Latest News
Rabu, 29 September 2010

Teori Evolusi


Teori Kejadian Jagad Raya
Sebelum diketemukan teori tentang asal usul alam raya para pakar mengatakan bahwa alam semesta tidak terhingga besarnya, tak terbatas, dan tak berubah status totalitasnya dari waktu kewaktu tak terhingga lamanya dari waktu lampau sampai waktu tak berhingga lamanya dimasa yang akan datang. Hal ini berlandaskan pada hukum kekekalan masa yang mereka yakini. Secara umum dikatakan bahwa alam ini kekal dan nyata tidak mengakui adanya penciptaan alam. Pada tahun 1929 terjadi pergeseran pandangan dilingkungan para ahli tentang penciptaan alam dengan menggunakan teropong besar Hubble melihat galaksi – galaksi yang tampak menjahui galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi, yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan galaksi kita. Penemuan inilah yang mengawali perkembangan teori tentang asal usul terjadinya jagat raya, yakni:
  • Teori keadaan tetap (Steady – State Theory)
Teori ini mengatakan bahwa alam semesta ini, dimana pun dan kapan pun tetap sama. Teori ini didasarkan pada prinsip kosmologi sempurna dan mengartikan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir. Pendukung teori ini antara lain Fred Hooyl, Herman Bondi, dan Thomas Gold.
  • Teori Dentuman Besar (Big Bang Theory)
Teori ini berpendapat bahwa semua materi dan tenaga yang ada dialam semesta ini terjadinya terpadu menjadi satu bola yang terdiri dari bola neutron tenaga pancaran yang dinamakan “Ylem” (baca ailem). Suatu ketika “Ylem” ini meledak dan seluruh materinya terlempar keseluruh ruang alam semesta. Kemudian materi – materi tersebut melakukan ekspansi selama beribu – ribu jutaan tahun dan berlangsung jutaan tahun lagi. Hal ini menimbulkan gaya yang berlawanan yakni gaya grafitasi dan gaya repulse kosmik. Teori ini lahir dari ahli astrofisika George Gamow, Ralp Alpher, Hans Bethe, dan Robert Herman pada akhir tahun 1940 – an.
  • Teori Osilasi
Teori ini juga dinamakan teori alam semesta berayun. Teori ini menyatakan bahwa semua materi bergerak saling menjahui dan bermula dari massa yang mampat. Pergerakan materi ini akhirnya melambat dan suatu ketika semakin lambat dari kecepatan lepas krisis, dan akhirnya berhenti kemudian kembali mengerut karena gravitasi. Setelah materi tersebut mampat lalu meledak dan dilanjutkan dengan pemuaian lagi. Selama proses ini tidak ada materi yang rusak atau tercipta, melainkan hanya berubah tatanan atau mengalami goyangan (osilasi). Dengan demikian, teori ini merupakan teori yang mempertahankan pendapat bahwa alam semesta ini terhingga, bukanya tidak terhingga.
2.2 Kejadian Jagad Raya Menurut Islam
Sungguh sangat menarik untuk membandingkan konsep pembentukan alam raya ini dengan pandangan dari Agama Islam terhadap pandangan dari kosmologi. Terjadinya alam raya ini seperti difirmankan dalam Al-Qur’an surat Fush Shilat 41 ayat 11 – 12 yang maknanya kira – kira adalah :
“ Kemudian ia merancang dari langit dan bumi yang masih berbentuk gas seperti asap. Lalu tuhan berfirman kepada langit dan kepada bumi sekaligus: “ jadikanlah, engkau keduanya, secara sukarela atau terpaksa “. Langit dan bumi berkata : “ kami jadi secara sukarela (patuh)”. Lalu diselesaikan –Nya penciptaannya menjadi tujuh langit dalam dua rangkaian waktu (masa). Kepada setiap langit diwahyukan tentang hukumnya sendiri – sendiri. Dan kami hiasi langit terdekat dengan bintang – bintang siarat yang merupakan lentera – lentera (lampu – lampu) dan pelindungan – pelindungan yang berkelip – kelip”. Makna yang dirangkum di atas setelah mempelajari beberapa terjemahan dan terutama didasarkan pada perbandingan terjemahan Al-Qur’an kedalam bahasa inggris oleh Khatib atas tugas Universitas Al – Azhar pada tahun 1984, Abdullah Yusuf’Ali dan Asad.
Teori Ledakan Maha Dahsyat juga tergambarkan dalam firman Allah pada Al- Qur’an surat Anbiya(21) ayat 30 : yang maknanya kira – kira: “Apakah mereka orang – orang kafir itu tidak mengutahui bahwa langit – langit (ruang alam) dan bumi (materi alam) itu asalnya berpadu, lalu kami pisahkan keduanya. Selanjutnya, kami buat dari air semua makhluk hidup. Mengapa mereka tidak neriman juga?“
Dari ilmu pengetahuan kita mengetahui bahwa setelah terjadinya ledakan meha dahsyat, menurut perkiraan para ahli, zat yang mula – mula terpecah – pecah menjadi zarah yang paling sederhana, yakni hydrogen : yang merupakan unsur pembentukan air lama kelamaan dari hydrogen ini melalui reaksi (perpaduan) terbentuk senyawa – senyawa lainnya diantaranya bila bereaksi dengan oksigen akan membentuk air. Air merupakan suatu zat cair dengan sifat – sifat yang mengagumkan yakni karena kemampuannya melarutkan garam – garam dan zat – zat kimia lain yang diperlukan oleh kehidupan.
Teori Ledakan Maha Dahsyat juga mengatakan adanya pemuaian alam semesta. Hal ini sejalan dengan Al-Qur’an surat Adz- Dzaariyaat(51) ayat 47, yang maknanya kira – kira : “ Dan langit (ruang alam) itu kami bangun dengan kekuatan, dan kamilah yang sesungguhnya yang meluaskannya”.
Selanjutnya, mengenai ekspansi alam semesta ini, yang menaburkan materi paling tidak sebanyak 100 milyar galaksi yang masing – masing berisi rata – rata 100 milyar bintang itu. Kekuatan yang dilibatkan dalam pembangunan alam semesta ini, dan yang mampu melemparkan kira – kira 10.000 milyar bintang yang masing – masing massanya sekitar massa matahari ke seluruh pelosok alam itu, tentu saja tidak dapat kita bayangkan. Dari pembandingan semacam ini dapat kita ketahui bahwa pada akhirnya, fisika yang dikembangkan untuk mencari kebenaran sampai juga pada fakta yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an. Kenyataan ini menggusarkan para fisikawan pada umumnya karena penciptaan alam raya dari ketiadaan memerlukan adanya sang Pencipta Yang  Maha Kuasa, suatu keadaan yang mereka ingin hindari. Sebab mereka hanya membicarakan apa – apa yang dapat dinderakan atau dideteksi dengan peralatan saja.
Oleh karenanya, maka beberapa pakar fisika mencoba mengelakkan penciptaan alam ini dengan melontarkan teori – teori tandingan seperti teori alam yang berosilasi, yakni alam semesta yang berkembang kempis, yang meledak dan berekspansi untuk kemudian kembali mengecil berulang – ulang tanpa awal tanpa akhir, namun kosmos yang berkelakuan seperti itu tidak dapat dibenarkan secara termodinamis. Usaha lain dengan mengemukakan Teori Alam Keadaan Tetap (Ajeng), yang mengatakan bahwa galaksi – galaksi boleh terbang ke seberang sana tetapi ruang yang ditinggalkannya akan terisi lagi oleh materi baru, namun teori ini menjadi tidak berlaku setelah pada tahun 1964, Wilson dan Penzias dalam observasinya ke segenap penjuru alam menemukan sisa – sisa kilatan dentuman besar yang terjadi sekitar 15 milyar tahun yang lalu.
Hal tersebut diatas, sejalan dengan Al-Qur’an surat Fush-Shilat(41) ayat 53 , yang maknanya kira – kira adalah : “ Akan kami perlihatkan kepada mereka ayat – ayat kami segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu yang benar”. Belumkah cukup bahwa tuhanmu menyaksikan segala – galanya? Allah SWT telah memenuhi janjinya itu dengan memperlihatkan ekspansi kosmos (alam semesta) dan memperlihatkan sisa – sisa kilatan dentumun besar, dan Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih akan memperlihatkan berkali – kali lagi ayat – ayat-Nya, untuk menolong hamba – hamba-Nya dari kesesatan. Meskipun jelas fakta – fakta yang diungkapkan oleh sang pencipta dan para pakar fisika dapat menangkap dan mengetahuinya, namun terdapat perbedaan besar antara ajaran fisika (sains) dengan ajaran agama. Kalau dalam fisika filsafat ilmu itu mendorong para pakarnya untuk menghindari dari tindakan melibatkan Tuhan Yang Maha Esa dan mengatakan bahwa alam tercipta dengan sendirinya, maka dalam ajaran Agama Islam justru Allah SWT pemegang peranan utama alam semesta ini.
Pada teori Ledakan Maha Dahsyat, juga mengatakan adanya pemuaian alam semesta. Kemudian galaksi itu akan hancur kembali dan diserap oleh suatu lubang hitam, yang mungkin diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiyaa’(21) ayat 104, yang maknanya kira – kira : “ Pada hari itu kami gulung langit (bentuk tunggal) seperti menggulung gulungan perkamen untuk tulisan. Sebagaimana janji kami yang telah memulai penciptaan pertama, kami akan melaksanakannya”.


3.1 Penciptaan Bumi
Kapan dimana dan dengan cara bagaimana kehidupan di bumi ini berawal? adalah pertanyaan yang terus menggoda para ilmuwan. Berbagai teori asal-usul kehidupan telah disusun oleh para pakar tetapi belum ada satupun teori yang diterima secara memuaskan oleh semua pihak.
  • Teori Generatio Spontanea
Disebut juga teori Abiogenesis pelopornya seorang ahli filsafat zaman Yunani Kuno Aristoteles (384-322 SM) yang berpendapat bahwa makhluk hidup terjadi begitu saja pendapat ini masih terus bertahan sampai abad kc 17 -18 Anthony van Leenwenhoek (abad ke 18) berhasil membuat mikroskop dan melihat jasad renik di dalam air bekas rendaman jerami penemuan Leeuwenhoek (salah seorang penganut teori abiogenesis) memperkuat teori generatio spontanea teori terbukti makhluk hidup berasal dari benda mati (jasad renik berasal dari air bekas rendaman jerarni). Beberapa ahli berusaha mengadakan penelitian untuk menyangkal teori generatio spontanea antara lain Franscesco Redi, Spallanzani dan Louis Pasteur.
  • Evolusi Kimia
Menerangkan bahwa terbentuknya senyawa organik terjadi secara bertahap dimulai dari bereaksinya bahan-bahan anorganik yang terdapat di dalam atmosfer primitif dengan energi halilintar membentuk senyawa-senyawa organik kompleks.
Stanley Miller mencoba mensimulasikan kondisi atmosfer purba di dalam skala laboratorium. Miller memasukkan gas H2, CH4 (metan), NH3 (amonia) dan air ke dalam alat. Air dipanasi sehingga uap air bercampur dengan gas-gas tadi. Sebagai sumber energi yang bertindak sebagai “halilintar” agar gas-gas dan uap air bereaksi, digunakan lecutan aliran listrik tegangan tinggi. Ternyata timbul reaksi, terbentuk senyawa-senyawa organik seperti asam amino, adenin dan gula sederhana seperti ribosa.
  • Evolusi Biologi
Alexander Oparin mengemukakan di dalam atmosfer primitif bumi akan timbul reaksi-reaksi yang menghasilkan senyawa organik dengan energi pereaksi dari radiasi sinar ultra violet. Senyawa organik tersebut merupakan “soppurba” tempat kehidupan dapat muncul. Senyawa organik akhirnya akan membentuk timbunan gumpalan (koaservat). Timbunan gumpalan (koaservat) yang kaya akan bahan-bahan organik membentuk timbunan jajaran molekul lipid sepanjang perbatasan koaservat dengan media luar yang dianggap sebagai “selaput sel primitif” yang memberi stabilitas pada koaservat. Meskipun begitu Oparin tetap berpendapat amatlah sulit untuk nantinya koaservat yang sudah terbungkus dengan selaput sel primitif tadi akan dapat menghasilkan “organisme heterotrofik” yang dapat mereplikasikan dirinya dan mengambil nutrisi dari “sop purba” yang kaya akan bahan-bahan organik dan menjelaskan mekanisme transformasi dari molekul-molekul protein sebagai benda tak hidup ke benda hidup. Teori evolusi kimia telah teruji melalui eksperimen di laboratoriurn, sedang teori evolusi biologi belum ada yang menguji secara eksperimental. Walaupun yang dikemukakan dalam teori itu benar, tetap saja belum dapat menjelaskan tentang dari mana dan dengan cara bagaimana kehidupan itu muncul, karena kehidupan tidak sekadar menyangkut kemampuan replikasi diri sel. Kehidupan lebih dari itu tidak hanya kehidupan biologis, tetapi juga kehidupan rohani yang meliputi moral, etika, estetika dan inteligensia.
3.2  Teori Penciptaan dalam Islam
Teori penciptaan dalam Islam adalah kepercayaan bahwa alam semesta (termasuk umat manusia dan semua makhluk yang lain) tidak hanya yang diciptakan oleh Allah, tetapi juga dijalankan oleh Allah dalam setiap waktu, sebagaimana dijelaskan Allah dalam ayat berikut, ‘Berkata Firaun, ‘Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?’ Musa berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’’ (Thaha: 49-50)
Inilah teori penciptaan dalam Islam. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia mengendalikan alam semesta menurut kehendak-Nya sesuai fungsi dan peran yang spesifik.
Dalam teori penciptaan dalam Islam, Allah menentukan peran bagi Hawa, seorang perempuan diciptakan dari laki-laki, yang ditugaskan di Al-Qur’an dengan ayat-ayat berikut:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Menurut teori penciptaan dalam Islam, seperti yang telah dinyatakan, peran Tuhan lebih dari dari sekedar menciptakan manusia. Dalam menjawab pertanyaan berikut ini yang disebut secara berturut-turut di salah satu dari surat, kita dapat mendefinisikan peran rahmat-Nya:
“Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan (hari berbangkit)?”(al-Waqi’ah: 57)
‘Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kami kah yang menciptakannya?’ (al-Waqi’ah: 58-59)
‘Bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa. Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?’ (Waqi’ah: 67-70)
‘Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kami-kah yang menjadikannya?’ (Waqi’ah: 71-72)
Menurut ayat-ayat tersebut, teori penciptaan dalam Islam mencakup:
  • Allah menentukan desain fitur-fitur manusia dalam air sperma yang dipancarkan manusia dengan DNA yang spesifik, peta genetika atau jumlah chromosom bersama antara pasangan perkawinan, laki-laki dan perempuan.
  • Allah menjaga sumber kelangsungan kehidupan makhluk-Nya. Karena itu, Allah mengatur kerajaan tumbuhan sebagai makhluk otonom yang menyediakan makanan yang diperlukan untuk kerajaan manusia.
  • Dia mengatur siklus untuk menghasilkan air tawar untuk minuman manusia dan pengairan tanaman yang mereka makan.
  • Allah mengelola pasokan energi untuk makhluk-Nya demgam proses fotosintesis yang ajaib, yang menyimpan energi dari matahari menjadi buah yang dapat dimakan.
‘Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: ‘Bersujudlah kamu kepada Adam’; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.’ (al-A’raf: 11)
Jadi, Allah dalam teori Penciptaan dalam Islam tidak hanya membuat badan kita hidup, tetapi ia juga membentuk rupa kita agar terlihat seperti rupa manusia. Jadi, Allah memiliki nama lain dalam Al-Qur’an selain al-Khaliq (Pencipta), yaitu al-Mushawwir (Yang membentuk rupa).
Allah berfirman, ‘Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (al-Hasyr: 24)



DAFTAR PUSTAKA
Hafidhuddin, Didin K.H., Tafsir al-Hijri: Kajian Tafsir al-Qur’an Surat an-Nisa, Jakarta: Yayasan Kalimah Thayyibah, 2000
Imani, Allamah. Kamal. Faqih, Tafsir nurur Qur’an: Sebuah Tafsir Sederhana Menuju Cahaya Tuhan, terj, R Hikmat Danaatmaja, Jakarta: al-Huda, 2003
Muthahari, Murthada, Manusia dan Alam Semesta, terj, Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2002
Soenarjo, R.H.A, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: Depag RI, 1989

——————, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: Depag RI, 2000
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Teori Evolusi Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan