Ada Apa Denganmu?


kemarin aku berusaha menghubungimu, namun tak ada sepatah kata balasan darimu.. mungkin pesanku terlalu basi basi sehingga tak menarik untuk ditanggapi..

sudah lama kita tidak berkomunikasi, sekedar menanyakan kabar maupun berbagi cerita tentang kehidupan kita lagi seperti dulu ketika kita pernah kenal dulu.. cerita terakhir yang ku dengar darimu adalah kamu akan melanjutkan kehidupanmu, mengejar cita- citamu, melakukan apa yang kamu sukai setelah meninggalkan tempat ini..

mungkin rindu yang kurasa, ketika kamu sering bercerita tentang rasa, tentang perasaanmu kepadanya.. harapanmu kepadanya.. dan bagaimana usahamu mendapatkan simpatinya.. mengenang juga ketika aku bercerita tentang sebagian kehidupanku kepadamu.. berbagi pendapat tentang jalan kehidupan yang akan kita lalui..

sekarang mungkin kita sudah mulai menjalani kehidupan masing masing, kita sudah benar benar terpisah.. sampai saat ini aku masih memantaumu, walau tidak banyak yang ku ketahui, yang jelas mungkin kamu agak sedikit aneh sekarang.. aku juga belum tahu kenapa kamu seperti itu..

***
Depan TV, 19.10.14 - 14.11

Perjalanan Wisata Malang - Alun Alun -1

berhubung memang penasaran dan belum pernah menginjakkan kaki di kota "singo edan" satu pekan setelah lebaran 2014 ku agendakan perjalanan ke kota malang.. berbekal jaket, topi, sandal, dan tas ransel maka backpackeran di malam itu pun di mulai.. seperti biasa yang ku lakukan ke beberapa kota sebelumnya, Sendirian.. bukannya gak ada teman, bukannya gak ada yang mengajak barengan, tapi memang aku jarang mengajak bepergian seseorang.. karena untuk saat ini sendiri itu indah.. indah, ketika kita bebas kemana pun sesuka hati.. nah, karena bisa sesuka hati maka dalam satu hari bisa beberapa obyek yang bisa ku datangi.. matarmaja, kereta api yang akan mengantarkanku ke malang, di jadwal sih dikatakan jam 00.05 berangkat, namun ternyata baru bisa berangkat jam 00.20.. 
stasiun jebres, surakarta
seperti biasa, hakekat manusia adalah menunggu.. menunggu sesuatu yang akan menghampiri.. ternyata tak sendirian di kereta.. banyak rekan rekan yang berangkat ke malang.. entah pulang kampung, berwisata, ataupun mau muncak gunung, seperti teman- teman pecinta alam ini.

rekan perjalanan yang akan muncak ke gunung
 di bawah ini ada rute perjalanan matarmaja, beberapa kota penting akan dilewati kereta api ini.. dari jakarta, kota kota di pantura, semarang, solo, madiun, nganjuk, kediri, tulungagung, blitar, kepanjen, dan malang.. untuk tarif dari solo ke malang cukup Rp 65.000,00 saja..
rute kereta api matarmaja


kereta inilah yang telah mengantarkan ke malang
 jam 07.00 pagi sampailah di stasiun kota malang, stasiun ini memiliki panjang rel 444 m.. stasiunnya bersih, sayangnya saat ke sana kamar mandinya kurang memadai, sehingga ada antrian panjang.. dan di depan pintu stasiun banyak sekali penawar jasa kendaraan dan angkutan..
stasiun malang
Selamat pagi kota malang, ku mulai hari- hariku di sini.. alhamdulillah cerah, suasana sejuk dan menyegarkan..

stasiun malang
patung di depan stasiun
 langkah kaki pun di mulai, menyusuri trotoar.. di depan itu terdapat papan arah yang mengarahkan ke berbagai titik tujuan..
penunjuk arah ke batu, blitar dan UM
balai kota malang
alun alun kota malang ternyata ada dua, nah dibawah ini alun alun pertama yang berada di depan balai kota dan SMA N 1 Malang.. ada tugu, yang dikelilingi kolam yang berisi bunga teratai yang cantik..
tugu alun alun malang
tamannya asri, cocok buat joging, ngajak bermain anak anak ataupun untuk duduk duduk santai..
taman alun alun pertama malang
SMA N 1 malang
 setelah alun alun pertama, melanjutkan jalan kaki 500  m ke alun alun yang kedua..
monumen di dekat alun alun kedua
 alun alun di pagi saat itu cukup ramai.. banyak warga yang bercengkerama bersama dengan keluarga, ada juga yang joging.. alun alun ini dinamakan alun alun merdeka..

masjid jami yang ada di dekat alun- alun malang 
 ternyata masjid ini bersejarah, karena dibangun 1875, termasuk masjid beryoni selain masjid ampel surabaya dan masjid jami pasuruan, memiliki 20 tiang dalam dan 4 tiang besar di depan.. masjidnya bersih dan lantainya dilapisi karpet karena dingin..
banner sejarah masjid jami malang
alun alun merdeka
setelah itu sarapan ke dekat pertigaan tempat naik angkot biru.. sarapan pagi di malang cukup murah berkisar Rp 6.000,00 - Rp 9.000,00 tergantung lauk dan minuman yang dipilih..

*** Bersambung ***

Perjalanan Wisata Sapta Tirta Karanganyar

Lokasi

papan Petunjuk di depan obyek sapta tirta
Obyek Wisata Sapta tirta di desa Pablengan Kecamatan Matesih dari Kabupaten Karanganyar. Pemandian Sapta Tirta ini berarti mempunyai 7 mata air. Dan salah satu keunikan yang ada ditempat ini adalah bahwa tiap mata air tersebut mempunyai kandungan mineral yang berbeda-beda dengan jarak paling dekat 5 meter, dan jarang terjauh hanya 15 meter.  Menurut catatan sejarah Sapta Tirta merupakan salah satu petilasan raja-raja Mangkunegaran Surakarta. 
gambar raja mangkunegaran di sapta tirta

Sejarah Singkat

Sapta Tirta tidak terlepas dari sejarah perjuangan Raden Mas Said atau lebih dikenal sebagai Pangeran Samber Nyowo alias KGPAA Mangkunegoro I atau Kanjeng Adipati Mangkunegoro Senopati Ing Ayuda Lelono Joyo Wiseso yang hidup di antara tahun 1725-1795 M. Beliau juga sangat terkenal akan kesaktiannya yang terbukti saat melawan kolonial Belanda pada waktu itu.
teman perjalanan
Separoh usia Beliau, dijalani sebagai pejuang yang berusaha mempersatukan Bumi Mataram, perjalanan dilakukan dengan siasat Gerilya dengan sebuah semboyan terkenal Tiji Tibehsingkatan dari mati siji mati kabeh (mati satu, matilah semuanya). Beliau adalah pejuang dari trah keturunan Kerajaan Mataram yang menghendaki Bumi Mataram bebas dari cengkeraman kompeni Belanda. Selama 16 tahun beliau berjuang dengan sangat gigihnya.

Perjuangan Eyang Pangeran  Sambernyawa telah sampailah di desa Pablengan, di sinilah beliau mendapat petunjuk (wisik) dari leluhur Beliau untuk melaksanakan ritual menggunakan Air Sapta Tirta di desa Pablengan. Untuk pertama kalinya beliau mandi di sumber Air Bleng, dengan tujuan ngeblengake tekad (menyatukan cipta rasa karsa) atau golong gilik (bertekad bulad) menyatukan hati, ucapan, pikiran dan cita-cita agar dapat mengusir kompeni Hindia Belanda dari bumi Mataram.
air bleng

deskripsi air bleng
Yang kedua, selanjutnya Beliau mandi di air Urus-urus dengan maksud agar segala tujuannya dapat terurus, terkelola, dimanajemen dengan sebaik-baiknya. 
sendang air urus urus

deskrpsi air urus urus
yang ketiga Beliau mandi di air londo, atau air yang berasa soda dan sedikit asam seperti minuman pocari sweet, dengan tujuan agar mendapatkan kesegaran jasmani dan rohani. 
air soda
Yang ke empat dan ke lima beliau mandi di air hidup dan air mati secara bergantian dengan tujuan agar segala cita-cita perjuangannya, hidup dan matinya berguna untuk kehidupan, dan Beliau memasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
air mati
deskripsi air hidup
Yang ke enam, kemudian beliau memandikan seluruh pasukan tentaranya di air air Kasekten dengan maksud agar memperoleh kekuatan, kewibawaan, keberanian, dan jiwa patriotisme agar dapat mengusir penjajah Belanda dari bumi Mataram.
deskripsi air kasekten
Yang ke tujuh beliau mandi di sumber air Kamulyan /air hangat agar segala cita-cita mengusir penjajah Belanda mendapat ketentraman dan kamulyan bagi kawula/rakyat bumi Mataram.
prasasti air hangat
deskripsi air hangat
Pemandian Keputren Merupakan Peninggalan dari raden Mas Surono ( Mangkonegoro VI) yang terdiri dari 6 bilik kamar mandi dan merupakan peninggalan satu satunya yang tersisa dari peninggalan Mangkunegaran yang ada di sapta tirta yang masih asli
bagian sapta tirta yang masih asli, pemandian

pemandian keputren
dari cerita diatas dapat disimpulkan bahwa sapta tirta adalah tempat permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya terkabul dengan ritual sesuai adat Jawa yang berlaku di Keraton Kasunanan Surakarta, Obyek wisata ini memiliki nilai sejarah tinggi dan perlu dirawat untuk menjaga eksistensi budaya Jawa. 
mencicipi air dulu ah, semoga gak mencret

Manfaat dari 7 Sumber di Sapta Tirta 

  1. air bleng : air ini digunakan untuk bahan pembuatan karak (krupuk yang ada di jawa dibuat dari padi)
  2. air hangat : dipercaya mampu menyembuhkan penyakit kulit
  3. air kasekten : dipercaya menambah keberanian, kepercayaan, kewibawaan, kekuatan
  4. air hidup : katanya bisa membuat awet muda jika untuk membasuh wajah
  5. air mati : katanya beracun, jadi tidak boleh digunakan
  6. air soda : katanya bisa mengobati penyakit dalam, rematik, kolesterol dll
  7. air urus urus : untuk membantu buang air besar
Poster Manfaat air sapta tirta
 air yang ada di sapta tirta ini mengandung belerang, bisa dideteksi dari luberan dan endapan belerang yang berada di selokan dan yang menempel di tembok masing masing sumber air, bisa untuk pengobatan penyakit kulit

luberan dan endapan air belerang
pengunjung yang mau mencicipi air sapta tirta
Selain itu sapta tirta memiliki tempat untuk ritual peribadatan, seperti membakar dupa dan menyan, dengan dua patung di bagian depannya

tempat untuk ritual peribadatan

 Fasilitas

Obyek Wisata sapta tirta ini juga terdapat taman yang indah, dilengkapi juga dengan pedapa yang cukup luas. sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat pertemuan, sarasehan, maupun beristirahat dengan keluarga. kenyamanan ini didukung oleh udara kecamatan matesih yang tergolong sejuk. terdapat fasilitas mushola untuk tempat sholat bagi yang beragama islam serta didukung oleh toilet yang bersih.
front office dan mushola

taman yang luas dan indah

Biaya Wisata

kalau harga tiketnya belum naik silahkan disiapkan uang sebesar Rp 4.000,00 untuk parkir cukup sediakan Rp 2.000,00. selain itu jika dari solo cukup mengeluarkan bensin sekitar 2 liter atau Rp 12.000,00 pergi pulang.

Rute Menuju Obyek

silahkan menggunakan kendaraan dan menuju ke arah tawang mangu melewati karangpandan, sebelum pasar karangpandan (sekitar 20 km dari solo) ada bangjo, ambil arah kanan menuju arah pasar matesih. sekitar 5 km akan bertemu dengan papan penunjuk obyek wisata sapta tirta. obyek ini tidak jauh dari pasar matesih, ke arah utara sekitar 1 km.

Pembelajaran Kurikulum 2013

Pembelajaran kurikulum 2013 adalah pembelajaran kompetensi dengan memperkuat proses pembelajaran dan penilaian autentik untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penguatan proses pembelajaran dilakukan melalui pendekatan saintifik, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa lebih mampu dalam mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data, mengasosiasi/menalar, dan mengomunikasikan.

Karakteristik  pembelajaran  pada  setiap  satuan  pendidikan  terkait erat  pada Standar  Kompetensi Lulusan  dan  Standar  Isi.  Standar kompetensi  Lulusan memberikan  kerangka  konseptual  tentang sasaran  pembelajaran  yang  harus dicapai. Standar Isi memberikan kerangka konseptual tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang diturunkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi.

Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan  ranah  sikap, pengetahuan,  dan  keterampilan  yang  dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Ketiga  ranah kompetensi tersebut  memiliki  lintasan  perolehan  (proses psikologis)  yang  berbeda.  Sikap  diperoleh melalui  aktivitas menerima, menjalankan,  menghargai,  menghayati,  dan  mengamalkan.  Pengetahuan diperoleh  melalui aktivitas  mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas  mengamati,  menanya,  mencoba,  menalar,  menyaji,  dan mencipta. Karaktersitik  kompetensi  beserta  perbedaan  lintasan  perolehan turut  serta  mempengaruhi karakteristik standar  proses.  Penguatan pendekatan  saintifik perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian  (discovery/inquiry  learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual, baik  individual  maupun  kelompok  maka  sangat  disarankan  menggunakan pendekatan  pembelajaran  yang  menghasilkan  karya  berbasis  pemecahan masalah (project based learning).

Prinsip pembelajaran  pada kurikulum 2013 menekankan perubahan paradigma: (1) peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu; (2) guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar; (3) pendekatan  tekstual  menjadi pendekatan  proses  sebagai  penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; (4) pembelajaran  berbasis  konten  menjadi  pembelajaran  berbasis kompetensi; (5) pembelajaran parsial menjadi pembelajaran terpadu; (6) pembelajaran  yang  menekankan  jawaban  tunggal  menjadi pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; (7) pembelajaran verbalisme menjadi keterampilan aplikatif; (8) peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan  fisikal  (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); (9) pembelajaran  yang  mengutamakan  pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pebelajar sepanjang hayat; (10) pembelajaran  yang  menerapkan  nilai-nilai  dengan  memberi keteladanan (ing  ngarso  sung  tulodo), membangun kemauan  (ing  madyo mangun  karso),  dan  mengembangkan  kreativitas  peserta  didik  dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); (11) pembelajaranyang  berlangsung  di  rumah,  di  sekolah,  dan  di masyarakat; (12) pembelajaran  yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas; (13) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan (14) pengakuan  atas perbedaan  individual dan  latar  belakang budaya peserta didik.

Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian autentik menilai kesiapan siswa, serta proses dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen (input – proses – output) tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan hasil belajar peserta didik, bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran.

A. Pendekatan Pembelajaran saintifik

Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif siswa (Alfred De Vito, 1989). Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang mampu menghasilkan kemampuan untuk belajar (Joice & Weil: 1996), bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh peserta didik (Zamroni, 2000; & Semiawan, 1998).

Pembelajaran saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namum proses pembelajaran dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran saintifik menekankan pada keterampilan proses. Model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains ke dalam sistem penyajian materi secara terpadu (Beyer, 1991). Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar. Dalam model ini peserta didik diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan (scientist) dalam melakukan penyelidikan ilmiah (Nur: 1998), dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya. Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan (Semiawan: 1992).

Model ini juga tercakup penemuan makna (meanings), organisasi, dan struktur dari ide atau gagasan, sehingga secara bertahap siswa belajar bagaimana mengorganisasikan dan melakukan penelitian. Pembelajaran berbasis keterampilan proses sains menekankan pada kemampuan peserta didik dalam menemukan sendiri (discover) pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman belajar, hukum-hukum, prinsip-prinsip dan generalisasi, sehingga lebih memberikan kesempatan bagi berkembangnya keterampilan berpikir tingkat tinggi (Houston, 1988). Dengan demikian peserta didik lebih diberdayakan sebagai subjek belajar yang harus berperan aktif dalam memburu informasi dari berbagai sumber belajar, dan guru lebih berperan sebagai organisator dan fasilitator pembelajaran.
Model pembelajaran berbasis keterampilan proses sains berpotensi membangun kompetensi dasar hidup siswa melalui pengembangan keterampilan proses sains, sikap ilmiah, dan proses konstruksi pengetahuan secara bertahap. Keterampilan proses sains pada hakikatnya adalah kemampuan dasar untuk belajar (basic learning tools) yaitu kemampuan yang berfungsi untuk membentuk landasan pada setiap individu dalam mengembangkan diri (Chain and Evans: 1990).

Sesuai dengan karakteristik fisika sebagai bagian dari natural science, pembelajaran fisika harus merefleksikan kompetensi sikap ilmiah, berfikir ilmiah, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data/informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.
(1) Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
(2) Kegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan siswa dalam bentuk konsep, prisnsip, prosedur, hukum dan teori, hingga berpikir metakognitif. Tujuannnya agar siswa memiliki kemapuan berpikir tingkat tinggi (critical thingking skill) secara kritis, logis, dan sistematis. Proses menanya dilakukan melalui kegiatan diksusi dan kerja kelompok serta diskusi kelas. Praktik diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan ide/gagasan dengan bahasa sendiri, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah.
(3) Kegiatan mencoba bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan siswa untuk memperkuat pemahaman konsep dan prinsip/prosedur dengan mengumpulkan data, mengembangkan kreatifitas, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan ini mencakup merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, serta memperoleh, menyajikan, dan mengolah data. Pemanfaatan sumber belajar termasuk mesin komputasi dan otomasi sangat disarankan dalam kegiatan ini.
(4) Kegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Data yang diperoleh dibuat klasifikasi, diolah, dan ditemukan hubungan-hubungan yang spesifik. Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui situasi yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga siswa melakukan aktifitas antara lain menganalisis data, mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerja diskusi atau praktik. Hasil kegiatan mencoba dan mengasosiasi memungkinkan siswa berpikir kritis tingkat tinggi (higher order thinking skills) hingga berpikir metakognitif.
(5) Kegiatan mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi,  membuat laporan, dan/ atau unjuk karya.
Kelima pengalaman belajar (mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi dan menkomunikasikan) merupakan standar minimal yang harus dibelajarkan kepada siswa melalui model model pembelajaran yang sesuai dengan materi biologi.
Pengalaman belajar tersebut bisa terlaksana pada berbagai model-model pembelajaran antara lain pada pembelajaran kolaboratif:

Contoh Pembelajaran Kolaboratif

Guru ingin mengajarkan tentang konsep, penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi tentang objek. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort).  Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini.
  • Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
  • Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
  • Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya.
  • Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik, buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.

Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif

Banyak metode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini:

JP = Jigsaw Proscedure. 

Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasari   pada rata-rata skor tes kelompok.

STAD = Student Team Achievement Divisions.

Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Penilaian didasar¬i pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik

CI = Complex Instruction

Titik tekan metode ini  adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika, dan ilmu pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.

TAI = Team Accelerated Instruction. 

Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilakspesertaan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap peserta didik mengerjakan soal-soal berikutnya. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok.

CLS = Cooperative Learning Stuctures. 

Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran.

LT = Learning Together. 

Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.

TGT = Teams-Games-Tournament. 

Pada metode ini, setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik.

  GI = Group Investigation. 

Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencpesertaan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melakspesertaannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.

AC = Academic-Constructive Controversy. 

Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.

CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. 

Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para peserta didik saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya
Peserta didik dapat membentuk jejaring yang lebih luas dengan menginformasikan/ berbagi tentang  hasil penugasan, proyek atau makalah melalui berbagai media.

sumber : dari berbagai sumber di Internet

Makalah Jenis Kelamin Semut

A. Perbedaan jenis kelamin

Apabila kita berbicara tentang jenis kelamin atau seks dari suatu makhluk tentu perhatian kita terutama pada adanya makhluk jantan dan betina. Perbedaan jenis kelamin umumnya dipengaruhi oleh dua faktor :

1. Faktor lingkungan

Biasanya yang mengambil peranan di sini adalah keadaan fisiologis. Jika kadar hormone kelamin dalam tubuh tidak seimbang dalam penghasilan dan peredarannya, maka pernyataan fenotip pada suatu makhluk mengenai kelaminnya dapat berubah. Akibatnya watak kelaminnya pun mengalami perubahan.

2. Faktor genetic/herediter

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa faktor genetiklah yang menentukan jenis kelamin suatu makhluk.Oleh karena bahan genetic terdapat di dalam kromosom, maka perbedaan jenis kelamin terletak dalam komposisi kromosom.

B. Type Haploid-Diploid

Pada serangga ordo Hymenoptera seperti lebah, semut dan lebah madu, penentuan jenis kelamin tidak ada hubungannya dengan kromosom Kelamin. Lebah madu♂ terjadi karena partenogenesis, yaitu terbentuknya individu baru dari telur tanpa fertilisasi, sehingga lebah madu ♂ bersifat haploid. Sistem ini penentuan jenis kelamin tidak ditentukan oleh kromosom seks, melainkan kromosom tubuh (autosom) Ditemukan pada bangsa kelompok semut dan rayap Betina berkembang dari sel telur yang dibuahi sehingga diploid Jantan berkembang dari sel telur yang tidak dibuahi, sehingga haploid. Untuk menghasilkan keturunan, sang ratu mengkloning dirinya dan menghasilkan keturunan yang tentunya, betina juga. Spesies yang nama latinnya Mycocepurus smithii itu tak hidup berpasangan. Untuk berkembangbiak, mereka memiliki organ reproduksi yang disebut organ mussel. Himler berpendapat fenomena ini sangat langka dan tak biasa ditemukan pada spesies semut. Biasanya, reproduksi aseksual hanya terjadi pada jantan dengan telur dari betina yang belum dibuahi. Tugas merekalah untuk bereproduksi secara aseksual dengan membuahi telur tersebut.

Haplodiploid merupakan salah satu mekanisme yang paling luas dari penentuan seks pada hewan. Dalam Hymenoptera banyak, termasuk semua spesies sampai sekarang yang diselidiki sosial, individu diploid, yang heterozigot pada lokus seks, berkembang sebagai betina, sedangkan haploid, individu hemizigot berkembang sebagai jantan (penentuan seks tunggal-lokus komplementer, sl-CSD). Penangkaran sanak mengarah ke homozigositas pada lokus seks, sehingga produksi jantan diploid, yang biasanya steril dan merupakan biaya kebugaran yang cukup. Namun demikian, perkawinan sedarah biasa tanpa produksi diploid jantan diketahui dari tawon soliter beberapa menunjukkan bahwa dalam seks spesies tidak ditentukan oleh sl-CSD namun mekanisme alternatif. Di sini, kita kaji penentuan seks dalam semut dengan inbreeding biasa, Cardiocondyla obscurior. Ketiadaan hampir lengkap dari jantan diploid setelah 10 generasi adik-adik kawin dalam dokumen laboratorium untuk pertama kalinya adanya sl-CSD dan CSD dengan dua atau lokus seks beberapa unlinked dalam spesies Hymenoptera sosial. Queens, yang dikawinkan dengan saudara, muncul untuk mengurangi jumlah jantan di induk mereka, seperti yang diharapkan dari hubungan keterkaitan bawah perkawinan sedarah. Sebaliknya, beberapa koloni mulai menunjukkan tanda-tanda depresi penangkaran sanak setelah beberapa generasi sib-kawin, seperti rentang ratu hidup dipersingkat, kematian induk yang lebih tinggi, dan pergeseran ke lebih laki-bias rasio jenis kelamin di beberapa koloni, mungkin disebabkan oleh rendahnya inseminasi kemampuan sperma.

C. Evolusi menuju semut

Pada awalnya Semut adalah keturunan dari generasi tawon Vespoidea. Analisa Filogenetik mengindikasikan bahwa semut telah berevolusi dari capung vespoid pada periode Kapur sekitar 120 juta sampai 170 juta tahun yang lalu. Ada yang beranggapan bahwa dulunya semut adalah binatang yang hidup secara individu, semut sekarang yang hidup berkoloni merupakan evolusi dari semut. Bukti adanya evolusi semut juga diperkuat dengan adanya penemuan Semut spesies baru yang ditemukan di hutan Amazon. semut ini hidup di bawah tanah dan buta selama hidupnya. Para ilmuwan yang menemukannya yakin semut tersebut masih keturunan langsung semut purba yang pertama kali menghuni Bumi. Pada tahun 1966, E. O. Wilson, dkk. menemukan fosil semut dalam getah pohon (Sphecomyrma freyi) dari periode Kapur. Fosil ini terjebak di sebuah getah pohon di New Jersey dan telah berumur lebih dari 80 juta tahun. Fosil ini memberikan bukti terjelas tentang hubungan semut modern dan tawon non-sosial. Semut periode Kapur berbagi karakteristik semut modern dan tawon

D. Semut

Semut hidup dalam koloni yang sangat terstruktur, dan merupakan serangga sosial yang utama (Marshall 2006). Dengan hampir 20.000 spesies, semut dapat ditemukan di hampir semua ekosistem darat (Marshall 2006). Meskipun reputasi mereka untuk menjadi hama, semut menyediakan jasa ekosistem penting. Semut membantu memecah bahan organik dalam dekomposisi (bersepeda nutrisi penting kembali ke ekosistem), membalik tanah atas, dan dapat menyebar benih dan dapat melindungi tanaman dari musuh alami lainnya (Fisher dan Cover 2007). Semut telah memainkan peran penting dalam evolusi organisme lain banyak (lebih dari 460 spesies tanaman). Melalui hubungan simbiosis, semut telah membantu dalam membentuk banyak ekosistem darat yang kita kenal sekarang.

Setiap koloni semut, tanpa kecuali, tunduk pada sistem kasta secara ketat. Sistem kasta ini terdiri atas tiga bagian besar dalam koloni. Anggota kasta pertama adalah ratu dan semut-semut jantan, yang memungkinkan koloni berkembang biak. Dalam satu koloni bisa terdapat lebih dari satu ratu. Ratu mengemban tugas reproduksi untuk meningkatkan jumlah individu yang membentuk koloni. Tubuhnya lebih besar daripada tubuh semut lain. Sedang tugas semut jantan hanyalah membuahi sang ratu. Malah, hampir semua semut jantan ini mati setelah kawin. Anggota kasta kedua adalah prajurit. Mereka mengemban tugas seperti membangun koloni, menemukan lingkungan baru untuk hidup, dan berburu.

Kasta ketiga terdiri atas semut pekerja. Semua pekerja ini adalah semut betina yang steril. Mereka merawat semut induk dan bayi-bayinya, membersihkan dan memberi makan. Selain semua ini, pekerjaan lain dalam koloni juga merupakan tanggung jawab kasta pekerja. Mereka membangun koridor dan serambi baru untuk sarang mereka; mereka mencari makanan dan terus – menerus membersihkan sarang.
Di antara semut pekerja dan prajurit juga ada sub-kelompok. Sub-kelompok ini disebut budak, pencuri, pengasuh, pembangun, dan pengumpul. Setiap kelompok memiliki tugas sendiri-sendiri. Sementara satu kelompok berfokus sepenuhnya melawan musuh atau berburu, kelompok lain membangun sarang, dan yang lain lagi memelihara sarang.Setiap individu dalam koloni semut melakukan bagian pekerjaan-nya sepenuhnya. Tak ada yang mencemaskan posisi atau jenis tugasnya. Ia hanya melakukan apa yang diwajibkan. Yang penting adalah keberlanjutan koloninya.

Kalau kita pikirkan bagaimana sistem ini berkembang, kita tidak dapat mengingkari fakta adanya penciptaan. Mari kami jelaskan alasannya: Jika ada tatanan yang sempurna, secara logis kita berkesimpulan bahwa tatanan ini tentu dibentuk oleh otak yang merencanakan. Misalnya, tatanan disiplin dalam militer; jelas bahwa para perwira yang mengendalikan tentara telah menetapkan tatanan ini. Sungguh absurd kalau kita berasumsi semua individu dalam pasukan berkumpul dengan sendirinya dan mengorganisasi diri sendiri, lalu berkelompok menurut pangkat dan mulai bertindak sesuai pangkatnya. Lebih jauh lagi, perwira yang telah menetapkan tatanan ini harus terus melakukan inspeksi agar tatanan ini dapat bertahan tanpa masalah. Kalau tidak, pasukan yang diserahkan kepada prajurit saja akan berubah menjadi kumpulan yang kacau. 

Koloni Sebagian besar terdiri dari betina, semut pekerja. Sebagai unit, semut pekerja membangun sarang, mengumpulkan makanan, melindungi dan memberi makan anak, dan melawan predator yang jeapardize koloni atau sumber makanan mereka. semut jantan kawin dengan semut ratu dan hidup yang relatif singkat. genetika semut dan rasio jenis kelamin yang menarik untuk memeriksa secara koloni semut. Seks tekad di semut disebut haplodiploidy. Haplodiploidy adalah ketika jantan biasanya menetas dari telur yang tidak dibuahi. Sebuah telur yang tidak dibuahi hanya memiliki satu set kromosom, hanya dari ibu. Para betina di sisi lain adalah diploid karena mereka menetas dari telur dibuahi yang memiliki dua set kromosom, satu dari ibu dan satu dari ayah (Marshall 2006). Sayangnya, haplodiploidy berarti bahwa saudara tiga kali lebih terkait satu sama lain daripada saudara dari kawin Ratu yang sama. The haplodiploidy koloni semut berarti bahwa saudara memiliki insentif lebih untuk kooperatif dengan eachother, membantu ibu mereka (ratu) menghasilkan lebih banyak keturunan, berarti saudara lebih (Morales dan Heithaus 1998).

Tidak ada daftar spesies semut Woods Utara ada, setidaknya untuk pengetahuan kita. Namun, kita dapat membuat beberapa dugaan mengenai spesies yang mungkin ditemukan di hutan, berdasarkan penelitian yang dilakukan di hutan lainnya di wilayah tersebut. Misalnya, Gottelli dan Ellison (2002) melaporkan spesies berikut yang ditemukan dalam setidaknya satu dari 22 England hutan New sampel:

E. Lebih jauh Tentang Hipnoptera

Hymenoptera, Ordo serangga yang mencakup lebah, semut dan tawon, memiliki metode genetik yang menarik dan tidak biasa dari penentuan seks. Jantan haploid - mereka hanya memiliki satu salinan dari setiap kromosom - sementara betina diploid - dua salinan dari setiap kromosom. Hymenoptera Betina terjadi dengan cara yang biasa, dengan sperma dari jantan pemupukan telur betina. Satu set kromosom berasal dari ayah, yang lain dari ibu, menghasilkan seorang putri diploid.
memiliki seorang induk tapi ayah. jantan berkembang dari telur tidak dibuahi, membuat mereka haploid. Sebuah hymnopteran betina dapat memiliki anak bahkan jika dia tidak pernah pasangan. Sex penentuan semacam ini - jantan dan betina haploid diploid - disebut haplodiploidy. Beberapa jenis hewan lain memiliki jenis yang sama dari metode penentuan seks, tapi yang terbaik adalah belajar di Hymenoptera.
Ketiga faktor dikombinasikan untuk menciptakan kondisi di mana mungkin lebih menguntungkan, evolusi berbicara, untuk betina untuk membantu saudara ibunya produk nya (dengan betina tersebut) selain untuk menghasilkan anak betina sendiri. Jadi haplodiploidy membuka jalan bagi evolusi dari kasta pekerja, ditujukan untuk membantu induk mereka. Jika pekerja berkembang di bawah kondisi ini, maka kita harapkan:
  • Bahwa semua pekerja akan betina (jantan tidak memiliki pola khusus dari keterkaitan dalam sistem haplodiploid yang akan membuat menguntungkan bekerja untuk mereka
  • Bahwa pekerja akan membantu ibu mereka untuk meletakkan dan betina belakang, namun
  • Bahwa para pekerja akan lebih memilih untuk meletakkan anak jantan mereka sendiri, ketimbang saudara belakang
  • Bahkan, pekerja Hymenoptera seragam betina dan konflik antara ratu dan pekerja mengenai siapa yang meletakkan telur jantan dalam sarang umum. Peran haplodiploidy dalam evolusi cocok pekerja Hymenoptera menjadi teori keseluruhan bagaimana kemiripan genetik mempengaruhi perilaku sosial yang disebut seleksi keluarga yang dikembangkan oleh WD Hamilton.dikenal infraorder kelompok Hymenoptera herbivora dan karnivora yang eksklusif

F. Pengendalian Rasio Seks Fakultatif

Kemampuan betina dalam garis keturunan arrhenotokous untuk menentukan jenis kelamin anak mereka memiliki implikasi ekologi dan evolusi penting bagi kedua parasitica dan sosial Aculeata, dan dapat bertindak sebagai tekanan selektif untuk bentuk-bentuk tertentu dari penentuan seks. Alokasi sex fakultatif memungkinkan tawon parasitoid untuk menyesuaikan anak-anak mereka dengan kualitas tuan rumah mereka diberikan. Lebah sosial, tawon, dan semut dapat memodifikasi rasio seks dalam koloni untuk memaksimalkan keterkaitan antara anggota, dan untuk menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kondisi sekitarnya.

Dalam beberapa tawon parasitoid yang memangsa host difus didistribusikan dan biasanya sejenis atau sebangsa, situasi yang dikenal sebagai kompetisi lokal pasangan mungkin rasio jenis kelamin condong (Hardy, 1994). Telur Banyak berbaring oleh satu atau beberapa betina pada satu host. Kadang-kadang orang dewasa hanya kawin segera setelah munculnya dengan jantan muncul dari host yang sama. Ibu dapat menghasilkan lebih banyak betina di bawah kondisi ini, menghasilkan jumlah yang cukup hanya jantan untuk membuahi betina. Rasio jenis kelamin miring menghasilkan jumlah terbesar dari anak mampu melewati gen mereka kepada generasi mendatang (Godfray, 1994).

Rasio jenis kelamin juga dapat disesuaikan untuk mengendalikan kualitas dari host (Hardy, 1994; Godfrey, 1994). Pria kurang terpengaruh dengan menjadi kekurangan gizi, karena mereka segera mati setelah kawin. Wanita, di sisi lain, membutuhkan makanan lebih banyak untuk memproduksi telur yang layak. Akibatnya, hal ini menguntungkan untuk memberikan betina host kualitas yang lebih tinggi sebagai makanan larva. Dalam spesies yang terletak satu telur per host, betina dapat diberikan host besar. Dalam spesies dengan telur beberapa pada host, ini dapat dilakukan dengan meningkatkan betina rasio jantan dengan meningkatnya ukuran tuan rumah. Kontrol seperti rasio seks, selain menjadi umum di parasitica, juga telah ditunjukkan dalam Symphyta herbivora (Craig, et al, 1992.). Adalah penting bahwa sistem penentuan seks tidak menjadi lokus penentuan seks tunggal (yang akan dibahas di bawah) dalam spesies: jantan diploid subur teratur akan diproduksi karena homozigositas meningkat.

kontrol rasio jenis kelamin memungkinkan untuk kelebihan pekerja betina, dan produksi terbatas jantan reproduksi (dan wanita, seperti yang kita akan membahas secara singkat di bawah). Karena kontrol atas rasio jenis kelamin, jantan hanya diproduksi ketika kawin terjadi, sementara pekerja diproduksi sepanjang tahun. Dalam spesies eusocial (spesies yang sepanjang tahun sosial), kontrol rasio jenis kelamin tidak ditentukan sepenuhnya oleh ratu, tetapi dapat diubah oleh para pekerja. Model Hamilton kebugaran inklusif (1964), saudara penuh share 3/4 dari genom mereka dengan saudara mereka, tapi hanya 1/2 dengan ibu mereka dan 1/4 dengan saudara-saudara mereka. Sang ibu, di sisi lain, saham 1/2 dari genom dengan kedua putra dan putri. Akibatnya, ada konflik antara pekerja dan ratu atas produksi yang diinginkan dari setiap jenis kelamin (terakhir di Crozier dan Pamilo, 1996).

Meskipun konflik alokasi seks, keterkaitan diferensial saudara diduga salah satu faktor yang membuat sosialitas luas di kalangan Hymenoptera (Crozier dan Pamilo, 1996). Model Hamilton (1964) memprediksi bahwa individu hanya akan mengorbankan reproduksi ketika mereka bisa mendapatkan lebih banyak dari gen mereka ke generasi berikut dengan membantu seorang kerabat mereproduksi. Upaya suster yang bekerja sama untuk membantu ibu mereka atau saudara betina mereproduksi dapat menghasilkan keturunan lebih dari upaya soliter mereka. Hamilton berpendapat bahwa pekerja Hymenopteran secara eksklusif betina karena keterkaitan mereka yang lebih besar meningkatkan minat mereka dalam relatif keberhasilan reproduksi saudara betina mereka 'kurang-terkait mereka bersaudara.

Kontrol atas rasio seks memungkinkan beberapa spesies, khususnya lebah halcitine, menjadi fakultatif sosial. Spesies ini tidak eusocial: untuk bagian tahun, koloni terdiri dari individu soliter tunggal (Michener, 1974). Namun, untuk sisa tahun ini, betina terkait tetap di sarang satu sama lain dan membagi kerja di antara mereka sendiri. Termasuk dalam pembagian kerja adalah sebuah divisi dari aktivitas reproduksi, dengan satu, atau beberapa, individu menghasilkan semua keturunannya. Di daerah beriklim sedang, Hymenoptera hanya memiliki waktu yang cukup untuk menghasilkan pekerja dan individu reproduksi jika musim cukup panjang. Jika rasio seks di bawah kendali mereka, mereka dapat menyesuaikan rasio jenis kelamin anak mereka untuk menghasilkan struktur sosial untuk menyesuaikan iklim (Packer, et al, 1989;... Eickwort, et al, 1996). Di tempat-tempat yang ekstrim, seperti lintang tinggi atau elevasi, mereka dapat melakukan jauh dengan pekerja, dan menjadi soliter (Packer, di al 1989,... Eickwort, et al, 1996). Di tempat-tempat yang kurang melarang mereka dapat menghasilkan pekerja, yang memungkinkan untuk produksi keturunan reproduksi lebih. Debat tetap apakah kemampuan ini disebabkan plastisitas perkembangan atau evolusi, tapi bukti saat ini menunjukkan itu adalah karena plastisitas perkembangan (Eickwort, 1996).

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Nurul Ashikin dan Rosli Hashim. 2010. An Inventory of Ants (Hymenoptera: Formicidae) at Melawi Sandy Beach Bachok, Kelantan.. Malaysian Journal of Science 29 (Special Issue): 67- 72

Ken R. Helms, Jennifer H. Fewell & Steven W. Rissing. 2000. Sex Ratio Determination By Queens And Workers In The Ant Pheidole desertorum Animal Behaviour, 2000, 59, 523–527

Ardi, Rio, 2009. http://rioardi.wordpress.com/2009/04/16/semut-ajaib-bereproduksi-tanpa-seks/ diakses pada tanggal 29 oktober 2012
yoda, cristi. 2011. http://christiyoda.blogspot.com/2011/03/evolusi-semut.html diakses pada tanggal 29 oktober 2012
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16705320 diakses pada tanggal 29 oktober 2012
http://www.animalbehavioronline.com/haplodiploidy.html diakses pada tanggal 29 oktober 2012

Makalah Penilaian Kinerja Guru

Pengertian Penilaian Kinerja Guru 

Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, penilaian kinerja guru adalah penilaian yang dilakukan terhadap setiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya. Guru sebagai pendidik profesional mempunyai tugas utama yaitu mendidik,mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam penguasaan dan penerapan kompetensinya, seperti yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, khususnya pada penguasaan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. 

Penguasaan dan penerapan kompetensi tersebut sangat menentukan tercapainya kualitas proses pembelajaran, pembimbingan peserta didik, dan pelaksanaan tugas tambahan yang relevan yang sesuai dengan fungsi sekolah/madrasah. Untuk itu memastikan apakah guru melaksanakan tugasnya secara profesional maka perlu dikembangkan sistem penilaian kinerja guru. 

Sistem penilaian kinerja guru adalah sebuah sistem penilaian kinerja berbasis bukti (evidence-based appraisal) yang didesain untuk mengevaluasi tingkatan kinerja guru secara individu dalam melaksanakan tugas utamanya sebagai guru profesional. Penilaian kinerja guru diharapkan berimplikasi positif terhadap perbaikan dan peningkatan profesionalisme guru, juga harus berdampak pada peningkatan prestasi peserta didik. Sistem ini merupakan bentuk penilaian yang sangat penting untuk mengukur kinerja guru dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai bentuk akuntabilitas sekolah. Pada dasarnya sistem penilaian kinerja guru bertujuan: 
  1. menentukan tingkat kompetensi seorang guru; 
  2. meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja guru dan sekolah; 
  3. menyajikan suatu landasan untuk pengambilan keputusan dalam mekanisme penetapan efektif atau kurang efektifnya kinerja guru; 
  4.  menyediakan landasan untuk program pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru; 
  5. menjamin bahwa guru melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya serta mempertahankan sikap-sikap yang positif dalam mendukung pembelajaran peserta didik untuk mencapai prestasinya; 
  6. menyediakan dasar dalam sistem peningkatan promosi dan karir guru serta bentuk penghargaan lainnya. 

Dalam konteks Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya., penilaian kinerja guru memiliki dua fungsi utama, yaitu untuk: 

1. menilai unjuk kerja (kinerja) guru dalam menerapkan semua kompetensi yang diwujudkan dalam pelaksanaan tugas utamanya pada proses pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Dengan demikian, hasil penilaian kinerja menjadi profil kinerja guru yang dapat memberikan gambaran kekuatan dan kelemahan guru. Profil kinerja guru juga dapat dimaknai sebagai suatu analisis kebutuhan atau audit keterampilan untuk setiap guru yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru.

2. menghitung angka kredit yang diperoleh guru atas kinerja pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah pada tahun penilaian kinerja guru dilaksanakan. Kegiatan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari proses pengembangan karir dan promosi guru untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsionalnya. 

Hasil penilaian kinerja guru diharapkan dapat bermanfaat untuk menentukan berbagai kebijakan yang terkait dengan peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan dalam menciptakan insan yang cerdas, komprehensif, dan berdaya saing tinggi. Penilaian kinerja guru merupakan acuan bagi sekolah/madrasah untuk menetapkan pengembangan karir dan promosi guru. Bagi guru, penilaian kinerja guru merupakan pedoman untuk mengetahui unsur-unsur kinerja yang dinilai dan sebagai sarana untuk mengkaji kekuatan dan kelemahan individu dalam rangka memperbaiki kualitas kinerjanya. Penilaian mempunyai banyak manfaat karena dapat dipergunakan sebagai alat dalam pengambilan keputusan. Adapun secara terperinci manfaat penilain kinerja adalah sebagai berikut:
  1. Penyesuaian-penyesuaian kompensasi
  2. Perbaikan kinerja
  3. Kebutuhan latihan dan pengembangan
  4. Pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi, pemecatan, pemberhentian dan perencanaan tenaga kerja
  5. Untuk kepentingan penelitian kepegawaian
  6. Membantu diagnosis terhadap kesalahan desain pegawai

Informasi penilaian kinerja tersebut oleh pimpinan, dalam hal ini kepala madrasah dapat dipakai dalam mengelola kinerja pegawai/guru, dan dapat mengungkapkan kelemahan kinerja pegawai/guru, sehingga kepala madarasah dapat menentukan tujuan maupun target yang harus diperbaiki.

Depdiknas (2000) menyebutkan beberapa manfaat dari adanya penilaian antara lain: a). Pengembangan staf melalui in-service training, b). Pengembangan karier melalui in-service training, c). Hubungan yang semakin baik antara staf dan pemimpin, d). Pengetahuan lebih mendalam tentang sekolah dan pribadi, e). Hubungan produktif antara penilaian dengan perencanaan dengan pengembangan sekolah, f). Kesempatan belajar yang lebih baik bagi siswa, g). Peningkatan moral dan efisiensi sekolah.Setiap penilaian kinerja guru harus memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang ingin dicapai. Robbins mengemukakan tujuan yang ingin dicapai dari penilaian kinerja antara lain:
Manajemen menggunakan penilaian untuk mengambil keputusan personalia, penilaian ini memberikan informasi yang berhubungan dengan promosi, transfer ataupun pemberhentian.
  1. Penilaian memberikan tentang pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan
  2. Penilaian dapat dijadikan sebagai kriteria untuk program seleksi dan pengembangan
  3. Penilaian kinerja untuk memenuhi umpan balik terhadap para pekerja.

Senada dengan pendapat di atas, Rivai mengungkapkan tujuan penilaian kinerja karyawan adalah: a). Untuk mengetahui tingkat prestasi karyawan, b). Pemberian imbalan yang serasi, c). Mendorong pertanggungjawaban dari karyawan, d). Meningkatkan motivasi kerja, e). Meningkatkan etos kerja, f). Memperkuat hubungan antara karyawan dan supervisor melalui diskusi kemajuan kerja mereka, g). Sebagai alat untuk memperoleh umpan balik dari karyawan untuk memperbaiki desain pekerjaan, lingkungan kerja, h). Riset seleksi sebagai kriteria keberhasilan, i). Sebagai alat untuk menjaga tingkat kinerja, j). Untuk mengembangkan dan menetapkan kompensasi pekerjan, dan k). Pemutus hubungan kerja, pemberian sanksi ataupun hadiah.

Depdiknas (2000) menyebutkan bahwa tujuan penilaian kinerja adalah membantu dalam (a) pengembangan profesi dan karier guru, (b) pengambilan kebijaksanaan per sekolah, (c) cara meningkatkan kinerja guru, (d) penugasan yang lebih sesuai dengan karier guru, (e) mengidentifikasi potensi guru untuk program in-service training, (f) jasa bimbingan dan penyuluhan terhadap kinerja guru yang mempunyai masalah kinerja, (g) penyempurnaan manajemen sekolah, (h) penyediaan informasi untuk sekolah serta penugasan-penugasan.

Syarat Sistem Penilaian Kinerja

Untuk memperoleh hasil penilaian yang benar dan tepat, Penilaian kinerja guru harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Valid

Sistem penilaian kinerja guru dikatakan valid bila aspek yang dinilai benar-benar mengukur komponen-komponen tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran, pembimbingan, dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.

2. Reliabel

Sistem  penilaian kinerja  guru dikatakan reliabel atau mempunyai tingkat kepercayaan tinggi bila proses yang dilakukan memberikan hasil yang sama untuk seorang guru yang dinilai kinerjanya oleh siapapun dan kapan pun.

3. Praktis

Sistem penilaian kinerja  guru dikatakan praktis bila dapat dilakukan oleh siapapun dengan relatif mudah, dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang sama dalam semua kondisi tanpa memerlukan persyaratan tambahan.

Prinsip Pelaksanaan Penilaian kinerja guru

Agar hasil pelaksanaan dan penilaian kinerja  guru  dapat dipertanggungjawabkan, penilaian kinerja guru harus memenuhi prinsip-prinsip  sebagai berikut:

a. Berdasarkan ketentuan

 Penilaian kinerja  guru harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan mengacu pada peraturan yang berlaku.

b. Berdasarkan kinerja

Aspek yang dinilai dalam  penilaian kinerja  guru adalah kinerja yang dapat diamati dan dipantau sesuai dengan tugas guru sehari-hari dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, pembimbingan, dan/atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.

c. Berlandaskan dokumen 

Penilai, guru yang dinilai, dan unsur lain yang terlibat dalam proses  penilaian kinerja  guru harus memahami semua dokumen yang terkait dengan sistem  penilaian  kinerja guru, terutama yang berkaitan dengan pernyataan kompetensi dan indikator kinerjanya secara utuh, sehingga  penilai, guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses penilaian kinerja guru mengetahui dan memahami tentang aspek yang dinilai serta dasar dan kriteria yang digunakan dalam penilaian.

d. Dilaksanakan secara konsisten

Penilaian kinerja  guru dilaksanakan secara teratur setiap tahun yang diawali dengan evaluasi diri, dengan memperhatikan hal-hal berikut.
1) Obyektif
Penilaian kinerja guru dilaksanakan secara obyektif sesuai dengan kondisi nyata guru dalam melaksanakan tugas sehari hari.
2) Adil
Penilai kinerja guru memberlakukan syarat, ketentuan, dan prosedur standar kepada semua guru yang dinilai.
3) Akuntabel
Hasil pelaksanaan penilaian kinerja guru dapat dipertanggungjawabkan.
4) Bermanfaat
Penilaian kinerja guru bermanfaat bagi guru dalam rangka peningkatan kualitas kinerjanya secara berkelanjutan, dan sekaligus pengembangan karir profesinya.
5) Transparan
Proses penilaian kinerja guru memungkinkan bagi penilai, guru yang dinilai, dan pihak lain yang berkepentingan, untuk memperoleh akses informasi atas penyelenggaraan penilaian tersebut.
6) Berorientasi pada tujuan
Penilaian berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan.
7) Berorientasi pada proses
Penilaian kinerja guru tidak hanya terfokus pada hasil, tetapi juga perlu memperhatikan proses, yakni bagaimana guru dapat mencapai hasil tersebut.
8) Berkelanjutan
Penilaian penilaian kinerja guru dilaksanakan secara periodik, teratur, dan berlangsung secara terus menerus (ongoing) selama seseorang menjadi guru.
9) Rahasia
Hasil  penilaian kinerja  guru hanya boleh diketahui oleh pihak-pihak terkait yang berkepentingan.

Aspek yang dinilai dalam Penilaian Kinerja Guru

Guru sebagai pendidik profesional  mempunyai  tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Selain tugas utama tersebut, guru juga dimungkinkan memiliki tugas-tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
Penilaian kinerja  guru kelas/mata pelajaran dan guru BK/Konselor dilakukan dengan mengacu kepada dimensi tugas utama guru yang  meliputi kegiatan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi dan menilai termasuk di dalamnya menganalisis hasil penilaian dan melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian. Dimensi tugas utama ini kemudian diturunkan menjadi indikator kinerja yang dapat terukur sebagai bentuk unjuk kerja guru dalam melaksanakan tugas utamanya tersebut akibat dari kompetensi yang dimiliki guru

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru terdapat 4 (empat) kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu, kompetensi pedagogik,kepribadian, sosial, dan profesional dengan  14 (empat belas) subkompetensi sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sedangkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor menjelaskan bahwa seorang guru BK/Konselor juga harus memiliki 4 (empat) kompetensi (pedagogik, keperibadian, sosial, dan profesional) dengan 17 sub-kompetensi.
Pengembangan instrumen penilaian kinerja guru kelas/mata pelajaran dan guru BK/Konseloryang mencakup 3 dimensi tugas utama dengan indikator kinerjanya masing-masing yang dinilai berdasarkan unjuk kerja akibat kompetensi yang dimiliki oleh guru. Untuk masing-masing indikator kinerja dari setiap dimensi tugas utama akan dinilai dengan menggunakan rubrik penilaian yang lebih rinci untuk melihat apakah unjuk kerja dari kepemilikan kompetensi tersebut tergambarkan dalam hasil kajian dokumen perencanaan termasuk dokumen pendukung lainnya dan/atau hasil pengamatan yang dilaksanakan oleh penilai pada saat melakukan pengamatan dalam pembelajaran selama proses penilaian kinerja. Kisi-kisi instrumen yang menggambarkan hubungan antara dimensi tugas utama dan indikator kinerjanya .
Sedangkan penilaian kinerja guru yang terkait dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah,dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:

 1. Tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar tatap muka meliputi 

a) Kepala sekolah/ madrasah,
b) Wakil kepala sekolah /madrasah, 
c) Ketua program keahlian/program studi atau yang sejenisnya, 
d) Kepala perpustakaan; 
e) Kepala laboratorium, bengkel, unit produksi, atau yang sejenisnya. 

2. Tugas tambahan yang tidak mengurangi jam mengajar tatap muka, meliputi 

a) tugas tambahan minimal satu tahun (misalnya menjadi wali kelas, guru pembimbing program induksi, dan sejenisnya)
b) tugas tambahan kurang dari satu tahun (misalnya menjadi pengawas penilaian dan evaluasi pembelajaran, penyusunan kurikulum, dan sejenisnya). 

Penilaian kinerja bagi guru dengan tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar tatap muka dinilai dengan menggunakan instrumen khusus yang dirancang berdasarkan dimensi tugas utama yang dipersyaratkan untuk melaksanakan tugas tambahan tersebut. Sama dengan penilaian kinerja guru pembelajaran maupun pembimbingan, untuk penilaian kinerja tugas tambahan tersebut juga merinci dimensi tugas utama ke dalam indikator kinerja yang dapat dipantau dan/atau diamati. Tugas tambahan lain yang tidak mengurangi jam mengajarguru dihargai langsung dengan pemberian angka kredit sesuai dengan yang tertuang Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya 

Perangkat Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru 

Perangkat yang harus digunakan oleh penilai untuk melaksanakan penilaian kinerja guru agar memperoleh hasil penilaian yang objektif, akurat, tepat, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan adalah: 

a) Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru Pedoman pelaksanaan penilaian kinerja guru mengatur tentang tata cara penilaian dan ketentuan yang harus digunakan oleh penilai, guru yang dinilai, serta unsur lain yang terlibat dalam proses penilaian. 

b) Instrumen penilaian kinerja Jenis instrumen penilaian kinerja guru merupakan paket instrumen yang dilengkapi dengan rubrik penilaian untuk masing-masing indikator kinerja dari setiap tugas utama guru : 
  • Instrumen penilaian kinerja pelaksanaan pembelajaran untuk guru kelas/mata pelajaran (Lampiran 1) 
  • Instrumen penilaian kinerja pelaksanaan pembimbingan untuk guru BK/Konselor (Lampiran 2) 
  • Instrumen penilaian silabus (Lampiran 3)
c) Instrumen penilaian kinerja guru dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah dikembangkan secara khusus oleh Pusbang Tendik, Badan PSDMPK dan PMP.

Referensi :
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. 
Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. 
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional. 
Peraturan Bersama Mendiknas, Menneg PAN dan RB, Mendagri, Menkeu, dan Menag tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil, tanggal 3 Oktober 2011 
Peoduk hukum yang berkaitan dengan Penilaian Kinerja, Pengembangan Keprofesian Guru Berkelanjutan, Sertifikasi Guru, dan Uji Kompetensi Guru 
Sudarwan Danim, Profesionalisasi dan Kode Etik Guru, Bandung, Alfabeta, Bandung, 2010 
Sudarwan Danim, Pengembangan Profesi Guru: Dari Induksi ke Profesional Madani, Media Perhalindo, Jakarta, 2011. 
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 

Vollmer dan Mills, Professionalization, Jossey Bass, New York, 1982