Memilih untuk Menjemput -24


kita hidup di sini itu bukan tentang memilih siapa yang cocok, siapa yang terbaik dan pantas untuk kita.. ketika ada yang sosok yang baik dan (terlihat) sempurna seakan akan berebut untuk bisa bersanding dengannya.. kalau jodoh itu adalah rizki maka kita tidak berhak untuk memilih seperti memilih baju yang di etalase toko, dimana ada yang menarik dan kita suka maka kita bisa membawanya pulang.. kalau jodoh adalah rizki maka kita hanya diberikan satu pilihan yaitu menjemputnya..

kalau jodoh itu adalah rizki maka dia akan mendekat lebih dekat kepada kita, daripada kita mendekat kepadanya.. seperti kata ustad Salim A Fillah bahwa asinnya garam yang dapat kita rasa dilidah dan mengisi darah kita itu usahanya lebih keras untuk mencapai lidah kita karena harus melewati berbagai fase, dari dijemur, diberi zat tambahan, dikemas, masuk gudang dulu, mampir ke distributor, naik ke dalam truk, bermalam di pasar, bertumpuk di warung, sampai akhirnya di beli ibu, kemudian sebagai bumbu untuk masakan.. nah sekarang kita sendiri bagaimana? kita hanya cukup ke meja makan, melahapnya, merasakannya kemudian garam itu pun mengisi darah kita..

jodoh yang akan kita dapatkan bukanlah karena kita memilih siapa dia, namun kita disini dihadapkan pada pilihan bagaimana cara kita menjemputnya, memilih bagaimana kondisi kita saat menjemputnya, memilih niatan saat kita berhadapan dengannya, dan kapan kita akan menjemputnya ..karena dia sudah ditentukan di lauh mahfudz sana.. kalau kita masih ragu, tak perlu lah kita maju.. kalau kita belum siap maka bergeraklah, karena diam dan menunggu siap bukanlah pilihan..
Menjemput itu tentang kemantapan dan kesiapan.. mantap dalam niat, siap dalam menanggung..

ketika rizki itu tentang rasa maka memiliki rasa dengannya adalah rizki yang turun kepada kita.. ketika rizki itu tentang halal maka halal dengannya adalah rizki yang tiada tara.. ketika rizki itu tentang toyyib maka bersanding dengannya adalah keadaan yang terbaik.. ketika rizki itu tentang waktu maka hari - hari bersamanya adalah sesuatu yang berharga..
***
sebuah jawaban atas pertanyaan bada subuh tadi 

Hanya (Sekedar) Mendoakanmu -23

Bodoh itu ketika aku menyapa mu kembali hari ini, padahal aku sudah berusaha untuk tidak menyapamu, melihatmu ataupun menghubungimu.. karena dulu aku sempat berjanji untuk tidak menyapamu sampai beberapa saat, sampai hati ini benar benar kuat .. walau memang tadi aku menyapamu untuk sesuatu yang penting.. tentang pekerjaan sore ini..

Masalah itu ketika aku melihatmu malam ini.. tetesan rahmat dari langit itu mulai membasahimu.. dingin yang membersamainya pun beralih mendampingimu, mendampingi kepulanganmu.. sempat terpikir untuk sekedar mengirim pesan singkat ” hati - hati di jalan “..

Keputusan yang benar itu ketika aku memilih untuk mengurungkan niatku.. ya.. memang aku tak mengirimkan pesan singkat itu.. namun.. sebaris doa yang ku tulis dalam hati dan ku baca dalam benak ku ” semoga kamu mendapat kemudahan dalam pulang ke rumahmu “.. karena doa ketika hujan itu mudah dikabulkan, begitu yang kubaca dari berbagai literatur.. sebuah doa, sepertinya lebih dari cukup ketika aku tak bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk kepulanganmu hari ini..

Kuat itu kamu.. ketika kamu setiap hari menempuh jarak untuk menyelesaikan kesibukan ini.. kesibukan yang sepertinya benar benar kamu sukai.. ketika banyak waktumu yang yang kamu habiskan di tempat ini daripada bercengkerama di rumah.. ketika siangmu dipenuhi dengan amanah, malammu yang dipenuhi dengan tugas yang menggunung dan membuncah ruah.. namun aku melihat dari dirimu bahwa hal itu bukanlah masalah..

Yang disayangkan itu ketika kamu sering pulang malam dan berangkat pagi untuk selalu berada di sini.. kenapa? Aku tahu orang tuamu terutama ibumu pasti membutuhkanmu untuk berada di rumah.. entah memasak, ataupun pekerjaan yang lain mungkin biasa dilakukan oleh kaummu.. mungkin kamu luar biasa disini, namun akan lebih luar biasa ketika kamu juga memberikan waktumu yang lebih untuk beraktivitas di sana..

Bagiku Harapan ini adalah doa.. doaku untukmu supaya nantinya kamu menjadi “hawa” yang sempurna.. bukan untukku, tapi untuknya.. dimana kamu lepas dari dadanya, berkembang di dalam rahim dari seorang ibu yang mulia.. kemudian nantinya kamu akan kembali kepadanya, melengkapi hidupnya.. memberikan kekuatan pada jiwanya serta mampu menghangatkan hatinya ketika dinginya hidup mulai menerpanya..

***

Ruang Sound, 21.07.14 - 22.22

Mengenal dan Menilai -22

Seringkali kita terburu nafsu untuk segera menghakimi tanpa mendahuluinya dengan mencermati.. ketika prasangka sudah merasuki hati.. prasangka bisa menjadi tali gantung, membuat orang sulit bernapas, karena tenggorokanya sudah terkekang dan terjerat.. sulit menyuarakan isi hatinya untuk berkata..
Mengkonfirmasi adalah solusi, sebuah langkah untuk menyelesaikan masalah tanpa bermasalah.. ketika sesuatu yang sesak di dada menjadi lega.. ketika sesuatu yang abu abu menjadi hitam atau putih.. ketika sesuatu yang membuat kita gundah menjadi bungah..
Setiap orang memang terlahir sebagai hakim, sebagai penilai atas diri orang lain.. mereka menjadi hakim yang buruk, jika tidak menanamkan nilai nilai kebenaran dan obyektivitas.. seringkali dalam menilai seseorang kita hanya melihat dari covernya.. itu adalah sejelek jeleknya penilaian.. terkadang menilai seseorang hanya parsial saja, memandang dari satu sisi saja.. diperparah dengan ungkapan yang menghujat.. melihat itu harus utuh dari berbagai sisi, karena seseorang yang utuh itu dibangun berbagai komponen..
Dengan mengenalnya maka kita akan mampu menilainya.. mengenal bisa saja dari informasi orang lain dan berbagai literatur yang ada.. kalau perlu malah bertemu dan berbincang langsung dengannya.. sesungguhnya karakter seseorang bisa terlihat dari bagaimana dia bertutur kata, sorot matanya dan apa yang dia bicarakan..
Akan lebih valid ketika kita bisa membersamainya dalam berbagai aktivitas.. karena sifat asli akan terekspresikan dan orang jarang bisa jaim dalam waktu yang lama.. minimal dalam 12 jam, atau bahkan bersamanya dalam berhari hari maka itu akan lebih valid dan pasti.. so, silahkan menilai.. menilai seseorang adalah hak asasi, namun jangan sesuka hati.. berdasarlah pada realita, kebenaran dan hati nurani..

Berusaha Mengenalmu -21


terkadang yang membuatku enggan berkomunikasi dengan mereka adalah kekurangterampilanku mengambil momen atau memilih paduan kata.. sering salah dalam memilih kata membuat mereka mencap negatif diriku.. ketika aku banyak bertanya bisa jadi mereka mengira aku memiliki niatan yang lebih.. padahal sederhana, hanya ingin mengenal.. bukankah hal itu yang biasa dalam bermasyarakat? sepertinya hal itu tidak belaku disini..


dengan mengenal seseorang terlebih dahulu maka hal itu bisa menjadi acuan dalam kita memperlakukannya.. bagaimana kita akan bersikap, bagaimana kita nantinya kita akan bertutur dan menjalin kerjasama ke depan.. karena memuliakannya adalah dengan mengenalnya..

dengan mengenalmu itu merupakan modal utama untuk mempercayaimu, dengan mempercayaimu maka aku berharap bisa bekerja sama denganmu.. ketika kau hanya memilih diam maka aku akan mendiamkanmu.. silahkan kau diam dalam prasangka negatif tentangku.. karena itu memang hakmu yang berdasar dari salahku..

aku mudah percaya dengan orang lain, namun mudah juga melepas kepercayaan ketika sudah dikecewakan.. lebih baik bekerja sendiri daripada meminta pertolongan namun tidak segera ditindaklanjuti.. itu tebih baik daripada hanya digantung dalam harapan, kecewa dalam buaian..


***
sebuah narasi

Memulai Perjalanan -20

sampai saat ini pun aku belum berkeinginan untuk menghubungimu, karena aku belum merasa siap mendapatkan pengganti.. perlu seribu satu alasan untuk mulai bekomunikasi denganmu, salah satunya sampai kita bertemu terlebih dahulu dan aku tahu siapa dirimu dan apa aktivitasmu selama ini.. aku hanya tak ingin perjalanan yang baru buatmu dan buatku ini malah membebani perasaan satu sama lain, untuk itu aku perlu keterbukaan diawal.. setidaknya kita membuat komitmen di awal apa yang akan kita lakukan bersama nantinya..

berbeda rasa ketika posisimu bukan rekan kerjaku, aku bisa memberikan arahan yang sudah ada dibenakku selama ini, ketika semua otoritas ini sepenuhnya ditanganku.. namun ketika ini menjadi rekan aku harus berpikir dua kali, mana hak ku, mana hak mu, mana kewajibanmu, mana kewajibanku.. walau hak dan kewajiban memang milik bersama namun realitaanya kita harus berbagi..
aku harus banyak belajar untuk memperlakukanmu dengan baik, entah bagaimanapun caranya.. namun yang terlintas hanya rasa takut jika diri ini semena mena tak berdasar pada rasa.. karena pekerjaan yang berat akan menanti, dan mendzolimi waktumu adalah luka bagiku.. bukanya trauma namun tak ingin mengulangi untuk yang kedua kalinya dan menyayat luka..
aku tahu kamu baik, namun aku takut kebaikanmu tetap tak dapat menerimaku karena keperfeksionisme ku.. ketika hasil terkadang menjadi tujuan.. dan menjadi yang terbaik menjadi impian.. jika kamu benar benar siap maka bersiap siaplah untuk lebih siap.. karena perjalanan itu bukan berdasar pada semangat dan tanggung jawab.. namun berlandaskan pula pada asa dan rasa..
***

sebuah narasi

Segera Menyusulmu -19

Kamis itu di siang yang cerah kembali bertemu dengannya, ketika dia turun dari tangga dengan perasaan sumringah dan lega.. dengan status barunya setelah dua jam keluar dari ruangan yang dingin, dari terpaan badai pertanyaan yang mendera.. namun mampu ditepis dan menjadi tanda bahwa perjalanan di tahap ini telah selesai..
Selamat kawan.. masih banyak pilihan yang menantimu selepas dari sini.. ketika pilihanmu itu akan menaikkan derajatmu, maka pilihlah dan laluilah.. perjalanan kita memang tak sama, apa yang kita lalui selama ini sudah berbeda dan titik akhir di kebersamaan selama ini juga berbeda.. namun aku yakin bisa mengikuti jejakmu di waktu yang tepat..
Mungkin kita akan terpisah.. namun yang jelas kita akan bersama lagi, entah kapan dan dimana.. bisa jadi kamu berada di sisi timur.. dan aku memilih disisi barat ketika rezeki itu masih mendekat dan melekat.. namun itu bukan masalah.. kita masih bisa bertemu.. ketika ular besi itu masih ada..
Sebuah goa mungkin mampu membuatku lrbih cepat menyusulmu.. karena di sini banyak sekali yang mengganggu konsentrasi.. namun itu bukan masalah.. karena di sini masih ada mereka, sumber tenaga untuk membuatku hangat dan bersemangat.. namun waktu yang tepat akan mendekat dan membuatku menyandang sebuah predikat..
Di sini aku meniti sebuah jalan, yang panjang, tak terduga, memerlukan kesabaran, menguji rasa.. namun jalan ini selalu memberikan kejutan dan nikmat.. di jalan inilah aku benar benar merasakan pertolongan Nya ketika aku merasa tak mampu dan hampir menyerah.. namun Dia memberikan karunia terbaik yang tak pernah kau duga.. benar kata Nya bahwa Dia akan menolong orang yang memperjuangkan CahayaNya dan Dia tak akan menyalahi janji..