Re : Bagaimana Rasanya

Bagaimana rasanya ketika orang yang kamu suka tiba-tiba menanyakan seseorang, dan seseorang itu bukan lain adalah temanmu sendiri.. sampai sekarang pun aku tak bisa mendefinisikannya.. rasa itu terlalu liar untuk diterka, terlalu liar untuk dirasa, terlalu liar untuk dikendalikan, apalagi aku adalah seorang perempuan.. seperti yang sudah kamu tahu, bahwa rasa ibarat tanduk, jika rasa itu kita ibaratkan sebagai kerbau, menyeruduk apapun ketika ada sesuatu yang mengganggunya, dan seringnya membuat luka, entah siapa atau apa..

aku juga bukanlah seorang perempuan yang pandai menjaga rasa, termasuk rasa suka dan cinta.. ibarat bunga dewasa dia sudah menerbangkan biji- bijinya yang bersayap untuk bisa bebas kemanapun dia suka, dimana dia mampu tumbuh dan berkembang.. begitu pula rasa ini, ketika aku mulai menerbangkannya ada sedikit harap setidaknya rasa ini hinggap dan jatuh di dalam hatimu, mulai berkecambah, muncul tunas apikalnya, kamu merawatnya, menyiraminya sampai dia berbunga kembali.. nantinya kamu bisa menikmatinya bahwa rasa cinta itu memang indah..

aku seperti perempuan lainnya, punya rasa malu, namun aku tak berharap jadi seseorang yang pemalu.. aku punya keberanian, namun tak ingin menjadi seseorang yang pemberani.. seseorang yang pemberani itu cukuplah kamu, pemberani yang berani menghadapi ayahmu untuk melamarku #ea ea ea.. aku suka menebar rasa, namun bukan kata dalam lisan, seringnya kata dalam rentetan aksara.. namun aku tak pernah berharap menjadi pujangga, karena ini hanyalah perwujudan rasa, rasa yang murni dari hati tanpa ada manipulasi.. kalau tak percaya boleh-boleh saja, setidaknya kamu mau mencicipi untuk memastikanya, namun sayang dia tak berasa manis, asin, pahit, ataupun asam.. akan berasa hambar dan biasa saja ketika kamu memang sedang tidak peka, namun ketika kamu sedang jatuh cinta, maka rasanya itu membuat hatimu bahagia, meleleh tak berdaya..

aku ingin menjadi perempuan yang normal, menunggu untuk sesuatu yang tak pasti untuk saat ini dan sebenarnya tak perlu ditunggu karena sesuatu itu akan mendekat, hanya saja karena kita tak sabar dan kurang kerjaan maka kita lebih suka beralih menjadi seorang "penunggu".. sebenarnya aku sudah berusaha supaya rasa ini tak bocor, namun apa daya, membran selektif permeabel tak bisa membendungnya, perlahan rasa yang berupa aksara itu merembes keluar, berjajar dan bersenandung.. ah, banyak yang mengira ini kode untuknya, namun aku tak bisa menampik, dan benar adanya.. terkadang berceceran di twitter.. sadar atau tidak sadar yaa begitulah memang susah kalau soal rasa.. namun tulisan yang bisa dibaca ini bukanlah apa apa, namun yang penting adalah doa, untukmu agar kamu baik-baik saja di sana.. dan semoga nantinya nantinya seseorang itu bukan orang lain, tapi kamu..

---
tiang perak, 29.09.14 - 19:50

Rasa itu Punya Kadar


sadar atau tidak sadar, perlu kita sadari bahwa rasa itu punya kadar.. bisa bertambah, bisa berkurang, bahkan bisa hilang.. kejadian itu bisa seketika terjadi, bisa juga kita rencanakan.. namun biasanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.. perlu proses yang panjang untuk bisa melakukannya.. bisa kita ibaratkan bahwa mengolah rasa itu seperti memahat.. pelan-pelan tapi pasti, bukan seperti memotong dan menggergaji.. rasa itu tentang waktu dan kuantitas.. bukan tentang jarak dan waktu.. kalau tentang jarak dan waktu bisa jadi itu adalah kecepatan..

menghilangkan rasa bisa jadi mudah, jika kita mampu mengubah niatan di dalam benak kita.. mengarahkan niatan itu ke arah yang lebih lurus.. karena niatan bisa kita analogikan sebagai cahaya, selalu ada faktor yang mampu membiaskannya.. sekedar niatan ternyata tak cukup, harus diikuti oleh fisik yang sepaham.. ketika benak kita berkata A, maka fisik kita harus berkata A pula, maka rasa dalam hati kita akan berkata A pula, walau dalam jangka waktu yang cukup lama untuk melatihnya, namun tak ada salahnya untuk mencoba..

Bertemu Denganmu (Lagi)

sore ini aku bisa bertemu denganmu lagi.. sedikit berbincang untuk pertemuan kita yang bisa dikatakan jarang.. sudah lama aku tak berbicara denganmu semenjak hari itu.. aku bukanlah orang percaya dengan kebetulan, mungkin karena golongan darahku A, aku lebih suka berpikir menggunakan logika.. sehingga perkiraanku pertemuan kita sore ini bukanlah kebetulan, tapi sebuah rencana.. kita tahu bukanlah kita yang merencanakan, namun kita percaya bahwa ini adalah rencana-Nya..

bertanya kabar, itulah kalimat yang sering kuucapkan untuk semua orang yang di sekitarku.. ya, termasuk juga dirimu sebagai orang yang cukup dekat denganku semenjak kita ditakdirkan untuk melangkah dan bekerja bersama-sama.. senyum tersungging dari bibirmu, ah aku tak perlu menunggu jawaban yang keluar dari lisanmu.. senyummu sudah mengabarkan bahwa selama ini kamu baik-baik saja.. semoga saja senyummu itu tidak membohongiku..

kembali merencanakan sebuah pertemuan.. ya, momen yang selalu ku rindukan selama aku berpisah denganmu dan kalian.. pernahkan dirimu merasakan yang sama..? yang masih kuingat di warung itu, kita bersama berkumpul bercerita dan itu selalu berlangsung lama.. kenapa? karena selalu ada cerita yang harus kita ceritakan, karena selalu ada pokok bahasan yang harus kita diskusikan.. dan sore ini pun kita merencanakan lagi untuk berkumpul lagi.. bisakah terealisasi?

masih juga teringat masa-masa ketika aku masih selalu membimbingmu, ketika kamu pernah tertatih tatih untk berjalan dengan tegak, melakukan perjalanan bersama.. walau terkadang terkeseok seok namun kita masih bisa menjalaninya dengan canda dan bahagia.. dipertemuan nanti mungkin aku akan bertanya banyak hal tentangmu dan perjalananmu selama ini.. ketika kami tak berada disampingmu lagi bagaimana perjalananmu? baik-baik saja kan?
---
Kasur Biru, 26.09.14 - 17:26

Lakukanlah, Paksakanlah


 Jika aktivitas itu baik untukmu maka lakukanlah.. jika mulai terasa berat maka paksakanlah.."
kemudian seorang kawan berkomentar, 
Pesonanya aktivis bukan sekedar perkara mau dan paksanya, namun inilah penanda sebesar apa cinta yang teramat tinggi tuk Allah yang Maha menganugerahkan nikmat nyata lagi sempurna. Mari tapaki dan susuri..
bagi seseorang yang sudah mendapatkan pemahaman ikhlas, iman dan islam yang kaffah, ketika rasa ikhlas sudah bersemayam dalam dirinya maka komentar itu bisa benar adanya dan idealnya memang begitu.. dan kita semua berproses untuk mencapai titik itu.. Namun itu akan berbeda ketika jiwa dalam diri kita compang- camping, di dalam perjalanan kehidupan maka dapat kita rasakan bahwa " jika aktivitas itu baik untukmu maka lakukanlah.. jika mulai terasa berat maka paksakanlah.." itu lebih pas realistis.. kenapa? karena ketika semangat kita masih tergolong compang camping dan terasa pas-pasan pasti ada satu masalah yang selalu melekat, masalah itu adalah ..

--- Malas ---

entah percaya atau tidak kita pasti pernah mengalaminya.. rasanya nano nano dan fluktuatif sekali.. sebagai contoh mudahnya tentang sholat.. masih ada orang-orang merasa berat untuk sholat.. sudah kita ketahui bahwa sholat itu baik, bisa menyelamatkan kita dari api neraka.. kalau kita menunggu sampai ada rasa cinta kepada-Nya maka mungkin lama untuk bisa beribadah kepadanya, itupun setelah mendapatkan hidayah.. jika tidak trus bagaimana? oke, dalam konteks ini sebaiknya kita harus melakukan apa? memaksa diri terus beribadah (walau dalam keadaan terpaksa) sembari menunggu rasa ikhlas itu tumbuh ataukah menunggu sampai kita tersadar?

kemudian dalam mengerjakan tugas misalnya, pasti akan bertemu dengan titik jenuh dan mood yang sering sekali berubah-ubah.. padahal tugas itu berdampak besar dan kejar deadline terhadap kehidupan kita, sedangkan waktu untuk refreshing dirasa tidak memungkinkan.. haruskah kita menunggu sampai kita tidak merasa stress dan mood kita menjadi menjadi baik kembali? atau lebih baik "memaksa" diri dan mengerjakan perlahan namun pasti?

maka lebih realistis kita mulai "memaksa" diri kita untuk lebih dari yang biasanya.. "memaksa" dalam konteks ini bukanlah hal yang negatif, memaksa untuk melatih.. melatih untuk melakukan.. memaksa adalah termasuk proses.. niscaya rasa ikhlas itu perlahan tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu..

---
Depan Layar Kaca, 25.09.14 - 21:31

RPP Biologi SMA Plantae Kurikulum 2013


di bawah ini merupakan contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari materi plantae kelas X SMA yang menggunakan kurikulum 2013. mungkin format dalam RPP ini sedikit berbeda dengan format yang sudah ada.  Skenario RPP ini sudah mencantumkan kegiatan guru dan kegiatan Siswa. RPP ini hanya memuat satu sub materi dengan waktu 1 x 25 menit dalam satu pertemuan. semoga bisa menjadi acuan bermanfaat.











RPP Biologi SMA Virus Kurikulum 2013


di bawah ini merupakan contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari materi Virus kelas X SMA yang menggunakan kurikulum 2013. mungkin format dalam RPP ini sedikit berbeda dengan format yang sudah ada.  Skenario RPP ini sudah mencantumkan kegiatan guru dan kegiatan Siswa. RPP ini hanya memuat satu sub materi dengan waktu 1 x 25 menit dalam satu pertemuan. semoga bisa menjadi acuan bermanfaat.