Konsekuensi Memimpin dan Dipimpin


berbicara dengan persatuan itu tidak akan jauh dari kesepakatan dan kepemimpinan.. persatuan memang harus ada pemimpinnya, seseorang yang akan digugu dan ditiru. ketika ada sekumpulan rakyat ataupun anggota yang masih dapat digolongkan sebagai rakyat yang mbalelo bisa dikatakan bahwa sekumpulan orang itu masih belum bersatu..konsep kepemimpinan tak akan jauh dari kemerdekaan, ada pengakuan de facto dan de yure.. pengakuan secara sah dimana dia memimpin dan menguasai, dan seberapa besar dia diakui untuk memimpin.. memimpin itu butuh pengakuan, kalau tidak dipercaya bisa jadi dia hanya bisa mengatur siapa siapa yang mau diatur, kemudian yang tidak mau dipimpin akan memberikan aksi reaksi, memberikan perlawanan atas segala kebijakan yang menurutnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya..

menjadi orang yang dipimpin butuh kelegawaan (lapangan dada) untuk menerima sebagai orang yang dipimpin.. ketika dia masih mempunyai ego karena " saya tidak mau dipimpin dia karenaa bla bla bla " itu merupakan hal yang kurang benar.. dengan adanya hal itu akan menimbulkan sengketa dan perebutan kekuasaan, sering - seringnya malah mereka akan memisah dan membentuk basis massa untuk membuat kekuatan tandingan untuk menggulingkan.. dipimpin membutuhkan keikhlasan, kepala dingin untuk membangun kekuatan bersama, walau terkadang bertindak sebagai oposisi itu juga merupakan peran yang berguna, memberikan fungsi controlling bagi pemimpinnya.. namun bukankah lebih baik kita berjalan bersama sama? memadukan apa yang kita punya untuk kebaikan yang lebih terasa.. karena biasannya yang berperan sebagai oposisi memiliki formula yang tidak kalah khasiatnya.. cukup menundukkan sedikit harga diri yang diagung - agungkannya untuk menuju sebuah penggalangan kekuatan..

menjadi orang yang memimpin butuh keterbukaan hati, dan menundukkan kebanggaan diri.. membuka cakrawala bahwa dia bukanlah segala- galanya.. masih ada rakyat yang berada disampingnya yang siap menguda rasa (mengungkapkan perasaannya dan pikirannya) untuk membangun bersama.. kebanggaan akan jabatan yang dianutnya harus dipupus habis.. karena tanpa adanya rakyat dia bukan apa-apa.. sebagai orang yang memimpin harus bisa mengayomi semua yang dipimpinnya, membentuk rasa kepercayaan rakyat bahwa akulah pemimpinmu, yuk berjuang bersama, dan percayalah padaku.. sekarang ini banyak yang krisis kepercayaan dan kebanyakan pemimpin tidak sadar bahwa tugas dia yang pertama dan utama adalah membangun kepercayaan dengan rakyatnya.. ketika semua hidup dengan prasangka negatif maka akan timbul fitnah yang mudah tersulut dan mengobarkan perpecahan.. kenapa hal ini bisa terjadi? karena mereka lebih suka berpikir teori konspirasi daripada memikirkan sebuah bukti, namun sulit juga karena konspirasi itu ada di kepala, bukan suatu data.. sehingga sukar dibuktikan dengan nyata.. mayoritas rakyat itu lebih suka mengungkap yang samar samar daripada sesuatu yang jelas hitam dan putihnya.. 

Fragmen Hidup yang Aneh


di jalan itu, turunan yang cukup landai di dekat jembatan antar desa itu, lama kami berjalan dan mengobrol bersama, namun entah mengapa tangan kirinya mulai menggelayut di tanganku, eraat sekali.., namun kulit kami tak bersentuhan, karena dia menggunakan baju yang panjang. aku yang tak terbiasa seperti ini berusaha melepaskannya dengan lembut.. alhasil namun memang erat, tangannya tak mau lepas.. hingga akhirnya aku pun menyerah dan berkata padanya,
cukup hentikan tanganmu ini, sudah lama aku berusaha memendam rasa ini dan menghapusnya, kalau caranya begini sepertinya rasa ini bisa timbul kembali..
dia tersenyum manis kepadaku, seraya menjawab.
aku pun demikian, sudah lama aku berusaha menjauhi mu, namun ternyata memang sulit, memang sudah takdir mungkin kita dipertemukan kembali..
aku tak menyangka dia punya perasaan yang sama denganku, sangat tidak kusangka, semenjak aku berbicara jujur kepadanya setelah sekian tahun yang lalu..aku pun menjawab,
kita tak mungkin menjalaninya dengan cara seperti ini, mungkinkah kita menikah?
dia menyahut kembali,
mungkin dan bisa..
 aku semakin bingung,
tapi kapan? setelah kita lulus? ya, itu mungkin kemungkinan yang paling mungkin, tapi yang ku lihat kita belum siap dari segi apapun.. dan tak mungkin kau menunggu..
suasana pun kembali hening, hanya desiran angin yang masih setia mendampingi kami..

Cerita Yang Tak Sekedar Kata


namaku dea, seperti orang orang yang berada disekitarku memanggilku, begitu pula dirimu.. kita sudah lama sekali mengenal, ya sudah mengenalmu beberapa tahun ini.. namun entah kenapa kamu masih berharap yang lebih untukku? ketika aku hanya orang biasa, tak pandai mendengarkan, tak pandai bercerita, apalagi membantumu dalam menghapus rasa sepimu..

aku hanya orang biasa, tak biasa bercerita dalam kumpulan kata, mendongeng dalam alunan kalimat.. aku hanya lebih suka mendengarkan, namun aku juga mliki masalah aku tak bisa fokus lama.. kita harus melompat ke sana dan ke mana - mana untuk menghindari rasa bosan..

ketika kamu berharap aku bercerita tentang hidupku 
" hey cerita dong? ayo ceritakan kehidupanmu selama ini selama kita berpisah" 
aku hanya bisa diam tanpa kata.. dalam hatiku hanya bisa menggumam, 
" mau cerita apa ya, sepertinya yang kualami tak ada yang pas kuceritakan untukmu, kecuali kamu mau menggalinya sendiri"
 memang aku tak akan bisa bercerita, tak bisa berkata tanda adanya tanya, ketika kamu tak bertanya otomatis aku hanya bisa diam.. aku bukan orang yang tertutup namun terbuka.. semua orang boleh mengenal seluruh kehidupanku, namun bukan berarti aku harus bercerita semua hal tentang diriku, tidak.. kalau mau silahkan korek sendiri.. kehidupanku hanya sederhana.. namun bukan berarti tak bermakna, banyak hikmah yang dapat diambil sebenarnya, namun hanya perlu sedikit perenungan agak terlihat esensinya..

aku suka mendengarkan cerita dari banyak orang, apalagi aku suka bertanya aneh aneh, namun aku bingung, kenapa aku tak bisa bertanya saat guru menjelaskan pelajaran dikelas? sebuah keanehan yang harus ku hentikan..membuat orang bercerita panjang lebar kepadaku itu mudah.. mereka butuh sedikit sentuhan hati, dan keran lisan mereka akan terbuka, dan mereka akan memberikan jawaban yang kuinginkan.. ketika hati itu tersentuh, aku bisa ikut berpetualang, menyelami kehidupannya, banyak nilai dan hikmah yang kuambil dari perjalanan hidupnya, tentang apa itu kesabaran, apa itu cinta dan apa itu perjuangan.. maukah kamu menerapkan cara ini untuk mengenal ku?

----- dea -----

Sendiri Tak Berarti Sepi



tak sedikit orang yang mencibir ketika rekannya sedang sendiri, entah saat makan, ke perpustakaan, ataupun saat melakukan perjalanan.
eh, kamu kok sendiri? mana temanmu?
lho kok sendirian? gak kesepian?
banyak yang mengira bahwa orang yang sendirian itu gak punya teman. padahal sendiri bagi mereka adalah pilihan. sendirian memberikan mereka kecepatan dan keluwesan. banyak hal yang bisa dilakukan sendiri. tap tap tap.. semuannya bisa terlampaui dengan baik. karena tak selamanya tujuan yang ingin kita capai itu bisa kita raih ketika bersama orang lain. setiap orang pasti memiliki fisik yang berbeda, sehingga pola aktivitasnya juga berbeda. 

sendiri merupakan bentuk perwujudan dari idealisme, kemandirian dan tekad. membiasakan sendiri berarti membiasakan berencana untuk kehidupannya untuk senantiasa bergerak. sendiri melatih tanggungjawab dengan kehidupannya agak senantiasa tercukupi. supaya tercukupi maka akan membentuk tekad mereka supaya dapat bertahan. 

banyak orang yang menikmati waktu sendirinya, dia akan merasakan dunia nya miliknya sendiri.. kenapa bisa begitu? karena dia bisa melakukan segala hal yang dia inginkan tanpa harus terikat oleh bayang bayang orang lain.. sendiri juga memberikan ketenangan, dimana dia bisa merasakan deru angin, sentuhan hangat mentari, serta sejuknya embun. karena ketika bersama orang lain.. sendiri tak selalu sepi, karena alam siap menemani..

Menyiapkan Hati untuk Berkomunikasi

mereka hanya butuh perhatian.. tak sedikit, namun sangat banyak..
mereka butuh bantuan..tak sedikit, tapi banyak..
mereka butuh kekuatan..tak sedikit tapi banyak..
mereka tak butuh ucapan, namun butuh tangan.
mereka tak butuh suara bernada tinggi, namun suara dari hati..
mereka tak butuh perintah, namun butuh amanah..
mereka tak butuh ikatan amanah saja, namun butuh ikatan ukhuwah..
mereka bekerja dengan segenap kekuatannya, mereka hanya butuh penghargaan dan ungkapan yang menyejukkan, bukan sebuah ungkapan yang membuat hati mereka sesak.. karena mereka ingin bekerja dengan kekuatan keikhlasan dan kenyamanan, bukan karena sekedar amanah dan keharusan, namun memang karena mereka ingin bekerja bersama. bukan karena perintah, namun karena kau merangkulnya dan menarik tangannya untuk bekerja bersama..
dek, apa yang masih kurang? apa yang bisa ku bantu?
ya, sebuah kalimat tanya yang pendek, namun memiliki nuansa yang membuat mereka merasa nyaman dan diayomi, mereka merasa ada tenaga besar yang siap membantunya, mereka tak akan merasa sendiri dan merasa diayomi..
dek, ini masih belum beres nih, yuk kita bereskan..
ungkapan sederhana yang  akan membuat mereka mau bergerak dengan hati mereka, tak merasa sebagai orang yang cuma disuruh suruh saja, namun akan merasakan keterkaitan hati, bahwa kita ini patner.. bukan sebagai pesuruh dan yang disuruh..

sebuah hal kecil akan menyatukan yang besar, namun sesuatu yang kecil pula bisa menyebabkan perpecahan.. masalah klasik yang mungkin tak pernah berakhir.. komunikasi.. ketika komunikasi tak ada titik temu dan kesepakatan, maka bersiap-siaplah menyiapkan hati, karena pasti perlahan akan ada yang melepaskan diri.. ketika ego berkuasa, maka siap siaplah akan ada yang terluka.. 
ukhuwah itu sederhana, butuh sesuatu yang kecil, namun kontinu..
ukhuwah tak perlu harta, namun hanya butuh waktu..
ukhuwah tak butuh wajah, namun hanya sunggingan senyuman..
ukhuwah tak perlu kenang-kenangan, namun hanya butuh kenangan..
ukhuwah tak butuh  buah tangan, namun hanya uluran tangan..

@WawanLityawan
----------------------------
http://wawanlistyawan.tumblr.com  

Pemerintahan Sudah tak Suci Lagi


politik itu baik, namun dunia per partai politik an sekarang ini yang perlu dipertanyakan kebaikannya, cenderung kepada kemadharatan saja.. dan orang orang yang ada didalam nya sama saja. menggunggulkan golongannya, dan mencela golongan lainnya, saling menjatuhkan.. terlalu fanatik, sangat mencintai partai dan tokoh tokohnya, daripada konsep ideologi partai itu serta kemaslahatan untuk masyarakatnya..

terlalu benci dengan partai lain, cerderung menjadi hater walau tak mau dilabeli seperti itu, yang dishare keburukan (yang dianggap) musuh dari partai yang dia dukung.. saling balas cemooh dan menggali sedalam mungkin kesalahannya.. katanya partainya partai bersih, paling bersih sendiri.. kalau kelakuan para kadernya seperti itu bukankah sama saja dengan partai lainnya..

ketika islam dan pancasila mengajarkan persatuan, apakah fenomena demokrasi ini lebih menyatukan indonesia? hmm.. saya rasa tidak, demokrasi ini lebih menyatukan kepentingan yang sama, yang inginkekuasaan mulai membangun kekuatan, dan kelompok yang lain tak mau kalah, membangun kekuatan baru untuk menandinginya..jika di dalam internal kelompok itu sudah timbul crash, maka membentuk kekuatan baru yang bisa menyokong keinginannya.

menghapuskan demokrasi yang seperti "ini" sepertinya memang sulit, sebuah jaring jaring dimana semua titik yang berperan saling terkoneksi satu sama lain, jika ada garis penghubung yang putus, maka akan terjadi regenerasi untuk membuat titik yang baru..

ketika mereka ada yang berkata bahwa masuk ke dalam lingkaran demokrasi, kemudian ingin menghapuskannya, silahkan.. namun jangan sampai terlena dalam euforia demokrasi itu sendiri.. karena yang terlihat kasat mata adalah mereka mulai menikmatinya rasanya sebuah pertempuran meraih simpatisan..

demokrasi memang kotor dalam konsepan, begitu juga dalam pelaksanaan.. dampak jelas terlihat, mereka mengotori jalan, ketika jalan yang indah dengan rumput hijau di sampingnya, eh malah wajah wajah yang tak dikenal yang haus akan kekuasaan malah nampang dengan wajah penuh harap aroma kemenangan.. padahal jika satu baliho kecil dihargai Rp. 10.000,00 bisa ditukar dengan satu pohon.. pohon dirasa lebih menyejukan lho daripada satu baliho yang malah mengotori dan memenuhi jalan serta akhirnya mengotori tempat sampah, mending biaya buat baliho diarahkan ke green campaign, seperti iklan di radio, tv, menggupah tentara dunia maya dll..

demokrasi ini terlalu mahal, upah saksi partai Rp. 75.000,00 bisa ditukar menjadi 3 buah buku pelajaran anak SD, saya rasa itu lebih berdampak pada aspek pendidikan, uang saksi partai 1 kecamatan bisa ditukar untuk membangun gedung sekolah yang baru lengkap dengan laboratoriumnya, serta halaman paving supaya tidak becek saat musim hujan.. ini hanya sebuah analogi sederhana.. ketika para para wakil rakyat itu benar benar merasa sebagai "wakil" bukan merasa sebagai "dewan",  maka bisa jadi mereka menggunakan analogi ini..

analogi ini bukanlah hanya sekedar wacana, namun sebuah mimpi, ketika pemerintahan indonesia ini sudah tak suci lagi..
 memutus mata rantai yang "kotor" ini bukanlah hanya sekedar harapan, namun sebagai tujuan..