Latest News
Monday, February 14, 2011

Model Pembelajaran Learning Cycle (Siklus Belajar)

A. Pengertian Learning Cycle

Siklus belajar (learning cycle) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada peser
ta didik (student centered). Pengembangan model ini pertama kali dilakukan oleh Science Curriculum Improvement Study (SCIS) pada tahun 1970-1974. Model ini dilandasi oleh pandangan kontruktivisme dari Piaget yang berangapan bahwa dalam belajar pengetahuan itu dibangun sendiri oleh anak dalam struktur kognitif   melalui interaksi dengan lingkungannya. Siklus belajar merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat menguasai kompetensi-kompetensi, yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. Siklus belajar pada mulanya terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction) dan aplikasi konsep (concept application) (Karplus dan Their dalam Renner et al, 1998).

B. Alasan Menggunakan Siklus Belajar (Learning Cylce)

Siklus  belajar patut dikedepankan, karena sesuai dengan teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi : struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual adalah  organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang  dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi (Arifin, 1995). Adaptasi terdiri atas asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi individu menggunakan struktur kognitif yang sudah ada untuk memberikan respon terhadap rangsangan yang diterimanya. Dalam asimilasi individu berinteraksi dengan data yang ada di lingkungan untuk diproses dalam struktur mentalnya. Dalam proses ini struktur mental individu dapat berubah, sehingga terjadi akomodasi. Pada konsisi ini individu melakukan modifikasi dari struktur yang ada, sehingga terjadi pengembangan struktur mental. Pemerolehan konsep baru akan berdampak pada konsep yang telah dimiliki individu. Individu harus dapat menghubungkan konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu hubungan antar konsep. Konsep yang baru harus diorganisasikan dengan konsep-konsep lain yang telah dimiliki. Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan tercermin dari respon yang diberikan dalam menghadapi masalah. Karplus dan Their (dalam Renner et al, 1988) mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan ide Piaget di atas. Dalam hal ini pembelajar diberi kesempatan untuk mengasimilasi informasi dengan cara mengeksplorasi lingkungan, mengakomodasi informasi dengan cara mengembangkan konsep, mengorganisasikan informasi  dan menghubungkan konsep-konsep baru dengan menggunakan atau memperluas konsep yang dimiliki untuk menjelaskan suatu fenomena yang berbeda. Implementasi teori Piaget oleh Karplus dikembangkan menjadi fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Unsur-unsur teori belajar Piaget (asimilasi, akomodasi, dan organisasi) mempunyai korespondensi dengan fase-fase dalam Siklus Belajar (abraham et al, 1986).

Learning Cycle merupakan salah satu model pembelajaran yang berlandaskan pada pandangan konstruktif. Pandangan ini berasumsi bahwa mengajar bukan sebagai proses di mana gagasan-gagasan guru (dosen) diteruskan pada para peserta didik, melainkan sebagai proses untuk mengubah dan membangun gagasan-gagasan peserta didik yang sudah ada. Seperti yang diungkapkan oleh Salandanan (2000:19) dalam Laporan Penelitian Purniati, dkk.:
“Knowledge therefore is the result of the learners own construction of reality. It involves a countinous creation of rules to explain an observation, and it process,cheks new information against prior knowledge to come up with a new understanding”.
Pernyataan tersebut mengartikan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi pembelajar berdasarkan kenyataan, termasuk menjelaskan suatu pengamatan, melawan informasi baru yang datang dengan pemahaman baru.
Model pembelajaran ini pertama kali diperkenalkan oleh Karplus danThier (Lawson, 1994 dalam Kartika, 2007: 17 dalam Anonim) mengungkapkan bahwa ketiga tahapan dalam siklus belajar adalah exploration, invention, dan discovery, tetapi hal ini terus mengalami perkembangan hingga Lawson (1994: 136) dalam Anonim mengemukakan bahwa ada tiga tahap dalamsiklus belajar, yaitu ekplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep, sepertiditunjukkan dalam diagram berikut:

Terdapat istilah-istilah yang berbeda pada penamaan fase-fase dalam model Learning Cycleini. Lawson (Wiratmo, 2000:28) dalam Laporan PenelitianPurniati, dkk menggunakan istilah exploration, concept introduction, dan concept application. Senada dengan yang diungkapkan Lawson, Dahar (1989:198)  dalam Laporan Penelitian Purniati, dkk., juga mengemukakan bahwa fase-fase dalam  Learning Cycle, yaitu fase eksplorasi, fase pengenalan konsep, dan fase aplikasi konsep. Sedangkan Lorsbach (2002:1) dalam Laporan Penelitian Purniati, dkk.,menyatakan bahwa Learning Cycle mempunyai lima bagian yang saling berkaitan, dikenal dengan 5 E’s, yaitu:
engage (mendorong), explore (mengeksplorasi), explain (menjelaskan), extend  (memperluas), dan
evaluate (mengevaluasi). Meskipun memiliki istilah yang berbeda, namun pada dasarnyafase-fase dalam Learning Cycle mempunyai tujuan yang sama, yaitu menggali ide-ide peserta didik, mengadakan klarifikasi dan perluasan terhadap ide-ide tersebut, kemudian merefleksikannya secara eksplisit.
Abruscato & DeRosa (2010) dalam laporan penelitian Pujianto,mengemukakan, siklus belajar adalah sebuah model bagaimana seseorangmenemukan pengetahuan baru. Siklus belajar menyediakan kerangka pikir bagipendidik untuk mendesain pengalaman pembelajaran yang efektif.
Keunggulan dari model pembelajaran Learning Cycle antara lain:merangsang siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah didapatkan sebelumnya, memberikan motivasi kepada siswa untuk menjadi lebih aktif dan menambah rasa keingintahuan, melatih siswa belajar menemukan konsep melalui kegiatan eksperimen, melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang telah dipelajari, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, mencari, menemukan dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari (dalam skripsi Nugraheni, 2012).
Ada berbagai bentuk siklus belajar yang kita kenal. Salah satu dari siklusbelajar ini adalah siklus belajar 5E. Siklus belajar 5E terdiri dari engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation (dalam Laporan PenelitianPujianto, 2011).

1). Engagement (Keterlibatan)

Pembelajaran yang efektif akan terjadi jika siswa mempelajari sesuatu yang memiliki makna. Sebagaimana seorang penulis novel atau film, mereka harus dengan cepat mengangkap perhatian pembaca atau penonton. Demikian halnya seorang guru sekolah, mereka akan menemukan bahwa kesempatan untuk  menangkap dan memegang perhatian anak seringkali tertutup dengan cepat.Seorang guru harus menyusun sebuah skenario yang digunakan untuk menarik perhatian siswa sekaligus menetapkan pertanyaan utama yang meningkatkan keinginan anak untuk mempelajari mata pelajaran tersebut (Abruscato, 2010: 44dalam Laporan Penelitian Pujianto, 2011). Melalui fase inilah hal tersebut dilakukan. Melalui fase ini guru akan mengetahui tentang apa yang telah diketahui oleh siswa tentang topik yang akan mereka pelajari sekaligus memotivasi mereka untuk mempelajarinya (Ciappetta & Koballa, Jr, 2010: 129 dalam LaporanPenelitian Pujianto, 2011).
Terdapat tiga tipe pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk mencari tahu lebih dalam: memperoleh informasi, pengajuan pertanyaan umum,” Saya ingin tahu apa yang terjadi ketika...?” misalnya, “Saya ingin tahu pada tahapan apa ulat berubah menjadi kupu- kupu?” atau “Fase apa saja yang dilewati bulan selama satu  bulan?” Pertanyaan da pat juga bersifat eksperimental,“Apa yang akan terjadi jika.....?”
  Seperti halnya, “Apa yang akan terjadi jika kita meletakkan tanaman di dalam almari?” Terakhir, pertanyaan dapat juga “Bagaimana cara melakukannya” atau “Bagaimana saya dapat membangun jembatan yang lebih baik” (Abruscato,2010: 45 dalam Laporan Penelitian Pujianto, 2011).
Pada dasarnya, seluruh anak ingin mengetahui apa yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka kemukakan berasa ldari apa yang mereka amati Mengapa itu dapat terjadi?” Mereka juga masih memiliki kepolosan sehingga akan mudah tertarik dengan kejadian-kejadian yang tidak sesuai dengan pikiran mereka. Oleh karena itu, salah satu cara yang dapat dilakukan guru adalah memancing rasa ingin tahu mereka sehingga muncul respon positif yang berupa pertanyaan. Cara itu, menurut Wright dalam LaporanPenelitian Pujianto, dilakukan dengan memberikan kejadian-kejadian ganjil (discrepant events) pada siswa. Dinamakan kejadian aneh karena kejadian ini tidak masuk akal‖ bagi seorang anak sekolah dasar. Hasil sebuah discrepant events merupakan kejadian yang sangat berbeda dari yang dibayangkan oleh siswa(Friedl, 1991: 3-4 dalam Laporan Penelitian Pujianto, 2011).
Kejadian-kejadian ganjil merupakan kejadian yang menurut peserta didik aneh dan tidak sesuai dengan konsepsi awal mereka. Kejadian ganjil akan mengejutkan, membuat peserta didik heran, dan bertanya-tanya. Kejadian-kejadian ganjil merupakan kejadian yang tidak sesuai dengan kaidah alam yang terbangun di dalam benak pada umumnya. Hasil kejadian ganjil, setelah didemonstrasikan, sangat berbeda dengan prediksi sebelum kejadian ganjil didemonstrasikan. Menurut Lawson & Wollman dalam Collette & Chiappetta  (1994: 93) dalam Laporan Penelitian Pujianto, kejadian yang disajikan harus dipilih sedemikian rupa sehingga tidak dapat dijawab oleh siswa menggunakan pengetahuan awal yang mereka miliki.
Pada tahap ini guru :
a) membangkitkan minat.
b) membangkitkan rasa ingin tahu.
c) mengajukan pertanyaan, dan
d) mendatangkan jawaban sehingga membuka apa yang di ketahui oleh siswa mengenai topik konsep (Carin dan Bass, 2000:132).

2).  Exploration (Eksplorasi)

Eksplorasi menyediakan kesempatan bagi anak untuk memperoleh informasi baru yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan utama. Informasi yang baru tersebut hendaknya menantang siswa dan mengarahkan mental siswa menuju asimilasi dan akomodasi yang semakin memperbaiki model mental siswa sehingga fenomena yang dihadapi semakin dipahami. Aktivitas dalam fase inisifatnya terpusat pada siswa. Aktivitas yang dilakukan oleh siswa bisa berbentuk memperoleh informasi atau bereksperimen (Abruscato, 2010: 44 dalam LaporanPenelitian Pujianto,2011)
Desain pembelajaran pada fase ini hendaknya memberikan pengalaman konkret bagi siswa terkait dengan konsep atau prinsip yang akan mereka pelajari.Siswa diarahkan untuk memikirkan tentang karakteristik dan pola yang terkandung dalam fenomena yang mereka temui dalam firs-hand experiences mereka. Siswa diminta untuk merekam pengamatan dan menata (mengorganisasikan) data atau informasi yang mereka peroleh (Ciappetta &Koballa, Jr, 2010: 129 dalam Laporan Penelitian Pujianto, 2011). Pada tahap ini guru :
a) mendorong siswa untuk bekerja tanpa pengajaran langsung dari guru.
b) mengamati dan mendengarkan siswa saat mereka saling berinteraksi.
c) mengajukkan pertanyaan penyelidikan untuk mengarahkan penilitian siswa.
d) memberikan waktu untuk meneliti.
e) menyediakan waktu agar siswa dapat memecahkan masalah.
f) bertindak sebagasi konsultan bagi siswa (Carin dan Bass,2000: 139),sedangkan siswa pada tahap ini berfikir bebas, namun dalam batasan aktifitas,menguji prediksi dan hipotesis. Membentuk prediksi baru dan hipotesis.Mencoba alternatif dan mendiskusikannya dengan yang lain. Mencatat pengamatan dan gagasan dan menangguhkan penilaian (Carin dan Bass,2000:140) (dalam Shidiq, 2011).

3).  Explanation (Penjelasan)

Dalam fase ini, siswa diberi kesempatan untuk mengekspresikan apa yang telah mereka temukan selama fase eksplorasi. Jika eksplorasi berjalan efektif,anak akan membuat hubungan yang menjawab pertanyaan utama. Jika anak menunjukkan miskonsepsi, guru harus mengoreksinya dengan menantang pikiran anak yang salah melalui perolehan data baru. Fase ini merupakan saat model eksplanatori dibentuk. Penjelasan (explanation) dapat disajikan menggunakan tulisan, diagram, secara lisan, atau kinestetik melalui simulasi (Abruscato, 2010:44 – 45; 71 dalam Laporan Penelitian Pujianto,2011).
Pada tahap ini guru :
a). Mendorong siswa menjelaskan konsep dan definisi dengan kata-kata sendiri Meminta bukti (justifikasi) dan klasifikasi dari siswa.
b). Secara formal menyediakan definisi, penjelasan.
c). Menggunakan pengalaman siswa sebelumnya sebagai dasar untuk menjelaskan konsep (Carin dan Bass, 2000:144) (dalam Shidiq, 2011).

4). Elaboration (Elaborasi)

Fase elaborasi merupakan saat para anak mengaplikasikan, berlatih, dan mentransfer pengetahuan baru yang mereka peroleh. Seringkali, fase ini menantang anak untuk mengaplikasikan pengetahuan baru mereka ke dalam konteks yang berbeda, menguatkan dan memperdalam pemahaman mereka terhadap informasi baru tersebut (Abruscato, 2010: 45 dalam Laporan PenelitianPujianto, 2011).


Pada tahap ini guru: 
a) Siswa menggunakan definisi, identifikasi dan yang di berikan sebelumnya
b) Mendorong siswa untuk menerapkan atau memperluas konsep serta keterampilan dalam situasi baru
c) Meningkatkan siswa tentang penjelasan alternative
d) Merujuk siswa pada data dan bukti yang ada serta bertanya. (dalam Shidiq,2011)

5).  Evaluation (Evaluasi)

Evaluasi dapat berbentuk formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Tujuannya untuk memberikan informasi kepada guru dan anak segala sesuatu yang berkaitan dengan kemajuan proses pembelajaran. Melalui evaluasi formatif, guru menerima umpan balik lewat hasil yang diperoleh siswa. Hasil tersebut menunjukkan apakah siswa mengalami kemajuan dalam mencapai tujuan pembelajaran ataukah tidak.Sedangkan siswa akan menerima umpan balik untuk meningkatkan atau mengarahkan mereka menuju tujuan pembelajaran yang dicapai. Evaluasi sumatif biasanya dilakukan di akhir bab untuk mengetahui apakah siswa telah belajar apayang diajarkan oleh guru (Abruscato, 2010: 45 dalam Laporan Penelitian Pujianto,2011).
Pada tahap ini guru:
a) Mengamati siswa saat menerapkan konsep dan keterampilan baru
b) Menilai pengetahuan dan keterampilan baru
c) Mencari adanya perubahan cara berfikir atau sikap siswa
d) Memberikan kesempatan bagi siswa menilai pembelajaran mereka sendiri dan keterampilan proses kelompok (dalam Shidiq, 2011).

Kelima tahapan tersebut adalah hal-hal yang harus dilakukan guru untuk menerapkan prosedur siklus belajar 5E. Guru dan siswa harus mempunyai peran masing-masing dalam setiap pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakanprosedur siklus belajar. Peran masing-masing guru dan siswa serta aktivitas yangdianjurkan dalam setiap fase dalam prosedur siklus belajar dapat digambarkandalam tabel berikut ini:

C. Tiga Jenis Siklus Belajar

Siklus Belajar dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu deskriptif, empiris induktif (abduktif), dan hipotesis-deduktif (Lawson, 1998:13 dalamShidiq, 2011). Perbedaan utama antar ketiganya adalah cara siswa mengumpulkan data dan jenis olah penalaran yang digunakan selama pembelajaran. Ketiga jenis siklus belajar di atas menggambarkan continuum dari sains deskriptif hingga sains eksperimental (Dahar, 1989:26 dalam Shidiq, 2011).
Menurut Lawson dalam Shidiq, pada pelajaran deskriptif siswa hanya menggambakan apa yang mereka amati. Pada pendekatan kedua dan ketiga, siswa tidak hanya menggambarkan apa yang mereka amati tetapi juga berusaha untuk membuat hipotesis guna memjelaskan pengamatannya. Ditambah lagi, siswa mendesain dan melakukan eksperimen untuk menguji hipotesis. Oleh karena itu,pendekatan empiris-induktif dan hipotesis-deduktif menumbuhkan penalaran yang lebih kompleks daripada deskriptif. Ketiganya menunjukan kebutuhan yangberbeda dalam inisiatif, pengetahhuan dan keterampilan penalaran siswa. Dalam kaitannya dengan penalaran siswa, siklus belajar deskriptif umumnya hanya membutuhkan pola deskriptif (urutan, klasifikasi, konservasi) sementara siklusbelajar hipotesis-prediktif membutuhkan pola urutan yang lebih tinggi(identidfikasi dan variabel kontrol, proporsional, kombinatorial, probabilistik, danpenalaran korelasional). Siklus belajar empiris-induktif merupakan pertengahan dan membutuhkan pola penalaran deskriptif, namun umunya melibatkan beberapa pola urutan yang lebih tinggi juga (Lawson. 2002:67 dalam Shidiq, 2011).
Selama siklus belajar deskriptif, siswa menemukan dan menjelaskan pola empiris di dalam konteks tertentu (eksplorasi). Guru memberi nama (pengenalankonsep), lalu pola diidentifikasi dalam konteks tambahan (aplikasi konsep). Jenissiklus belajar ini di sebut deskriptif karena siswa menggambarkan apa yang mereka amati tanpa menjelaskan pengamatannya.
Siklus belajar empiris-induktif melibatkan keterampilan proses dasar dan integrasi (mengidentifikasi variabel, membangun tabel dan grafik, menggambarkan hubungan antar variabel) karena keterampilan integrasi membutuhkan penalaran yang lebih kompleks, maka kelihatannya pendekatan deskriptif cocok bagi siswa yang sedang mermbangun kecakapan dalam keterampilan proses dasar.

Anonim. (1990). Pembelajaran Learning Cycle 5E untuk Meningkatkan HasilBelajar. Tersedia:http://repository.upi.edu/operator/upload/s_d025_030326_chapter2.pdf . [19 September 2012]

Nugraheni, Latif Sofiana. 2012.Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle (5e) Terhadap Keterampilan Proses Sains BiologiSiswa Kelas X Sma Al Islam 1 Surakarta
. FKIP Universitas SebelasMaret: Surakarta.

Pujianto. (2011).Laporan Penelitian Hibah Program Dia Bermutu: PeningkatanOutcome Expectation Dan Self-Efficacy Calon Guru Sekolah Dasar  Melalui Integrasi Struktur Pembelajaran Seqip (Science EducationQuality Improvement Project) Dengan 5 E Learning Cycle. UniversitasNegeri Yogyakarta: D. I. Yogyakarta.

Purniati, tia, dkk. (2001).Penerapan Model Learning Cycle untuk MeningkatkanPemahaman Konsep Mahasiswa pada Kapita Selekta Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI:Bandung.

Sidiq, ade. (2011).Penerapan Metode Siklus Belajar (Learning Cycle) Sebagai Alat Pendidikan Dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar SiswaPada Mata Pelajaran Biologi Pokok Bahasan Ciri-Ciri Mahluk Hidup Di Kelas Vii Semester 1 Smpn I Cikedung Kabupaten Indramayu.Tersedia: http://adesidiq.blogspot.com/2011/01/penerapan-metode-siklus-belajar.html .[19 September 2012].

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Model Pembelajaran Learning Cycle (Siklus Belajar) Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan