(Tentang) Rindu -27


Besarnya rindu itu berbanding lurus dengan jarak dan waktu.. entah benar atau salah aku juga tak tahu.. mungkin tetangga sebelah lebih mudah untuk membedah formula yang masih mentah.. hanya sedikit intuisi dari beberapa peristiwa yang terjadi..

Ketika kita merindukan rasa rindu maka menjauh lah dari apa yang kamu ingin rindukan, kurangi intensitas bertemu dan mengunjunginya, ibarat biji maka dia akan tumbuh dan berkembang.. ketika kamu ingin melepaskan kerinduan maka obatilah dengan sebuah pertemuan..

Ketika pertemuan itu mustahil dilakukan maka lihatlah hujan, mulailah melihat dari balik kaca.. setidak tercipta bayang yang mampu menyejukkan.. walau hanya bayang yang semu.. ketika hujan tak kunjung datang maka lihatlah langit.. setidaknya kalian melihat langit yang sama.. walau terpaut jarak namun kalian berpijak di bumi yang tak beda..

Ketika rindu itu tentang hati maka akan selalu ada jiwa hangat yang dinanti.. ketika rindu itu tentang rasa maka akan selalu ada canda hangat yang diharapkan mampu menghangatkan suasana..

(Tentang) Kenangan -26


Kita di sini bukan tak melakukan apa apa..
Kita di sini sedang mengumpulkan kenangan..
Terkadang kenangan itu seperti daun..
Mengering, jatuh diterpa angin..
Berserakan.. sehingga perlu tangan yang penuh kasih untuk mengumpulkan..

Kita disini sedang menumbuhkan kenangan..
Ibarat biji, perlu disirami dan dipupuk..
Tumbuh kembang dan menghasilkan buah..
Dimana kita bisa memetik dan menikmatinya..
Menghasilkan daun yang meneduhkan..
Kenangan itu gratis.. namun berharga..
Kenangan itu manis.. membuat hidup kita bahagia..
Kenangan itu pahit.. namun memberikan senyuman setelah masa sulit..

Kita disini itu sedang merawat kenangan..
Agar yang kita tumbuhkan selama ini tak sekedar angan.. menjadi isi dalam benak..
Menjadi penenang ketika rindu mulai berdatangan..
Terkadang kita perlu mengais kenangan..
seringkali tercecer, tergeletak di sana sini..
Kenangan memang potongan.. dia memang tak utuh satu menyatu..
Dia dibentuk per segmen dan setiap segmen mengandung makna.. membentuk episode..
ketika dia disandingkan dengan segmen yang lain..

Kita disini sedang merangkai kenangan..
Ketika kenangan itu sendirian, terkadang terasa kurang mengesankan..
Kenangan perlu ditata utuh dan disandingkan..
 membentuk makna yang menyegarkan..
 melihat masa lalu untuk menatap ke depan..

Natural Saja -25


Dulu, kala itu kakakmu melarangku untuk memberikan senyumku kepadamu.. namun entah mengapa memang aku tak bisa.. bagiku ketika bertemu orang lain itu memang saat saat yang membahagiakan, dan sebagian ATP dalam tubuh mengalir ke wajah dan bibir sehingga ekspresi senyuman itu tercipta secara natural.. tak bisa ku hentikan dan aku kendalikan..

Begitu pula ketika bertemu denganmu, hal yang sama ku rasakan, dan senyuman ini secara natural ku berikan.. namun energi itu sumbernya berbeda.. dari kedua bola mata yang teduh di balik kaca.. dari jiwa yang tenang yang membuat diri ini nyaman.. hakekatnya energi ini berotasi.. ketika ada energi aksi maka ada pula energi reaksi..

Terkadang rasa itu tak harus sama antara keduanya.. salah satu sisi saja sudah mampu menggoreskan prosa.. terkadang rasa itu tak harus berbentuk kata.. namun alangkah lebih baik jika dalam sebait doa.. terkadang rasa itu tak harus berbentuk cinta.. seberkas sayang pun tak apa.. terkadang rasa itu tak harus selamanya.. bisa jadi meracuni jiwa ketika dia tak berbalas rasa pula.. terkadang rasa itu tak perlu dikenang dalam prasasti .. biarkan dia berjuang, tetap berdiri ataukah tumbang..

Memilih untuk Menjemput -24


kita hidup di sini itu bukan tentang memilih siapa yang cocok, siapa yang terbaik dan pantas untuk kita.. ketika ada yang sosok yang baik dan (terlihat) sempurna seakan akan berebut untuk bisa bersanding dengannya.. kalau jodoh itu adalah rizki maka kita tidak berhak untuk memilih seperti memilih baju yang di etalase toko, dimana ada yang menarik dan kita suka maka kita bisa membawanya pulang.. kalau jodoh adalah rizki maka kita hanya diberikan satu pilihan yaitu menjemputnya..

kalau jodoh itu adalah rizki maka dia akan mendekat lebih dekat kepada kita, daripada kita mendekat kepadanya.. seperti kata ustad Salim A Fillah bahwa asinnya garam yang dapat kita rasa dilidah dan mengisi darah kita itu usahanya lebih keras untuk mencapai lidah kita karena harus melewati berbagai fase, dari dijemur, diberi zat tambahan, dikemas, masuk gudang dulu, mampir ke distributor, naik ke dalam truk, bermalam di pasar, bertumpuk di warung, sampai akhirnya di beli ibu, kemudian sebagai bumbu untuk masakan.. nah sekarang kita sendiri bagaimana? kita hanya cukup ke meja makan, melahapnya, merasakannya kemudian garam itu pun mengisi darah kita..

jodoh yang akan kita dapatkan bukanlah karena kita memilih siapa dia, namun kita disini dihadapkan pada pilihan bagaimana cara kita menjemputnya, memilih bagaimana kondisi kita saat menjemputnya, memilih niatan saat kita berhadapan dengannya, dan kapan kita akan menjemputnya ..karena dia sudah ditentukan di lauh mahfudz sana.. kalau kita masih ragu, tak perlu lah kita maju.. kalau kita belum siap maka bergeraklah, karena diam dan menunggu siap bukanlah pilihan..
Menjemput itu tentang kemantapan dan kesiapan.. mantap dalam niat, siap dalam menanggung..

ketika rizki itu tentang rasa maka memiliki rasa dengannya adalah rizki yang turun kepada kita.. ketika rizki itu tentang halal maka halal dengannya adalah rizki yang tiada tara.. ketika rizki itu tentang toyyib maka bersanding dengannya adalah keadaan yang terbaik.. ketika rizki itu tentang waktu maka hari - hari bersamanya adalah sesuatu yang berharga..
***
sebuah jawaban atas pertanyaan bada subuh tadi 

Hanya (Sekedar) Mendoakanmu -23

Bodoh itu ketika aku menyapa mu kembali hari ini, padahal aku sudah berusaha untuk tidak menyapamu, melihatmu ataupun menghubungimu.. karena dulu aku sempat berjanji untuk tidak menyapamu sampai beberapa saat, sampai hati ini benar benar kuat .. walau memang tadi aku menyapamu untuk sesuatu yang penting.. tentang pekerjaan sore ini..

Masalah itu ketika aku melihatmu malam ini.. tetesan rahmat dari langit itu mulai membasahimu.. dingin yang membersamainya pun beralih mendampingimu, mendampingi kepulanganmu.. sempat terpikir untuk sekedar mengirim pesan singkat ” hati - hati di jalan “..

Keputusan yang benar itu ketika aku memilih untuk mengurungkan niatku.. ya.. memang aku tak mengirimkan pesan singkat itu.. namun.. sebaris doa yang ku tulis dalam hati dan ku baca dalam benak ku ” semoga kamu mendapat kemudahan dalam pulang ke rumahmu “.. karena doa ketika hujan itu mudah dikabulkan, begitu yang kubaca dari berbagai literatur.. sebuah doa, sepertinya lebih dari cukup ketika aku tak bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk kepulanganmu hari ini..

Kuat itu kamu.. ketika kamu setiap hari menempuh jarak untuk menyelesaikan kesibukan ini.. kesibukan yang sepertinya benar benar kamu sukai.. ketika banyak waktumu yang yang kamu habiskan di tempat ini daripada bercengkerama di rumah.. ketika siangmu dipenuhi dengan amanah, malammu yang dipenuhi dengan tugas yang menggunung dan membuncah ruah.. namun aku melihat dari dirimu bahwa hal itu bukanlah masalah..

Yang disayangkan itu ketika kamu sering pulang malam dan berangkat pagi untuk selalu berada di sini.. kenapa? Aku tahu orang tuamu terutama ibumu pasti membutuhkanmu untuk berada di rumah.. entah memasak, ataupun pekerjaan yang lain mungkin biasa dilakukan oleh kaummu.. mungkin kamu luar biasa disini, namun akan lebih luar biasa ketika kamu juga memberikan waktumu yang lebih untuk beraktivitas di sana..

Bagiku Harapan ini adalah doa.. doaku untukmu supaya nantinya kamu menjadi “hawa” yang sempurna.. bukan untukku, tapi untuknya.. dimana kamu lepas dari dadanya, berkembang di dalam rahim dari seorang ibu yang mulia.. kemudian nantinya kamu akan kembali kepadanya, melengkapi hidupnya.. memberikan kekuatan pada jiwanya serta mampu menghangatkan hatinya ketika dinginya hidup mulai menerpanya..

***

Ruang Sound, 21.07.14 - 22.22

Mengenal dan Menilai -22

Seringkali kita terburu nafsu untuk segera menghakimi tanpa mendahuluinya dengan mencermati.. ketika prasangka sudah merasuki hati.. prasangka bisa menjadi tali gantung, membuat orang sulit bernapas, karena tenggorokanya sudah terkekang dan terjerat.. sulit menyuarakan isi hatinya untuk berkata..
Mengkonfirmasi adalah solusi, sebuah langkah untuk menyelesaikan masalah tanpa bermasalah.. ketika sesuatu yang sesak di dada menjadi lega.. ketika sesuatu yang abu abu menjadi hitam atau putih.. ketika sesuatu yang membuat kita gundah menjadi bungah..
Setiap orang memang terlahir sebagai hakim, sebagai penilai atas diri orang lain.. mereka menjadi hakim yang buruk, jika tidak menanamkan nilai nilai kebenaran dan obyektivitas.. seringkali dalam menilai seseorang kita hanya melihat dari covernya.. itu adalah sejelek jeleknya penilaian.. terkadang menilai seseorang hanya parsial saja, memandang dari satu sisi saja.. diperparah dengan ungkapan yang menghujat.. melihat itu harus utuh dari berbagai sisi, karena seseorang yang utuh itu dibangun berbagai komponen..
Dengan mengenalnya maka kita akan mampu menilainya.. mengenal bisa saja dari informasi orang lain dan berbagai literatur yang ada.. kalau perlu malah bertemu dan berbincang langsung dengannya.. sesungguhnya karakter seseorang bisa terlihat dari bagaimana dia bertutur kata, sorot matanya dan apa yang dia bicarakan..
Akan lebih valid ketika kita bisa membersamainya dalam berbagai aktivitas.. karena sifat asli akan terekspresikan dan orang jarang bisa jaim dalam waktu yang lama.. minimal dalam 12 jam, atau bahkan bersamanya dalam berhari hari maka itu akan lebih valid dan pasti.. so, silahkan menilai.. menilai seseorang adalah hak asasi, namun jangan sesuka hati.. berdasarlah pada realita, kebenaran dan hati nurani..