konteks sosial dan budaya individu. Sementara itu, Vygotsky memberi tempat lebih pada jenjang sosial pembelajaran. Ia percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain mendorong terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual pembelajaran. Implikasi dari pandangan Vygotsky dalam pendidikan adalah bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dengan guru dan teman sejawat (Ibrahim dan Nur, 2004).
c. Bruner dan Belajar Penemuan
Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manuasia sehingga memberikan hasil yang lebih baik. Berusaha sendiri untuk pemecahan masalah dan pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Dahar, 1988). Pelibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran dapat menyebabkan perubahan ide maupun pemahaman hingga tindakan siswa. perubahan ini semakin berarti jika berasal dari proses diri sendiri dan sesuai dengan caranya sendiri, karena pada dasarnya kegiatan pembelajaran merupakan proses yang kompleks (Wartono, 2003). 
Menurut Bruner, belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan keterampilan berpikir secara bebas ,melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah (Dahar, 1988).

3. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah

Model pembelajaran problem based learning memiliki karakteristik sebagai berikut (Nurhadi. 2004).
a. Pengajuan pertanyaan atau masalah
Dimulai dengan pengajuan pertanyaan atau masalah. Model pembelajaran berbasis masalah berpusat pada pertanyaan atau masalah yang secara pribadi bermakna bagi siswa. siswa mengajukan situasi kehidupan nyata autentik untuk menghindari jawaban sederhana dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi.
b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu
Berpusat pada mata pelajaran tertentu. Masalah yang dipilih benar – benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah dari banyak mata pelajaran.
c. Penyelidikan autentik
Menghendaki siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Siswa harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen dan merumuskan kesimpulan.

d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
Menuntut siswa menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata yang menjelaskan atau mewakili penyelesaian masalah yang ditemukan. Karya nyata dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer yang disajikan dalam diskusi kelas.
e. Kerjasama dalam kelompok
Dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu sama lain secara berpasangan atau dalam kelompok kecil bekerjasama memberikan motivasi untuk terlibat dalam tugas – tugas kompleks, memperbanyak peluang berbagi inkuiri dan dialog serta mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.

4. Tahapan

Langkah-langkah model pembelajaran problem based learning menurut  (Tegeh, 2009):
a. Mengorientasikan siswa pada masalah
Guru menyajikan masalah secara hati-hati dengan prosedur yang jelas, situasi masalah baru disampaikan semenarik mungkin, biasanya memberikan kesempatan siswa untuk melihat, merasakan dan menyentuh sesuatu sehingga dapat memunculkan keterkaitan dan memotivasi inkuiri. Sajian masalah tersebut diharapkan dapat menggugah minat siswa dan menimbulkan keinginan untuk memecahkan masalah tersebut.
b. Mengorientasikan siswa belajar
Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok, bagaimana kelompok terbentuk tergantung tujuan yang ditetapkan guru untuk masalah tertentu. Setelah siswa diorientasikan kepada situasi masalah dan telah membentuk kelompok, maka tugas pertama bagi kelompok adalah mengajukan hipotesis dari permasalahan yang terjadi. Dalam tahap ini guru membantu siswa dalam merencanakan dan mengatur waktu untuk melakukan penyelidikan, diskusi serta mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
c. Membimbing penyelidikan individual dan kelompok.
Penyelidikan yang dilakukan secara mandiri atau kelompok banyak melibatkan pengumpulan data, melakukan percobaan, pengajuan hipotesis, menjelaskan dan memberikan pemecahan masalah. Selama tahap penyelidikan, guru menyediakan bantuan yang dibutuhkan tanpa menunggu dan mengingatkan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan. Bantuan guru dapat berupa memberikan bimbingan apabila siswa menemukan kesulitan, menyediakan bahan ajar, dan menyediakan alat dan bahan percobaan.
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Pada tahap ini, guru membantu siswa dalam manyiapkan karya yang sesuai, seperti poster, video, laporan dan model. Setelah pengembangan hasil karya selesai, guru memberikan kesempatan masing-masing kelompok untuk menyajikan hasil karya yang digarapkan dapat mewakili penyelesaian dan penjelasan dari masalah yang sedang dipelajari.
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Tahap ini dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri serta keterampilan penyelidikan dan keterampilan intelektual yang mereka gunakan. Selama tahap ini, guru meminta siswa untuk melakukan rekonstruksi pemikiran dan aktivitas mereka selama tahap-tahap pelajaran yang telah dilewatinya. 

5. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis Masalah

Beberapa prinsip yang berkaitan dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
a. Belajar adalah proses konstruktif dan bukan penerimaan
Pakar konstruktivisme meyakini bahwa siswa harus mengkonstruksi makna untuk dirinya sendiri. Hal ini kan membuat belajar yang terjadi adalah sesuatu yang dihubungkan dengan pengetahuan, pengalaman atau konseptualisasi yang telah ada pada diri individu. Sesuatu yang dipelajari siswa bukanlah tiruan dari yang diamati di sekitarnya, tetapi hasil dari pemikiran dan pemrosesan mereka sendiri (Handayanto, 2003).
b. Faktor – faktor kontekstual dan sosial mempengaruhi pembelajaran
Tentang penggunaan pengetahuan. Jika tujuan pembelajaran adalah mengajarkan siswa untuk menggunakan pengetahuan dalam memecahkan masalah dunia nyata Gruber (1993) dalam Supat (2003) menyarankan bahwa pembelajaran harus diletakkan dalam konteks situasi pemecahan masalah kompleks dan bermakna serta belajar harus berlangsung dalam situasi kerjasama.
Faktor sosial juga mempengaruhi belajar individu. Dalam model pembelajaran berbasis masalah, siswa bekerjasama satu sama lain (berpasangan atau dalam kelompok kecil) sehingga dapat memberikan motivasi untuk terlibat dalam tugas-tugas, berbagi inkuiri, dialog dan mengembangkan keterampilan sosial serta keterampilan berpikir (Nurhadi, 2004). Dalam kelompok kecil, siswa akan membangkitkan metode pemecahan masalah dan pengetahuan konseptual merekan. Mereka menyatukan ide-ide dan membagi tanggung jawab dalam menyelasaikan situasi masalah.

6. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam Pemanfaatannya

• Kelebihan
a. Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif
b. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
c. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar
d. Membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru
e. Dapat mendorong siswa/mahasiswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri
f. Mendorong kreativitas siswa dalam pengungkapan penyelidikan masalah yang telah ia lakukan

• Kekurangan
a. Kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini. Peserta didik dan pengajar masih terbawa kebiasaan metode konvensional, pemberian materi terjadi secara satu arah.
b. Kurangnya waktu pembelajaran. Proses PBM terkadang membutuhkan waktu yang lebih banyak. Peserta didik terkadang memerlukan waktu untuk menghadapi persoalan yang diberikan. Sementara, waktu pelaksanaan PBM harus disesuaikan dengan beban kurikulum.
c. Menurut Fincham et al. (1997), "PBL tidak menghadirkan kurikulum baru tetapi lebih pada kurikulum yang sama melalui metode pengajaran yang berbeda," (hal. 419).
d. Siswa tidak dapat benar-benar tahu apa yang mungkin penting bagi mereka untuk belajar, terutama di daerah yang mereka tidak memiliki pengalaman sebelumnya.
e. Seorang guru mengadopsi pendekatan PBL mungkin tidak dapat untuk menutup sebagai bahan sebanyak kursus kuliah berbasis konvensional. PBL bisa sangat menantang untuk melaksanakan, karena membutuhkan banyak perencanaan dan kerja keras bagi guru. Ini bisa sulit pada awalnya bagi guru untuk "melepaskan kontrol" dan menjadi fasilitator, mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang tepat daripada menyerahkan mereka solusi

7. Implikasi Dalam Pembelajaran Biologi

Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk belajar bagaimana belajar. Pengajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan jika guru tidak mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Intinya, siswa dihadapkan situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat menantang siswa untuk memecahkannya (Nurhadi, 2004: 109). Model Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang berorientasi pada penggunaan masalah nyata sebagai cara untuk melibatkan siswa dalam proses belajarnya. Materi pokok yang dipilih dalam pembelajaran biologi ini adalah materi Pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Dahar, R.W.1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: Departemen P dan K Direktorat Jendral Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Sanjaya,Wina.2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Slavin, Robert.E. 2008. Cooperative Learning; Teori, Riset dan Praktik. Bandung : PT. Nusa Media
Suherman, dkk. 2001. Common TexBook Strategi Pembelajaran Kontemporer. Bandung : UPI Bandung.
Tegeh, I.M. 2009. Perbandingan Prestasi Belajar Mahasiswa yang Diajar dengan Menggunakan Problem Based-Learning dan Ekspositori yang Memiliki Gaya Kognitif Berbeda. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri M alang.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan