Latest News
Kamis, 29 April 2010

Jilbabku Membawa Resah

Oleh Fathelvi Mudaris




Oleh Fathelvi Mudaris

Langkah-langkah kecil kutapaki satu-satu. Aku benar-benar tak sabar ingin segera sampai di rumah setelah satu semester aku mengenyam pendidikan di kota Padang. Aku rindu papa, mama, dan adik-adikku. Pasti akan menjadi sebuah surprise tersendiri bagi mereka dengan tampilan baruku ini.

Hup!

Akhirnya aku mencapai daun pintu rumahku. Rumah di mana aku menghabiskan masa-masa kecil hingga kelas tiga SMA. Rumah yang selalu kurindukan. Beberapa anak-anak TPA saling berciloteh riang bersama teman-temannya. Semua semakin membuat kerinduanku tak tertahankan lagi.

”Assalamu’alaikum.” Kuucapkan salam. Terdengar koor jawaban salam dari dalam. Lalu disusul dengan langkah-langkah kecil. Dan daun pintu itupun terkuak.

”Eeh, Kak Ami!?” Adikku yang paling kecil langsung memelukku.

”Waduh, Vivi, sudah semakin besar ya?” Aku membalas pelukkannya. Di belakang Vivi mama dan papa menyusul. Aku segera mencium punggung tangan beliau.

Tetapi, aku mulai merasakan ada yang aneh. Kenapa sambutan mama dan papa biasa-biasa saja? Bahkan terlalu dingin malah. Kalau papa, barangkali memang karena karakternya yang pendiam dan tidak suka menanggapi segala sesuau dengan kata-kata. Tapi mama yang biasanya cerewet kenapa tiba-tiba mendadak bungkam dengan warna wajah yang tidak terlalu bersahabat? Seharusnya mama bahagia. Bukankah ini yang selalu diinginkan beliau dulu?

”Ami, kamu ikut aliran sesat itu di Padang ya? Bukan untuk itu kamu ke sana, Nak. Tapi untuk belajar.” Ujar mama to the point. Padahal belum hilang penatku menempuh perjalanan jauh Padang-Jambi yang memakan waktu berjam-jam lamanya.

”Maksud Mama apa, Ma?”

”Itu jilbab kenapa panjang begitu. Hitam pula. Kamu ikut aliran sesat mana hem?” Mama memojokkanku. (Belakangan aku menyesal telah mengenakan jilbab berwarna hitam ketika pertama kali pulang ke rumah sebab di sana persepsi masyarakat tentang orang yang berpakaian hitam-hitam adalah pengikut aliran sesat)

”Aliran sesat apa maksud mama? Ami tidak ikut aliran apapun Ma.” Aku menjelaskan.

”Bagaimana mungkin tidak. Sudah banyak cerita-cerita miring tentang orang-orang beraliran sesat seperti itu di sini. Berislam itu yang biasa-biasa sajalah.”

”Ma, Ami tidak ikut apa-apa kok. Masih seperti yang dulu. Masalah jilbab yang panjang, bukankah biasa-biasa saja, Ma? Katanya menutup aurat itu harus dijulurkan melewati dada. Lebih panjang kan lebih baik. Betul kan, Ma?”

”Tapi jangan panjang begitu.” Mama menatapku dengan curiga.

”Ah Mama, Ami capek Ma. Ami istirahat dulu.” Aku menuju kamarku di lantai dua. Lebih tepatnya menghindari perdebatan lebih panjang dengan mama. Aku takut melawan kata-kata mama. Aku tidak mau menjadi anak yang durhaka yang melukai hati orang tuanya.

Di kamar, kutumpahruahkan semuanya. Sesungguhnya, aku sangat heran dengan komentar mama dan tatapan aneh papa berikut adik-adikku. Bukankah itu yang beliau inginkan dari dulu? Kedua orang tuaku itu bukan orang yang tidak paham agama. Keduanya adalah alumni IAIN dan di rumahku itu juga telah didirikan TPA. Betapa aku sangat yakin sebelumnya kalau mama, papa, dan adik-adikku dapat dengan mudah menerima penampilan baruku mengingat pengetahuan agama beliau yang luas. Padahal dahulu aku termasuk anaknya yang paling bandel dan tidak mau berjilbab. Kedua orang tuaku dulunya sangat kukuh menyuruhku mengenakan jilbab.

Masih lekang dalam ingatanku, bagaimana susahnya mama dan papa menyuruhku berjilbab di waktu aku masih SMA. Sangat banyak alasanku waktu itu. Apalagi dengan face yang lumayan (ini kata teman-temanku), aku terlihat lebih manis jika tidak mengenakan jilbab. Rambutku hitam, panjang, lurus dan tebal. Wajahku mulus nyaris tak pernah disinggahi jerawat. Dua lesung pipi yang berada di sudut bibirku selalu terlihat jika aku tersenyum. Namun, semuanya persepsiku berubah ketika aku memasuki dunia kampus. Di suasana ospek yang lumayan ’kejam’ di fakultasku, ternyata ada orang-orang yang baik hadir di sana. Aku sangat terkesan kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang mengantarkanku kepada indahnya Islam, agamaku sendiri.

Kakak-kakak tingkatku itu mengajakku kepada jalan yang benderang. Meminjamkanku banyak buku-buku yang menarik. Mengajakku ikut kajian-kajian dan ceramah-ceramah di mesjid kampus. Dulu, aku mengira yang memberikan ceramah adalah ustadz yang biasa memberikan ceramah keliling kampung dari satu mesjid ke mesjid lain. Tapi ternyata tidak. Mereka adalah mahasiswa juga. Kakak tingkatku yang hanya berselisih dua atau tiga tahun denganku. Tetapi, mereka sangat dewasa seklai. Pengetahuan mereka sangat luas. Gaya menceritakannyapun tidak menggurui. Pokoknya aku seperti tersesat ke jalan yang benar.

Setelah itu, aku mulai menjaga hijab. Aku mengenakan jilbab, sama seperti yang dikenakan kakak-kakak tingkat yang membimbingku itu. Aku merasakan itulah masa-masa yang sangat gemilang bagiku. Dan betapa tak sabarnya ingin kuperlihatkan ini semua kepada mama dan papa. Aku sangat yakin dan percaya beliau menerimaku.

Dan, sejujurnya aku harus terhenyak dengan kenyataan bahwasanya mama dan papa tidak bisa sepenuhnya menerima perubahan yang menurutku menuju arah yang lebih baik ini. Mama dan papa menghendaki aku untuk berislam dengan biasa-biasa saja. Sebenarnya yang dimaksud dengan biasa-biasa saja itu apa? Bukankah biasa-biasa saja itu telah berdilatasi paradigmanya? Berjilbab dengan diikat ke leher dengan blous yang ketat dan celana yang ngepas dikatakan biasa-biasa saja. Namun, ketika ada yang mengenakan pakaian yang benra-benar sesuai dengan tuntunan syar’i, mengenakan jilbab yang dijulurkan panjang, pakaian yang longgar dan menutupi kaki itu dikatakan tidak biasa. Bukankah itu terbalik sekali?

Hari-hari berikutnya mama dan papa masih dingin padaku. Apalagi ketika beliau menyuruhku membeli sesuatu ke warung depan, aku bergegas dulu mengambil jilbab, mengenakan baju longgar dan rok, lalu kaos kaki. Sering kudengar komentar miring dari mama. Juga, ketika aku melaksanakan shalat dhuha. Padahal hanya shalat dhuha saja. Semua orang juga tahu kalau shalat dhuha itu dilaksanakan di waktu matahari sepenggalah. Sekitar jam delapan sampai jam sebelas. Mama menuduhku melakukan shalat yang aneh-aneh meskipun sudah kujelaskan bahwa aku melaksanakan shalat dhuha. Aku bukan tidak tahu bahwa mama tahu mengenai shalat dhuha. Tapi, sepertinya beliau sudah terlanjur menaruh curiga. Ditambah lagi, tetangga-tetanggaku sering menanyakan perihal perubahanku pada mama.

Pernah juga mama mempertanyakan soal jodoh dan pekerjaan kepadaku jika aku masih mengenakan pakaian demikian. ”Apakah akan ada orang yang mau sama kamu nanti Mi? Pekerjaan juga. Mana ada lowongan untuk orang-orang seperti ini.” Begitu komentar mama. Aku tanggapi saja dengan senyum kalem dan berkata, ”Kalau sudah jodoh takkan diambil orang Ma. Kalau sudah rizki yang ditetapkan Allah, apakah mungkin akan berpindah kepada orang lain?”

Aku sedih. Benar-benar sedih dianggap orang asing di rumahku. Bahkan, kadang aku merasa tidak tahan untuk berada di rumah dan ingin segera cepat-cepat balik ke Padang. Namun, kadang-kadang aku jadi tertawa sendiri juga. Pasalnya mama mengawasiku dengan ketat. Bahkan mengawasiku ketika melaksanakan shalat. Beliau tengah memastikan apakah jumlah rakaat subuhku masih dua, apakah rakaat rakaat dzuhurku telah berubah menjadi tiga. Ak jadi geli sendiri dibalik kesedihan yang mendalam.

Kini aku telah lima tahun berhijrah. Aku tengah menjalani program profesi, lanjutan dari studi strata satuku. Dan selama itu pula aku masih sering berdebat dengan mama dan papa dalam mempertahankan keimananku. Sungguh, sangat berat jika aku harus berhadapan dengan keluarga sendiri. Apalagi, di sekeliling rumahku dan di lingkunganku sangat jarang ada orang-orang yang mengenakan hijab dengan rapi. Kalaupun ada, maka itu adalah orang-orang yang suka mengenakan pakaian serba hitam dan mengenakan cadar. Mereka seperti punya lingkungan sendiri yang jauh dari masyarakat luas yang sering dituduh masyarakat sana sebagai aliran sesat. Allahu’alam. Kalau aku secara pribadi tidak ingin menuduh orang lain beraliran sesat sebelum jelas kepastiannya bahwa dia tidak lagi mengesakan Allah ta’ala dan menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.

Ada banyak pelajaran yang kupetik. Meski da’wah kepada keluarga memberikan tantangan yang berbeda dan dibanyak sisi sering lebih sulit, namun insya Allah by process dan dengan munajah kepada Rabb pemilik semesta, Allah akan memberikan jalan. Ketika aku tidak menunjukkan keanehan dengan ibadah, lalu bersikap ahsan kepada keduanya, sedikit banyaknya beliau bisa menerimaku. Khudwah, barangkali itu yang penting. Tidak perlu dengan banyak bicara namun tunjukkan dengan sikap.

Satu hal lagi, sepertinya Yahudi dan Nasharo telah berhasil membelotkan persepsi dan pandangan masyarakat Islam tentang agamanya sendiri. Bahkan hingga ke masyarakat pelosok sekalipun. Masyarakat telah terbiasa disuguhkan dengan suatu kebiasaan yang sebenarnya tidak lagi sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah. Kita, kebanyakan umat Islam telah cendrung kepada budaya-budaya yang dicontohkan oleh orang-orang yang benci dengan Islam. Agama hanya sekedar di mesjid saja. Umat Islam telah dibuat asing dengan budaya Islam yang semestinya. Setidaknya, itu terjadi dalam keluargaku.

Untuk para muslimah yang tengah berada di posisi yang sama sepertiku, teruslah bermujahadah, ukhti. Perjuanan kita ini masih panjang. Sungguh, kita sama-sama rindu dengan suatu bi’ah islamiyah (lingkungan islami) di mana yang menjadi budaya di sana adalah budaya Islam, bukan budaya Yahudi dan Nasharo. Yakinlah, janji Allah itu pasti!

Allahuakbar!!!

http://fathelvi.blogspot.com

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Jilbabku Membawa Resah Rating: 5 Reviewed By: Wawan Listyawan