Cerita Yang Tak Sekedar Kata


namaku dea, seperti orang orang yang berada disekitarku memanggilku, begitu pula dirimu.. kita sudah lama sekali mengenal, ya sudah mengenalmu beberapa tahun ini.. namun entah kenapa kamu masih berharap yang lebih untukku? ketika aku hanya orang biasa, tak pandai mendengarkan, tak pandai bercerita, apalagi membantumu dalam menghapus rasa sepimu..

aku hanya orang biasa, tak biasa bercerita dalam kumpulan kata, mendongeng dalam alunan kalimat.. aku hanya lebih suka mendengarkan, namun aku juga mliki masalah aku tak bisa fokus lama.. kita harus melompat ke sana dan ke mana - mana untuk menghindari rasa bosan..

ketika kamu berharap aku bercerita tentang hidupku 
" hey cerita dong? ayo ceritakan kehidupanmu selama ini selama kita berpisah" 
aku hanya bisa diam tanpa kata.. dalam hatiku hanya bisa menggumam, 
" mau cerita apa ya, sepertinya yang kualami tak ada yang pas kuceritakan untukmu, kecuali kamu mau menggalinya sendiri"
 memang aku tak akan bisa bercerita, tak bisa berkata tanda adanya tanya, ketika kamu tak bertanya otomatis aku hanya bisa diam.. aku bukan orang yang tertutup namun terbuka.. semua orang boleh mengenal seluruh kehidupanku, namun bukan berarti aku harus bercerita semua hal tentang diriku, tidak.. kalau mau silahkan korek sendiri.. kehidupanku hanya sederhana.. namun bukan berarti tak bermakna, banyak hikmah yang dapat diambil sebenarnya, namun hanya perlu sedikit perenungan agak terlihat esensinya..

aku suka mendengarkan cerita dari banyak orang, apalagi aku suka bertanya aneh aneh, namun aku bingung, kenapa aku tak bisa bertanya saat guru menjelaskan pelajaran dikelas? sebuah keanehan yang harus ku hentikan..membuat orang bercerita panjang lebar kepadaku itu mudah.. mereka butuh sedikit sentuhan hati, dan keran lisan mereka akan terbuka, dan mereka akan memberikan jawaban yang kuinginkan.. ketika hati itu tersentuh, aku bisa ikut berpetualang, menyelami kehidupannya, banyak nilai dan hikmah yang kuambil dari perjalanan hidupnya, tentang apa itu kesabaran, apa itu cinta dan apa itu perjuangan.. maukah kamu menerapkan cara ini untuk mengenal ku?

----- dea -----

Sendiri Tak Berarti Sepi



tak sedikit orang yang mencibir ketika rekannya sedang sendiri, entah saat makan, ke perpustakaan, ataupun saat melakukan perjalanan.
eh, kamu kok sendiri? mana temanmu?
lho kok sendirian? gak kesepian?
banyak yang mengira bahwa orang yang sendirian itu gak punya teman. padahal sendiri bagi mereka adalah pilihan. sendirian memberikan mereka kecepatan dan keluwesan. banyak hal yang bisa dilakukan sendiri. tap tap tap.. semuannya bisa terlampaui dengan baik. karena tak selamanya tujuan yang ingin kita capai itu bisa kita raih ketika bersama orang lain. setiap orang pasti memiliki fisik yang berbeda, sehingga pola aktivitasnya juga berbeda. 

sendiri merupakan bentuk perwujudan dari idealisme, kemandirian dan tekad. membiasakan sendiri berarti membiasakan berencana untuk kehidupannya untuk senantiasa bergerak. sendiri melatih tanggungjawab dengan kehidupannya agak senantiasa tercukupi. supaya tercukupi maka akan membentuk tekad mereka supaya dapat bertahan. 

banyak orang yang menikmati waktu sendirinya, dia akan merasakan dunia nya miliknya sendiri.. kenapa bisa begitu? karena dia bisa melakukan segala hal yang dia inginkan tanpa harus terikat oleh bayang bayang orang lain.. sendiri juga memberikan ketenangan, dimana dia bisa merasakan deru angin, sentuhan hangat mentari, serta sejuknya embun. karena ketika bersama orang lain.. sendiri tak selalu sepi, karena alam siap menemani..

Menyiapkan Hati untuk Berkomunikasi

mereka hanya butuh perhatian.. tak sedikit, namun sangat banyak..
mereka butuh bantuan..tak sedikit, tapi banyak..
mereka butuh kekuatan..tak sedikit tapi banyak..
mereka tak butuh ucapan, namun butuh tangan.
mereka tak butuh suara bernada tinggi, namun suara dari hati..
mereka tak butuh perintah, namun butuh amanah..
mereka tak butuh ikatan amanah saja, namun butuh ikatan ukhuwah..
mereka bekerja dengan segenap kekuatannya, mereka hanya butuh penghargaan dan ungkapan yang menyejukkan, bukan sebuah ungkapan yang membuat hati mereka sesak.. karena mereka ingin bekerja dengan kekuatan keikhlasan dan kenyamanan, bukan karena sekedar amanah dan keharusan, namun memang karena mereka ingin bekerja bersama. bukan karena perintah, namun karena kau merangkulnya dan menarik tangannya untuk bekerja bersama..
dek, apa yang masih kurang? apa yang bisa ku bantu?
ya, sebuah kalimat tanya yang pendek, namun memiliki nuansa yang membuat mereka merasa nyaman dan diayomi, mereka merasa ada tenaga besar yang siap membantunya, mereka tak akan merasa sendiri dan merasa diayomi..
dek, ini masih belum beres nih, yuk kita bereskan..
ungkapan sederhana yang  akan membuat mereka mau bergerak dengan hati mereka, tak merasa sebagai orang yang cuma disuruh suruh saja, namun akan merasakan keterkaitan hati, bahwa kita ini patner.. bukan sebagai pesuruh dan yang disuruh..

sebuah hal kecil akan menyatukan yang besar, namun sesuatu yang kecil pula bisa menyebabkan perpecahan.. masalah klasik yang mungkin tak pernah berakhir.. komunikasi.. ketika komunikasi tak ada titik temu dan kesepakatan, maka bersiap-siaplah menyiapkan hati, karena pasti perlahan akan ada yang melepaskan diri.. ketika ego berkuasa, maka siap siaplah akan ada yang terluka.. 
ukhuwah itu sederhana, butuh sesuatu yang kecil, namun kontinu..
ukhuwah tak perlu harta, namun hanya butuh waktu..
ukhuwah tak butuh wajah, namun hanya sunggingan senyuman..
ukhuwah tak perlu kenang-kenangan, namun hanya butuh kenangan..
ukhuwah tak butuh  buah tangan, namun hanya uluran tangan..

@WawanLityawan
----------------------------
http://wawanlistyawan.tumblr.com  

Pemerintahan Sudah tak Suci Lagi


politik itu baik, namun dunia per partai politik an sekarang ini yang perlu dipertanyakan kebaikannya, cenderung kepada kemadharatan saja.. dan orang orang yang ada didalam nya sama saja. menggunggulkan golongannya, dan mencela golongan lainnya, saling menjatuhkan.. terlalu fanatik, sangat mencintai partai dan tokoh tokohnya, daripada konsep ideologi partai itu serta kemaslahatan untuk masyarakatnya..

terlalu benci dengan partai lain, cerderung menjadi hater walau tak mau dilabeli seperti itu, yang dishare keburukan (yang dianggap) musuh dari partai yang dia dukung.. saling balas cemooh dan menggali sedalam mungkin kesalahannya.. katanya partainya partai bersih, paling bersih sendiri.. kalau kelakuan para kadernya seperti itu bukankah sama saja dengan partai lainnya..

ketika islam dan pancasila mengajarkan persatuan, apakah fenomena demokrasi ini lebih menyatukan indonesia? hmm.. saya rasa tidak, demokrasi ini lebih menyatukan kepentingan yang sama, yang inginkekuasaan mulai membangun kekuatan, dan kelompok yang lain tak mau kalah, membangun kekuatan baru untuk menandinginya..jika di dalam internal kelompok itu sudah timbul crash, maka membentuk kekuatan baru yang bisa menyokong keinginannya.

menghapuskan demokrasi yang seperti "ini" sepertinya memang sulit, sebuah jaring jaring dimana semua titik yang berperan saling terkoneksi satu sama lain, jika ada garis penghubung yang putus, maka akan terjadi regenerasi untuk membuat titik yang baru..

ketika mereka ada yang berkata bahwa masuk ke dalam lingkaran demokrasi, kemudian ingin menghapuskannya, silahkan.. namun jangan sampai terlena dalam euforia demokrasi itu sendiri.. karena yang terlihat kasat mata adalah mereka mulai menikmatinya rasanya sebuah pertempuran meraih simpatisan..

demokrasi memang kotor dalam konsepan, begitu juga dalam pelaksanaan.. dampak jelas terlihat, mereka mengotori jalan, ketika jalan yang indah dengan rumput hijau di sampingnya, eh malah wajah wajah yang tak dikenal yang haus akan kekuasaan malah nampang dengan wajah penuh harap aroma kemenangan.. padahal jika satu baliho kecil dihargai Rp. 10.000,00 bisa ditukar dengan satu pohon.. pohon dirasa lebih menyejukan lho daripada satu baliho yang malah mengotori dan memenuhi jalan serta akhirnya mengotori tempat sampah, mending biaya buat baliho diarahkan ke green campaign, seperti iklan di radio, tv, menggupah tentara dunia maya dll..

demokrasi ini terlalu mahal, upah saksi partai Rp. 75.000,00 bisa ditukar menjadi 3 buah buku pelajaran anak SD, saya rasa itu lebih berdampak pada aspek pendidikan, uang saksi partai 1 kecamatan bisa ditukar untuk membangun gedung sekolah yang baru lengkap dengan laboratoriumnya, serta halaman paving supaya tidak becek saat musim hujan.. ini hanya sebuah analogi sederhana.. ketika para para wakil rakyat itu benar benar merasa sebagai "wakil" bukan merasa sebagai "dewan",  maka bisa jadi mereka menggunakan analogi ini..

analogi ini bukanlah hanya sekedar wacana, namun sebuah mimpi, ketika pemerintahan indonesia ini sudah tak suci lagi..
 memutus mata rantai yang "kotor" ini bukanlah hanya sekedar harapan, namun sebagai tujuan..

Memilih dan Memilah


seringkali kita meninggalkan apa yang tidak sukai, padahal hal itu memiliki manfaat pada kita. kenapa kita meninggalkan hal tersebut? pola berpikir pragmatis lebih dekat kepada logika kita daripada pola pikir jangka panjang. kita hanya memikirkan apa yang terbaik untuk kita saat ini, berpikir bahwa itu merupakan pilihan yang tepat. namun setelah kita runut lebih dalam, kita analisis lebih rinci maka analisis terbaru mungkin tidak berkata demikian. "hey anak muda, jangan tinggalkan tahapan ini, kalau kamu lebih peka maka tahapan ini memberikan sesuatu yang besar untukmu, walau kamu harus bersimbah darah"

kedangkalan kita menganalisis juga memperngaruhi langkah berpikir kita, apakah memilih tahap ini atau tahap itu. seringkali kita hanya melihat sisi negatif tahapan yang dihadapkan kepada kita untuk dipilih. ya, sisi negatif akan lebih mudah terlihat daripada sisi positif. sisi positif itu seperti emas, untuk mendapatkannya kita harus menggali dulu, mengolahnya, sehingga menjadi emas yang sangat bersinar. sisi positif juga demikian, perlu perenungan yang mendalam untuk mendapatkan hikmah yang terbaik, setelah itu baru berspekulasi mau pilih yang mana.

menentukan tahapan terkadang mudah, tinggal pilih yang mana. namun sejatinya tak demikian karena kita harus kritis mana yang terbaik. memilih salah satu tahapan dan meninggalkan tahapan yang lain merupakan suatu kewajiban, karena tak akan mungkin kita melalui dua jalan untuk mencapai satu titik, namun untuk meninggalkan tahapan yang lain sebaiknya tak semudah mencoret buku, kita harus benar benar memiliki 1001 alasan untuk meninggalkannya, lebih banyak daripada alasan untuk tetap memilih tahapan itu.

tahapan merupakan titik yang sangat penting, karena dia adalah proses yang menentukan hasil. namun jangan lupa dalam menentukan tahapan kita juga berdasar pada hasil, pilihlah tahapan yang mengantarkan kita pada hasil yang maksimal.

Tertunduk dan Menunduk

sitiwahyumurni.blogspot.com
Sunah rasulullah SAW memang harus diterapkan oleh insan yang berlabel laki-laki.. memang benar adanya mereka yang berlabel perempuan benar benar sebagai salah satu ujian yang memang tak kunjung habisnya, selalu ada tingkatan, dan setiap tingkatan memiliki daya tarik yang mampu membuat tak berdaya, meleleh bahkan harus menggadaikan apa yang dia miliki..

menguatkan diri memang suatu keharusan, dan caranya adalah dengan menundukkan pandangan.. jika kita mampu menundukkan pandangan maka otomatis hati kita akan ditundukkan oleh pesonanya, lama kelamaan naluri kita akan dibelenggu olehnya, terseret perlahan oleh jeratan yang sulit dilepaskan.. karena pesonanya yang hanya sebentar bisa merusak kita secara simultan dan sulit dilepaskan, ibarat sebuah karet yang bisa membuat kita menjauh, namun dia akan menarik kita kembali. 

ketika kita sudah ditundukkan oleh pesonanya, bisa jadi kita akan tertunduk tak berdaya, kenapa kita sampai seperti? ketika logika mulai tak bisa bekerja dengan semestinya, dan perasaan yang lebih dekat dengan luka daripada rasa bahagia.

menjauh bisa jadi menjadi sebuah solusi, namun kita tak boleh merumuskan destinasi yang membuat hati yang lebih terkondisikan.. namun apakah itu akan lebih baik? mungkin tidak, karena mereka ada dimana - mana dan biasanya lebih mempesona..

menundukkan pandangan akan lebih baik, daripada ditundukkan dan kita menjadi tertunduk