Sedimentasi


sedimentasi Waduk Gajah Mungkur saat kering
Selama orang masih berpikir untuk mengalirkan air hujan ke sungai maka pendangkalan sungai dan waduk akan terus terjadi..Pengerukan pun akan menjadi proyek abadi yang sebenarnya bukanlah solusi.. Kita harus bercermin pada air mengalir.. apakah kita bisa berkaca di sana?Tidak ! Karena air sudah keruh dan berwarna merah.. dan dipastikan di dalamnya berisi tanah..Cobalah ambil segayung air itu.. diamkan satu jam.. berapa gram tanah yang terendap di sana?

Janganlah kita berpikir untuk membuang air hujan.. namun berpikirlah untuk menimbunnya.. biarkan mereka jatuh di dedaunan.. merambat di ranting dan batang…meresap ke dalam akar dan meresap ke dalam tanah.. Becek? Tak selamanya becek itu harus diakali dengan beton yang menyelimuti tanah ini.. karena rumput pun bisa jadi solusi.. kalau kamu punya rezeki.. biopori pun bisa sebagai pengganti..

Cara berpikir pendek inilah yang menyebabkan dunia ini tak lestari.. mereka seeenak nya menebangi.. memangkas tanpa ada batasan yang jelas.. padahal tumbuhan itu tumbuh tak sekedar tumbuh.. selalu ada fungsi yang tersembunyi.. hanya saja kita tak mau ambil pusing dan tak mau peduli..

***
Salah Satu Kursi Prameks, 19.12.14 - 07:50

Rasa Kepemilikan dan Kebanggaan

Tetap Semangat
Rasa merupakan modal utama dalam melakukan suatu hal.. tanpa rasa apapun yang kita lakukan akan berlalu saja.. Bekerja tanpa rasa ibarat kita makan tanpa bumbu, tak ada nikmat yang bisa yang bisa terungkap atau ketidaknyamanan yang tersimpan.. Rasa kepemilikan akan memiliki energi tersendiri untuk menjalani segala sesuatu yang harus kita selesaikan dengan sepenuh hati.. berusaha melakukan yang terbaik untuk hasil yang terbaik, berusaha sekuat tenaga supaya tak ada yang kecewa..

Rasa kebanggaan akan memacu kita untuk senantiasa terjaga, berusaha percaya diri bahwa apa yang kita lakukan ini berharga dan bermakna, bukan sesuatu hal yang sia-sia.. namun akan memberikan dampak nyata kepada siapapun dan apapun yang ada di sekitar kita..Ketika kita melakukan sesuatu dan hasilnya tak menentu kita sebaiknya berefleksi dulu.. bisa jadi rasa kepemilikan dan rasa kebanggaan kita sedang goyang.. karena pekerjaan yang didasari oleh hati akan tersusun rapi dan memberikan kepuasan tersendiri.. karena hasil yang maksimal tak selalu berakhir dengan kesempurnaan, namun hasil yang mampu menyenangkan..

Berorganisasi pun sama.. ketika kita tak bisa mewariskan rasa kebanggaan dan rasa kepemilikan maka pasti pengurus kita akan pergi secara perlahan-lahan..

***
di atas Rel Solo - Kutoarjo, 13.12.14 - 06:19

Harapan Dari Sebuah Kenyataan

ketika di ruangan ini aku kembali teringat tentang suatu masa ketika aku menuliskan sepotong cerita.. tak sengaja pula kamu membacanya.. mungkin dirimu sedikit terhenyak, karena tak pernah kamu duga, dan tak pernah kamu bayangkan.. ya, tulisan tentangmu.. tulisan sederhana tentang sepotong kehidupanmu, yang berjuang menapaki jalan, terkadang menantang hujan, melawannya tanpa selembar mantol yang melekat di badan.. bisa jadi ketika dalam perjalanan itu kamu merasakan kedinginan.. tulisan itu hanyalah sebuah cerita, tanpa ada bumbu cinta, hanya sekedar kagum saja.. namun kamu pasti merasakan sesuatu yang berbeda, bisa jadi tulisanku itu berharga..

kenapa aku bisa berkata demikian? mungkin aku juga yang kepedean, sebuah tulisan balasan tertulis di sana.. singkat, namun tak ditujukan secara jelas untuk siapa.. namun tak sengaja pula terbaca olehku.. aku mencoba juga untuk membalas juga, barangkali untukku.. namun seperti biasa tulisanku panjang dan melebar, dan itu pun berlanjut berbalas tanpa sesuatu yang jelas.. terpampang di sana, hanya yang merasa yang bisa memahaminya.. lama - lama juga diri ini tersadar bahwa hal ini tidaklah pantas, dan tulisan terakhir itu muncul, dan tulisan darimu juga muncul juga untuk mengakhirinya..

dari berbagai tulisan itu secara tersirat kita sepakat, sehingga tak ada kali kata yang terucap, dan berlanjut kepada kalimat yang tertulis.. bahkan untuk sekedar menyapa (seperti dulu) pun hilang.. terkadang aku merindukan masa lalu, ketika kita bisa bertemu, berbincang, membicarakan masa depan dan cita cita, bukan mimpi diantara kita, tapi demi orang orang yang di sekitar kita yang nantinya akan berdiri di sana.. ketika masa (ini) sudah selesai bisakah kita bertemu lagi? seperti dulu? ketika dulu ada senyum yang mengembang, namun sekarang yang kurasa hanyalah tatapan dingin tanpa ada jiwa di dalamnya.. bisa jadi rasa kagum yang dulu muncul dan tertulis, dipadu dengan ketidaksengajaan malah membuat batas diantara kita.. namun aku tidaklah menyesal, karena darimu dan dari cerita ini aku bisa belajar tentang rasa..

***
Ruang Seperempat Lingkaran, 09.12.14 - 15:56
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
potongan dari kumpulan cerita fiksi yang random, bersudut pandang orang pertama, yang muncul tanpa direncana dan mengalir begitu saja.. semoga bisa menjadi sebuah kumpulan aksara yang menempel dalam himpunan kertas dan terjejer rapi di rak buku sana..

Cerita Tentangmu, Buku

mungkin perjalanan di dekade kedua ini akan mengarahkan ku menjadi seorang pendidik dalam bidang sains.. dimana aku harus bisa expert dalam bidang ini, metode ilmiah menjadi roh dari setiap kata yang terucap nanti ketika berhadapan dengan mereka.. itu adalah tuntutan dari bidang yang ku tuntut dari SMA, dikala saat SMP aku sangat menyukainya..

namun entah di dalam pertengahan dari waktu yang dijatahkan aku mulai suka dengan dunia yang lain, dunia yang berbau dengan ilmu sosial, entah sosiologi, sejarah ataupun manajemen, pemikiran bahkan perpolitikan.. dunia ini memang bukan dunia yang baru, namun dunia yang memang berada disekitar kita. hanya sebagai seorang scientist terkadang tidak menyadari walau pernah melalui.. toh kita hidup bukanlah sebagai seorang scientist saja, namun hakekat seorang manusia adalah sebagai makhluk sosial, ilmu sosiologi, ekonomi sejarah ataupun manajemen, bahkan perpolitikan akan berguna.. sederhananya semisal kita nongkrong di HIk dengan bapak bapak, makan gorengan, ngeteh, pasti dibumbui dengan permasalahan sosial yang keluar dari lisannya, dan permasalahan ini akan berantai dengan ekonomi dan perpolitikan.. dan untuk bisa masuk dan merakyat bersamanya kita harus paham dan tak sekedar tahu, paham fundamentalnya, tak sekedar tahu implementasinya..

soal sejarah bukanlah kesukaan yang baru, entah dari kelas 4 SD buku sejarah (yang dipinjami) dari Sekolah sudah kubaca berulang kali, hingga hapal tokohnya.. eh malah dapat suplai buku SMP yang lebih heroik ceritanya, bahkan (beberapa) tahun penting masih ku ingat dengan jelas, tak seperti pergiliran keturunan pteridophyta dan tumbuhan lumut yang mulai buram.. sampai sekarang pun buku yang mengisi (hasil membeli) lemari buku adalah buku sejarah, baik sejarah indonesia maupun sejarah islam.. dilengkapi dengan buku tua dan buku biografi.. karena dari buku tua kita bisa melihat keotentikannya yang ditulis tidak jauh dari peristiwanya, dan biografi akan menceritakan kehidupan sosial yang ada, asli dari tokohnya.. dari buku itulah akan diperoleh hal yang berharga dan pencerahan baru entah dalam hal apapun, sebagai modal refleksi dan evaluasi kehidupan yang sudah di jalani..

berbeda dengan buku sains, malah komposisinya tak terlalu banyak, bisa jadi karena sains hanya berkutat dalam hal itu saja, dengan perbedaan jenjang tak terlalu signifikan perubahannya.. sehingga jarang pula untuk membelinya.. bahkan 60 % dari buku sains itu adalah fotokopian.. sedangkan 80 % dari buku sosial yang ku punya adalah buku terbitan asli, entah yang baru atau yang tua.. dan tumpukan majalah yang ada bukanlah hasil berlangganan, malah hasil gratisan, ataupun beli 10.000 dapat 3 ataupun 2.. membaca bukanlah kewajiban, tapi adalah kebutuhan.. ada satu ungkapan bahwa diri kita dibentuk dari apa yang kita baca dan siapa yang kita temui.. dengan membaca kita bisa mengubah dunia, tak sekedar dalam pikiran, namun nantinya akan lebih berguna jika diimplementasikan dalam perbuatan..

***
ruang sound, 09.12.14 - 13.15

Kajian Islam Spesial


Masjid Nurul Huda UNS
File MP3 Kajian Islam Spesial bersama :
1. Ustad Salim A Fillah & ustad Felix Y Siauw (Duet Ukhuwah) minggu, 30 November 2014 di Masjid Jogokariyan, Yogjakarta (sumber : https://www.youtube.com/watch?v=KvY2kcQKi0c) bisa didownload di bawah ini :

Mengendalikan Diri

Dalam menggapai suatu cita cita atau untuk melakukan berbagai aktivitas, Masalah kita bukanlah tentang waktu yang terbatas atau padatnya aktivitas kita, namun tentang ketidakmampuan kita meluangkan waktu serta ketidakmauan kita meluangkan hati.. ketika hati kita tak bisa lega dan menerima dengan lapang dada maka kita bekerja hanya sekadarnya saja tanpa semangat yang membara.. padahal semangat adalah bahan bakar utama dalam menghasilkan karya..

Mungkin kita sering mengecambahkan niat, namun sering juga tidak istiqomah menumbuhkannya menjadi tekad.. sebaiknya kita tidak setengah setengah dalam menyusun pondasi untuk melakukan aktivitas.. perkuat dan totalitas.. dalam perjalanan menapaki aktivitas terkadang merasa ragu apakah kita ini mampu.. perlu kita sadari bahwa yang membuat kita ragu untuk melangkah jauh ke depan sebenarnya hanyalah ketakutan di dalam hati kita dan kurang berdoa kepada Nya..

kita harus yakin bahwa sesuatu yang baik dan berharga itu bisa didapatkan bukan karena dia pantas dan dia berhak, namun seringkali bisa diraih seseorang ketika dia mau mencoba dan berusaha mendapatkannya.. walau seringkali kita gagal, sering kali kita putus asa namun kita harus selalu bersemangat, untuk bisa bersemangat kita harus bisa menyemangati diri sendiri.. bagaimana caranya? kita bisa memulai dengan menyemangati orang lain.. kita bisa belajar pada hujan yang mulai mengisi kehidupan kita sehari- hari.. pada hujan kita belajar untuk menerima.. diciptakan untuk jatuh berkali-kali..
sedikit merenung dan mengingat saat kita masih SD, SMP, SMA..Saat kita belajar di sekolah, kita dapat pelajaran dulu kemudian diuji. Tapi di kehidupan sebenarnya, kita diuji dahulu, baru mendapatkan pelajaran.. dari ujian kita akan mendapatkan hasil.. walau terkadang yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, bahkan tidak sepadan dengan yang kita keluarkan dan kita usahakan.. hidup ini merupakan fase dimana kita belajar tanggung jawab atas segala sesuatu yang titipkan ke kita ketika jiwa ini masih melekat pada raga..sesuatu yang “tanggung” aja rasanya tak menyenangkan, apalagi harus“menanggung”.. sudah seharusnya kita memaksimalkan apa yang ada sebisanya.. 
Disadari atau tidak bagian terlemah dari kehidupan kita adalah hati.. dia cenderung ingin lari ketika kita sudah merasa tak kuat lagi.. sedangkan komponen terkuat dari kehidupan kita adalah nafsu, sulit ditundukkan dan cenderung menguasai.. seringkali dia lah yang berbuat onar di kehidupan ini.. Ketika iman itu turun maka kualitas bicara, berpikir dan produktivitas pun ikut turun juga.. menjaga kualitas jiwa sangatlah penting karena dialah yang menggerakkan raga kita.. ketika jiwa kita baik maka raga kita juga akan baik.. hal ini akan berimbas pula pada hasil dari setiap aktivitas kita..

***
Sudut Perpustakaan, 02.12.14 - 06:58